Jumat, 04 Mei 2012

keberadaan koperasi dan KUD di desa yg berkaitan dengan pertanian. pilihan bidang analisisnya: pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan.



keberadaan koperasi dan KUD di desa yg berkaitan dengan pertanian. pilihan bidang analisisnya: pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan.


ujon adalah sebuah wilayah dingin yang dikelilingi gunung dan bukit
dengan suhu rata-rata 19-26 derajat celcius dan curah hujan 2.310
mm per tahun Sebelum dan sampai dengan tahun 1962 wilayah yang
sangat bagus untuk lahan pertanian ini belum dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat untuk memproduksi komoditi pertanian seperti sayur-sayuran
ataupun hasil-hasil bumi yang lain.
Hal ini disebabkan karena petani tidak mampu membiayai proses
produksi, sehingga jatuh pada kontraktor-kontraktor maupun penyewapenyewa tanah bermodal kuat yang berasal dari luar wilayah Pujon.
Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang mampu mengelola lahan
yang dimiliki, sehingga banyak yang terpaksa menjadi buruh tani. Karena
pendapatan sebagai buruh tani tidak mencukupi kebutuhan hidup seharihari, maka masyarakat yang tinggal di ketinggian 1.100 m dari permukaan
air laut ini, mulai merambah lingkungannya.
Pohon-pohon lebat yang seharusnya dilestarikan ditebang. Kayunya
dijual dan sebagian dijadikan arang. Akibatnya, lingkungan hutan di
seputar wilayah Pujon rusak berat. Saat itu pemerintah daerah setempat
(Muspika) berusaha memberikan penerangan pentingnya pelestarian lingkungan, namun himbauan tersebut tidak dihiraukan. Akhirnya Muspika
terpaksa turun tangan menangkap para penebang liar.
KEBANGKITAN PETERNAK
Selain bekerja sebagai buruh tani dan penebang liar, sebagian kecil
warga masyarakat Pujon ada yang berusaha mencukupi beban hidup
sebagai peternak sapi perah. Usaha beternak sapi perah sebagai mata
pencaharian di Pujon sebenarnya sudah berlangsung pada abad pertengahan ke 19 dengan adanya dua buah stal (milkcray).
Stal adalah usaha beternak sapi perah yang diambil air susunya untuk
dijual. Sedangkan stal itu sendiri sebenarnya tempat untuk memelihara sapi.
Dua buah stal yang ada di Pujon salah satunya milik Mr. Pochert dan lainnya
milik Mr.Swarthuten, keduanya bangsa Belanda. Mereka menjalankan
bisnis dengan memperkerjakan penduduk Pujon dengan system upah.
Pengurus dan pengawas
berpose usai RAT.
Dokumentasi257
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
B u r u h - bu r u h  Mr.   P o c h e r t   d a n  Mr. Sw a r t h u t e n   b e k e r j a   s e b a g a i
pengembala sapi perah, membersihkan dan menjaga kandang serta ternak,
memerah, dan sebagai  voorloper (mengantar susu ke pelanggan/pemasaran). Sekitar tahun 1942 Mr. Pochert dan Mr.Swarthuten meninggalkan
Pujon beserta harta benda termasuk ternaknya karena situasi politik pada
saat itu. Kemudian usaha ternak sapi perahnya dilanjutkan oleh bangsa
Jepang dan sebagian lagi diteruskan warga Pujon sendiri.
Sayangnya usaha ini tidak berkembang. Ketika Jepang meninggalkan Pujon karena situasi politik, selanjutnya usaha beternak sapi perah
sepenuhnya berada di tangan beberapa masyarakat Pujon secara individu.
Dalam memasarkan susu sapi perahnya, para pengusaha sapi perah
terus bersaing. Persaingan mereka menurunkan harga susu guna merebut
pasaran. Akibat persaingan harga menyebabkan beternak sapi justru
membuat mereka rugi dan semakin melarat. Usaha beternak sapi perah
menjadi tidak diminati. Sebenarnya usaha beternak sapi perah saat itu
merupakan potensi yang bisa diandalkan jika ditangani secara terpadu.
Melihat potensi yang ada saat itu, sebenarnya usaha beternak sapi perah
perlu digalang, dibangkitkan dan dikembangkan. Sebab, tidak mungkin
masyarakat Pujon terus menerus sebagai buruh tani atau menjadi buron
karena sebagai penebang liar.
Pemikiran untuk menggali potensi lewat pengembangan peternakan
serta menata pemasaran diprakarsai oleh drh. Memet Adinata, Kepala
Dinas kehewanan Malang Selatan. Beliau mendirikan koperasi sebagai
jalan pemecahan bagi peternak sapi. Maka pada 30 Oktober 1962 sebanyak
23 orang peternak sepakat mendirikan koperasi susu yang diberi nama
Koperasi Susu Sinau Andandani Ekonomi (belajar memperbaiki ekonomi)
di Pujon, dengan populasi ternak 35 ekor dengan jumlah produksi 50
liter per hari.
SEJARAH
Pada awal berdirinya koperasi SAE beranggotakan 23 orang, ternak
sebanyak 35 ekor dengan produksi susu 50 liter per hari dipasarkan ke warung-warung. Pada tahun 1963 Koperasi SAE mendapatkan bantuan pemerintah lewat Direktur Jendral Peternakan berupa sapi impor sebanyak 90 ekor.
Bantuan ini bersifat  penggaduan; yaitu peternak mendapat bagian
berupa anak sapi yang menjadi hak karena memelihara sapi induk. Dengan
bantuan tersebut dalam tempo lima tahun anggota koperasi SAE berkembang jadi 150 orang pada tahun 1967 dan berstatus badan hukum
No. 2789/II/12-1967 pada tanggal 16 Agustus 1968. Selama tahun 1968-
1970 Koperasi SAE mengalami kemunduran yang mengancam pada suatu
kegagalan total.
Jumlah anggota pada tahun 1970 menyusut menjadi 34 orang yang
semula berjumlah 150 orang. Sapi-sapi perah milik anggota banyak yang
dijual dan hasil penjualan dipergunakan untuk usaha lain. Demikian juga
dengan produksi susu Koperasi SAE hanya menampung sekitar 200 liter
sehari dari 2.000 liter per hari. Anggota Koperasi SAE banyak yang keluar
karena disebabkan kurang cakap dan kreativitas pengurus, dalam hal ini258
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
manajemen pengelolaan koperasi. Pola manajemen yang dijalankan
pengurus sangat tidak mencerminkan manajemen usaha Koperasi SAE.
Di samping itu ada unsur-unsur politik yang masuk ke dalam organisasi
Koperasi, sehingga gerak langkah koperasi tidak membawa aspirasi dari
seluruh anggota melainkan aspirasi golongan tertentu.
Analisis lain menyebutkan, kehancuran Koperasi SAE disebabkan
pengurus menjadikan koperasi ini sebagai ladang mengeruk keuntungan
p r i b a d i .   P e r k e m b a n g a n   s i t u a s i   e k o n o m i   p e m e r i n t a h   j u g a   t i d a k
memungkinkan program yang memperhatikan perkembangan koperasi
berjalan baik. Sebagai titik terendah keadaan Koperasi SAE pada usianya
yang ke 8 tahun (1962-1970) mempunyai utang kepada anggota akibat
dari kegagalan pengelolaan koperasi sebesar Rp 809.500, sementara
piutang tidak ada sama sekali.
Pada 23 Mei 1970 sekalipun pengurus periode II (1968-1971) belum
habis masa jabatan, terpaksa direformasi melalui rapat anggota. Atas keputusan rapat anggota tersebut ditunjuk Kalam Tirtorahardjo sebagai ketua
Koperasi SAE dengan anggota pengurus enam orang. Selanjutnya ketua
pengurus mengajukan pendapat kepada Kepala Kantor Koperasi Kabupaten Malang yang didukung oleh camat, Dansekpol dan Danramil.
MANAJEMEN PROFESIONAL
Koperasi SAE berusaha mengembalikan kepercayaan anggota dan
masyarakat umum. Caranya, dimulai dengan langkah-langkah pembinaan
dan mengadakan berbagai pembenahan baik organisasi maupun manajemen serta pengembangan usaha yang lebih efektif, intensif dan terpadu.
Selang waktu 3 tahun (1970-1973) Koperasi SAE telah menunjukkan
keberhasilannya dengan berhasil melunasi semua utang pada anggota.
Keberhasilan ini juga menunjukkan peran pemerintah yang terus-menerus
memberikan pengarahan serta pembinaan di bidang organisasi maupun
bidang lainnya.
Keberhasilan yang telah dicapai oleh pengurus pada periode III (1970-
1973) menyebabkan mereka dipilih kembali pada periode IV (1974-1977).
Forum RAT salah satu sarana
anggota menyampaikan usul
dan saran.
Dokumentasi259
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Berdasarkan misi koperasi yaitu harus dapat menyejahterakan anggota,
maka Koperasi SAE bersama pemerintah melalui Dinas Peternakan mulai
membenahi managemen beternak sapi perah pada anggota, baik mengenai
perkandangan, pakan, genetik dan sebagainya sampai cara penanganan
pasca panen. Sedangkan pemasaran susu produk Koperasi SAE masih
berkisar di lingkungan Pujon, Batu dan Kodya Malang.
Pada pertengahan 1974 timbul masalah baru yaitu produksi susu meningkat dengan pemasaran yang kurang memadai. Saat itu produksi susu
mencapai 2000 liter per hari sedang yang dapat dipasarkan 1500-1600
liter per hari. Sisanya 500 liter diberikan kepada anak sekolah (Sekolah
Dasar), masyarakat yang mau dan selebihnya dibuang karena telah rusak.
Pembuangan susu terpaksa dilakukan karena pada saat itu Koperasi
SAE belum mempunyai peralatan yang dapat menyelamatkan susu. Bulan
Januari 1975 pengurus menawarkan produk susu anggotanya ke PT Nestle
di Surabaya dan sebulan berikutnya pihak PT Nestle dengan diwakili Soeseno dan Mister Enggal mengadakan penjajakan. Mulai 1 Mei 1975, PT
Nestle mau menerima dan membeli produksi susu Koperasi SAE dengan
pengiriman perdana sebanyak 160 liter perhari dengan harga Rp 90.
Pada tahun 1977 anggota Koperasi SAE mencapai 416 orang dengan
populasi ternak 1.664 ekor, produksi susu 1.233.908 liter. Perkembangan
modal mencapai Rp 367.900, simpanan pokok dan simpanan wajibnya
mencapai Rp 988.191 serta volume permodalan meliputi Rp 88.120.370
untuk penerimaan dan pengeluaran sebesar Rp 74.094.510.
Memasuki tahun 1977 Koperasi SAE mampu menyetor susu ke PT
Nestle bervolume 3.000 kg per hari. Tetapi harga susu mengalami
penurunan dari Rp 90 per kg menjadi Rp 62 per kg. Dengan harga
tersebut, perjalanan perkembangan Koperasi SAE kembali tersendat.
Masalah harga baru yang ditetapkan PT FSI tidak mencukupi pengeluaran
yang harus ditanggung anggota.
Keguncangan yang mengancam Koperasi SAE saat itu didengar oleh
Menteri Muda Urusan Koperasi Bustanil Arifin. Pada pada 12 Juni 1978,
ia berkunjung ke Koperasi SAE dan berdialog dengan pengurus dan
anggota koperasi. Hasilnya, Koperasi SAE akan dibantu modal untuk
penyelesaian pembangunan gedung perkantoran sebesar Rp 10.000.000.
Namun pihak Koperasi SAE lebih memilih agar pemerintah turun
tangan untuk ikut menangani pemasaran dan harga susu koperasi. Dari
informasi yang dikemukakan oleh pihak Koperasi SAE, disimpulkan
bahwa koperasi susu di Indonesia perlu membentuk organisasi untuk
menyatupadukan gerak koperasi susu. Sedangkan masalah pemasaran
susu ke PT Nestle akan segera dipecahkan di Jakarta dengan mengimbau
para pimpinan Industri Pengolah Susu (IPS) bersama industri yang terkait
dengan persusuan.
 ALIANSI STRATEGIS
Pada 22 Mei 1979, Bustanil Arifin mengirim utusan ke India untuk
mempelajari koperasi persusuan di sana. Kemudian dibentuk tim Teknis
Peneliti dan Pengembangan Koperasi Susu Indonesia untuk menganalisis260
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
tiap-tiap industri pengolahan susu, pembelian susu import dan penjualan
susu hasil IPS, serta menelaah izin-izin usaha yang ternyata pada umumnya
mereka berjanji untuk menerima susu segar produksi dalam negeri.
Pada 19-21 Juli 1978 di Pusat Koperasi Jakarta diadakan Temu Karya
Koperasi Susu ke I yang dihadiri 14 koperasi susu terbesar di seluruh
Indonesia. Pertemuan itu bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan
pemecahannya serta membuat program kerja. Selanjutnya pada 29-31
Maret 1979 diadakan Temu Karya ke II untuk mengevaluasi kerja sama
dengan IPS dan membuat rencana kerja lebih mantap dalam organisasi
koperasi, peningkatan produksi susu, juga dilakukan penyesuaian wadah
koperasi susu dari Badan Koordinasi koperasi Susu Indonesia (BKKSI)
menjadi Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).
Tugas pertama GKSI adalah mengusulkan kepada Menteri Muda
Urus an kope r a s i   supaya  meninj au kemba l i  ha rga   susu yang  t e l ah
ditetapkan IPS. Dan akhirnya harga susu disepakati menjadi Rp  165 per
kg dengan standart fat 3,0% mulai tahun 1980.
Koperasi SAE pada program I tahun 1979-1982 mendapat kredit
Krekop sebanyak 700 ekor. Sedangkan kredit program USP di tahun
yang sama mendapat 630 ekor dan bantuan presiden 130 ekor, semua
sapi tersebut berasal dari Newzeland dengan jenis sapi Fresent Holtand
(FH) .  Pada  1988 ya i tu progr am Kr edi t  kope r a s i ,   t ahun 1987-1989
Koperasi SAE mendapat kredit sebanyak 216 ekor sapi yang berasal dari
Ame r ika  Se r ika t .   Juml ah  s api  ba ru yang  impor   s e j ak  t ahun 1978-
pertengahan 1988 sebanyak 1676 ekor sapi kredit.
PERKUATAN SDM
Pada 1979 pengurus Koperasi SAE dikirim ke luar negeri untuk mendalami manajemen beternak sapi perah secara modern, dan belajar managemen perkoperasian. Dalam waktu relatif pendek ilmu yang telah
didapat ditularkan kepada peternak sapi perah di Pujon. Hasilnya, produksi
rata-rata susu Pujon menjadi 10-12 liter per ekor per hari. Tahun 1979,
jumlah populasi ternak yang bergabung dengan Koperasi SAE ada 3592
Sapi perah merupakan
aset anggota koperasi.
Dokumentasi261
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
ekor. Produksinya sekitar 2.605.914 liter
dengan jumlah peternak 820 orang. Setahun
kemudian populasi membengkak jadi 5.556
ekor, produksi susu 3.305.688 liter dengan
jumlah peternak tetap.
Dalam tempo sepuluh tahun yaitu pad a   t a h u n   1 9 9 0 ,   t e r j a d i   p e r k e m b a n g a n
drastis, jumlah anggota koperasi mencapai
3.601 orang dengan populasi ternak 16.774
ekor dan produksi susu 20.371.512,5 liter.
Tahun 2005 jumlah sapi mencapai 21.069
ekor dengan jumlah anggota 7.243 orang. Jumlah simpanan sukarela
anggota koperasi juga meningkat dari Rp 214.417.353 tahun 2001
menjadi Rp 2.046.800.184 pada tahun 2005.
Tercatat pada awal tahun 2005 warga masyarakat yang bekerja sebagai
peternak sapi perah anggota Koperasi SAE Pujon sebanyak kurang lebih
7.243 kepala keluarga (kk). Setiap keluarga di Pujon, rata-rata terdiri dari
5 jiwa. Kalau sekitar 7.243 kk bekerja sebagai peternak sapi perah, berarti
jumlah jiwa yang menggantungkan hidupnya dari ternak sapi perah sekitar
36.215 jiwa. Kalau dihitung setiap kk mempunyai pekerjaan, maka
angkatan kerja di Pujon bekerja sebagai peternak sapi perah sangat besar
di 10 desa di Pujon.
Maka tidak mengherankan kalau segenap aktivitas perekonomian
didominasi oleh peredaran hasil dari ternak sapi perah. Sehingga kecamatan
Pujon dikenal sebagai kota susu di Jawa Timur khususnya di wilayah
Kabupaten Malang. Sebutan tersebut ditandai dengan didirikannya
monumen yang melukiskan dua ekor sapi perah dan seorang ibu yang
sedang duduk memerah susu sapi.
Monumen yang terletak di dusun Sebaluh desa Pandesari tersebut,
dapat diartikan bahwa masyarakat kecamatan Pujon bekerja sebagai
peternak sapi perah. Sedangkan kantor SAE Pujon bertempat di jalan
yang strategis, yaitu jalan Brigjen Abdul Manan Wijaya 16 Pujon Malang
Jawa Timur.
MODAL ANGGOTA
 Koperasi SAE Pujon mempunyai komposisi modal sangat besar
dibanding modal luar. Hal ini menunjukkan koperasi ini mampu mengelola
dana yang berasal dari dalam koperasi seperti terlihat pada Tabel 1 diatas.
Sedangkan pada Grafik 1 terlihat perkembangan simpanan sukarela
anggota koperasi yang juga meningkat. Partisipasi anggota koperasi untuk
Tabel 1. Komposisi Modal Koperasi SAE, 2001-2005
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
Modal Luar     4,486,365,057     5,558,186,960     5,423,878,552     7,063,286,649       8,378,823,355
Modal Dalam   13,892,648,884  14,571,108,319  16,982,256,066          18,599,764     20,339,074,506
Grafik 1. Perkembangan Simpanan Sukarela
Tahun
2001 2002 2003 2004 2005
2.500.000.000
2.000.000.000
1.500.000.000
1.000.000.000
500.000.000
0262
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Grafik 3. Perkembangan Kepemilikan Jumlah  Sapi
Tahun
2001 2002 2003 2004 2005
21.500
21.000
20.500
20.000
19.500
19.000
18.500
18.000
Grafik 2. Komposisi Simpanan
Tahun
2001 2002 2003 2004 2005
5.000.000.000
4.000.000.000
3.000.000.000
2.000.000.000
0
1.000.000.000
Simpanan Wajib Simpanan Sukarela Simpanan Pokok
Tahun
2001 2002 2003 2004 2005
7.300
7.200
7.100
7.000
6.900
6.800
6.700
6.600
6.500
6.400
Grafik 4. Komposisi Simpanan
memperkuat dana koperasi terlihat dengan kepercayaan anggota dengan menanamkan uang
dalam bentuk simpanan sukarela. Lebih rinci
perbandingan simpanan wajib, pokok dan
sukarela dapat terlihat pada Grafik 2.
Faktor produksi yang merupakan titik
f o k u s   Ko p e r a s i   S A E   P u j o n   y a i t u   s a p i
mengalami peningkatan. Jumlah sapi yang
meningkat menunjukkan kemungkinan produksi susu meningkat pula. Pada tahun 2003
jumlah sapi meningkat pesat dibanding tahun
sebelumnya, karena mendapat bantuan sapi
perah dari pemerintah seperti terlihat pada
Grafik 3. Selain itu jumlah anggota selalu
meningkat sehingga Koperasi SAE dapat
dikatakan sebagai usaha masyarakat Pujon
seperti terlihat pada Grafik 4.
P e r k emb a n g a n   k o p e r a s i   i n i  me n u n -
jukkan pengelolaan produksi oleh koperasi
dapat dilakukan dengan baik. Usaha tersebut
meme r l u k a n   p e n g o r b a n a n   a n g g o t a ,   p e -
ngurus untuk mempertahankan kekuatan
daya tawar sehingga kesejahteraan Pujon
tetap lestari.
Dan yang paling penting Koperasi SAE
Pujon sebagai koperasi produsen, memiliki
pe r an yang  s t r a t egi s  bahwa  kope r a s i   ini
harus diakui peranannya dalam ikut serta
perbaikan gizi, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.***263
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA BARAT
KUD Trisula Majalengka
263
RESI GUDANG
PERCONTOHAN SISTEM
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Agus Sunyoto264
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
emberian nama sebuah koperasi, bisa terinspirasi dari mana saja. Ambil
contoh, nama Trisula yang tak lain merupakan sebuah rangkaian kata
dari Tertib (T), Rapih (R), Indah (I), Sehat (S), Usaha (U), Lancar
(L), dan Aman. Maksudnya, nama Trisula akhirnya terpakai oleh Koperasi
Unit Desa (KUD) yang berlokasi di Desa Palasah, Kecamatan Palasah,
Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.
Letak koperasi berada di jalur utama Bandung – Cirebon, kira-kira 25
km dari arah Cirebon. Berawal dari sebuah kelompok Tani “Tegal Simpur”
yang berjumlah 42 orang, dengan modal dasar Rp 1.000 per orang. KUD
Trisula yang berdiri sejak tahun 1983 ini, memiliki 27 kelompok usaha tani
yang tergabung dari enam desa. Masing-masing di Desa Palasah, Cisambeng, Majasuka, Buniwangi, Enggalwangi, dan Sindanghaji. Luas lahan
yang dikuasai oleh koperasi atau pemilik lahan anggota sekitar 2.000 hektar
lahan sawah. Sekarang, jumlah anggota koperasi mencapai 2.224 orang,
dengan jumlah aset mencapai Rp 2 miliar.
KUD Trisula memiliki beberapa unit usaha, yaitu Rice Milling Unit
(RMU), Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Unit Perikanan, Peternakan,
Sarana Produksi Pertanian (Saprodi)dan Perseroan Terbatas (PT) Trisula.
Dari unit-unit tersebut, yang terbesar adalah unit pertanian padi di mana
lahannya mencapai 2.000 hektar. Namun sampai saat ini yang bisa difasilitasi
baru 500 hektar.
Keberadaan KUD Trisula menjadi keuntungan tersendiri, dari sisi
penyerapan tenaga kerja. Kini koperasi ini memiliki 150 karyawan tetap,
sedangkan karyawan tidak tetap mencapai 100 orang. Hingga Oktober 2006,
KUD Trisula diketuai oleh H Subani dan sekretaris oleh Toto Sumeto serta
H Ikhsan sebagai ketua pengawas. Menurut penuturan para pengurus, KUD
Trisula saat ini menjadi pilot proyek penerapan Model Resi Gudang yang
kini sedang digodok untuk menjadi Undang-Undang.
POKOK PERSOALAN
Permasalahan yang kerap dihadapi para petani kita, antara lain rendahnya kemampuan modal untuk mengolah lahan pertanian mereka. Menutupi
kekurangan tersebut, para petani tidak jarang harus berhadapan dengan
rentenir demi mendapatkan permodalan. Di sisi lain kenyataan menunjukkan, petani tidak memiliki akses kepada sumber permodalan. Untuk
memperoleh fasilitas kredit, petani menghadapi berbagai hambatan. Sejak
tidak dimilikinya agunan berbentuk fixed asset seperti tanah dan bangunan,
prosedur birokrasi dan administrasi yang berbelit-belit serta kurangnya
pengalaman bank melayani petani di pedesaan.
Selain karena posisi lemah, petani juga dihadapkan kepada beberapa
masalah lain. Terutama tidak mudahnya para petani mengakses ke informasi
pasar. Akibatnya, petani selalu dirugikan saat harus bertransaksi dengan
para pembeli. Mengantisipasi kondisi tersebut, KUD Trisula melakukan
berbagai program pemberdayaan kehidupan mereka melalui 27 kelompok
tani. Program ini meliputi pengadaan irigasi melalui sumur-sumur pantek,
benih pupuk, pestisida sampai peralatan produksi.
Misalnya, seorang petani tidak memiliki biaya untuk membeli pupuk,
maka ia bisa mengajukan pinjaman lunak lewat kelompoknya. Syaratnya,
calon peminjam harus mengajukan proposal kepada Koperasi Simpan
P265
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Pinjam (KSP) Trisula. Setelah disurvei, barulah ditentukan apakah orang
tersebut layak atau tidak mendapatkan kredit. Pengembaliannya bisa tiap
bulan atau ketika panen tiba sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Dengan
demikian, petani tidak perlu pusing karena ada alternatif permodalan yang
mudah.
PROGRAM  TUNDA JUAL
Para petani sering kali menerima kenyataan pahit. Tegasnya, ketika
musim panen datang harga jatuh. Sementara di kala musim paceklik petani
membutuhkan beras. Pengalaman berulang ini, mengilhami KUD Trisula
membuat sebuah ikhtiar untuk mengamankan harga dasar gabah bagi petani.
Salah satunya, membentuk program bernama “Tunda Jual” bagi petani.
KUD Trisula, sampai Oktober 2006 memiliki tiga unit gudang penampungan gabah yang memiliki daya tampung sekitar 250 ton.
Selama ini para petani selalu menyimpan gabahnya di gudang KUD
Trisula, Manfaatnya, jika mereka memiliki keperluan keluarga misalnya, ia
bisa meminjam ke KSP dengan mudah. Mengapa? Karena adanya jaminan
gabah yang disimpan di KUD. Mereka bisa menjualnya ketika harga gabah
menjadi tinggi.
Program rintisan KUD Trisula ini menarik perhatian pemerintah.
Bahkan menjadikannya sebagai pilot proyek pelaksanaan Resi Gudang
yang jadi pembahasan dalam bentuk rancangan undang-undang di bidang
pertanian. Melalui program tersebut, diharapkan harga gabah tidak jatuh.
Keuntungan lainnya, penggilingan padi KUD Trisula tidak kekurangan
gabah karena memiliki stok atau simpanan beras yang cukup banyak. Di
samping itu, keberadaan KUD ini membantu petani untuk mendapatkan
harga gabah yang lebih tinggi.
Khusus bagi KUD Trisula, sejauh ini sudah memiliki pasar sendiri yang
setiap bulan membutuhkan pasokannya. Artinya, pemasaran gabah bukan
lagi masalah. Ambil contoh untuk kebutuhan karyawan saja setiap bulannya
mencapai lima ton. Belum lagi untuk memenuhi jatah Bulog dan karyawan
perusahaan tertentu.
BERDAYAKAN PETANI
Sistim resi gudang pada dasarnya dimaksudkan dapat memberikan solusi
atas masalah-masalah sering yang dihadapi petani. Resi Gudang adalah
suatu tanda bukti atau dokumen yang menyatakan pemilikan sejumlah
k omo d i t i   d e n g a n   k a r a k t e r i s t i k   t e r t e n t u   y a n g   d i k e l o l a   p e r u s a h a a n
pergudangan secara profesional. Sistem ini telah dipraktikkan di beberapa
negara. Salah satunya di Ghana dan terbukti mengalami keberhasilan
terutama untuk meningkatkan produktivitas petani.
Dalam konteks komoditi padi, sistem resi gudang sedang dipraktikkan
di Indonesia walaupun dalam bentuk pilot proyek. Menurut Boy Supanget,
kepala unit Resi Gudang KUD Trisula, keberadaan Resi Gudang ke depan
sangat menjanjikan. Namun dia mensyaratkan, sistem ini akan berhasil jika
ditunjang oleh sistem pemberdayaan petani yang baik pula. Sebab yang
menjadi sasaran sistem ini adalah petani. Di samping komoditi yang akan
disimpan juga harus memiliki kualitas, baik dari sejak benih sampai
pengolahannya.
Setelah UU Resi Gudang di
berlakukan, isi gudang
bisa menjadi agunan.
Agus Sunyoto266
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Yang jelas, banyak manfaat penerapan bagi usaha tani dan para petani.
Pertama, memobilitasi kredit pertanian dengan menciptakan kolateral yang
aman bagi petani, pengolah dan pedagang (resi gudang dapat dijadikan
sebagai agunan bank). Kedua, meningkatkan posisi tawar petani dengan
memberikan pilihan bagi petani untuk menjual produknya pada waktu yang
tepat. Ketiga, memperpanjang masa simpan atau penjualan komoditi yang
dihasilkan petani. Keempat, mewujudkan pasar fisik dan pasar berjangka
yang lebih kompetitif. Kelima, mengurangi peran pemerintah dalam
stabilisasi harga komoditi pertanian. Keenam, mendorong kesadaran para
petani menjaga komoditinya berkualitas (menjamin kualitas barang yang
disimpan sama dengan kualitas yang diterima). Ketujuh, mengurangi biaya
transaksi dengan penjaminan kualitas dan kuantitas. Kedelapan, memberikan kepastian nilai minimum komoditi yang dijadikan agunan.
PERLU SOSIALISASI
Namun demikian, kelancaran operasional sistem resi gudang akan
sangat tergantung pada beberapa hal. Misalnya, keputusan menunda
penjualan gabah akan menarik jika harga jual setelah panen akan meningkat dan dapat menutupi biaya penyimpanan.
Umumnya harga komoditi akan jatuh pada saat panen raya dan harga
akan meningkat setelah musim panen berlalu. Kejadian ini, mungkin saja
tidak terjadi akibat intervensi pemerintah terhadap harga pasar komoditi
tersebut dengan harga subsidi. Ambil contoh kebijakan HPP (harga pembelian pemerintah) atas gabah, OPM (operasi pasar murni) oleh Bulog dan
pembagian beras miskin (Raskin) buat rakyat miskin.
Terkait sistem Resi Gudang, peran pemerintah perlu bergeser dari peran
mempengaruhi harga ke penciptaan kerangka kelembagaan yang dibutuhkan. Tegasnya, pemerintah yang akan menggunakan sistim ini perlu memegang komitmen untuk tidak mengganggu pasar yang bakal berakibat mengacaukan harga pasar. Selain itu, sistem resi gudang juga mensyaratkan kualitas
tertentu. Maksudnya, komoditi atau produk yang dititipkan dapat disimpan
dan dipelihara dengan baik sampai batas waktu tertentu. Konkritnya, kebijakan pembinaan kesesuaian kualitas dan reduksi produk yang dihasilkan petani
sangat penting dilakukan agar petani/produsen dapat mengakses sepenuhnya
ke sistem penyimpanan ini.
Tak kalah penting, kelembagaan pemasaran di tingkat petani perlu diperkuat. Antara lain melalui pembentukan dan penguatan kelompok pemasaran
bersama atau koperasi. Terkait hal ini, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)
yang semula hanya didesain untuk aspek produksi, dapat juga dibina untuk
melakukan aktivitas pemasaran secara kolektif agar petani dapat mengakses
sistem resi ini. Sosialisasi kepada para petani, sangat penting dilakukan untuk
menjamin mereka memahami dan mendukung sistim resi gudang.
Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi keberhasilan sistem resi gudang ini, adalah kepercayaan dan minat dari bank atau asuransi untuk terjun
dalam sistem ini. Di samping itu, sistem ini harus bisa menjamin adanya
keuntungan, baik bagi bank maupun bagi petani. Karena bagaimana pun
pelaksanaan sistem resi gudang akan membutuhkan modal yang besar dan
itu bisa diperoleh melalui bank. Tapi yang pasti, sistem resi gudang merupakan alternatif konkrit untuk meningkatkan penghasilan petani.***267
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA BARAT
Kopontren Al-Ishlah Cirebon
MENSINERGIKAN
POTENSI
Irsyad Muchtar268
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
esantren melahirkan para ustadz, ustadzah atau kiai sudah biasa.
Tapi kalau yang alumninya banyak menjadi pebisnis, barangkali
baru luar biasa. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah, bila
kelak para santrinya terinspirasi menjadi wirausahawan. Sebab, para
pengajarnya juga rata-rata menerjuni dunia yang mendatangkan kemakmuran ini. Tidak lain, dalam pesantren yang beralamat di Jalan Imam
Bonjol Bobos, Dukupuntang, Cirebon, Jawa Barat ini memiliki koperasi
yang lumayan berkembang. Bahkan dibanding koperasi-koperasi di kalangan pesantren, koperasi tersebut termasuk paling maju. Namun, bila
dibandingkan dengan koperasi produksi lain di tanah air masih ratarata.
Tentu, bukan besar atau kecil untuk membandingkan prestasi yang
telah diraih. Sejatinya, ada keunggulan tersendiri dalam pesantren tersebut. Pengelola pesantren mempunyai wawasan maju. Melihat potensi
alam di lingkungan Bobos yang kaya hasil tambang, serta masyarakat
sekitar yang telah lama menjadi pengrajin batu alam. Jumlah pengrajin
yang menggantungkan kehidupan ekonomin kepada batu alam Gunung
Kuda sekitar 700 orang. Pesantren ingin mewadahi mereka dalam usaha
yang legal, bermartabat, pemasaran lancar dan harga menjadi lebih baik.
Wadah yang selaras adalah koperasi. Apalagi para pengasuh maupun pengajar di pesantren itu juga menjadi pelaku usaha yang tergolong sukses.
Hasyim Asy’ari dan Tatang Abdul Fatah yang pada Rapat Anggota
Tahunan (RAT) tahun buku 2005 diangkat menjadi ketua dan sekretaris.
Sedangkan Siti Jaya Rohmah dipercaya menjadi bendahara Kopontren
Al-Ishlah. Sedang, dalam struktur organisasi dalam pesantren posisi
mereka sebagai sesepuh dan pengajar.
Tepatnya, Kopontren yang didirikan pada 1990 dengan ini minimalnya telah berbuat mulia. Selain menghimpun masyarakat dalam koperasi,
juga membantu memasarkan produknya dengan harga tinggi. Sebab, dalam koperasi mereka mendapat pembinaan untuk meningkatkan mutu.
Sehingga hasil produknya memiliki mutu tinggi, disamping batu alam
P
Kantor Kopontren Al-Ishlah,
pusat pengendali
operasional usaha.
Majid Hamidi269
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
dari pegunungan di wilayah Bobos ini pernah menjadi terbaik di Indonesia.
Selain beranggotakan para pengrajin batu alam yang tetap menggunakan alat-alat sederhana dalam proses penambangan di area yang meliputi
tiga desa yaitu desa Bobos, Lengkong dan Cipanas. Koperasi juga menjalin
mitra dengan pabrik pemotongan batu alam yang jumlahnya mencapai
100 pabrik yang tersebar di beberapa desa di wilayah Gunung Kuda.
Pemasaran produk ini selain dipasarkan di dalam negeri juga telah
merambah pangsa luar negeri. Konsumen luar negeri seperti Singapura,
Taiwan, Malaysia, Korea Selatan, Australia, Amerika dan beberapa
negara di Eropa. Spesifik produk yang mereka sukai adalah Sand Stone,
Lime Stone, Rastic Lading dan Handycraft Stone. Sedangkan konsumen
dalam negeri berasal dari Bandung, Batam, Bali, Cirebon, Jakarta,
Lampung, Medan dan Surabaya. Produk yang diminati adalah jenis Batu
Ukir, Ornamen dan Batu Ukur.
Konsumen Jakarta dapat dijumpai di Golf Course Pantai Indah Kapuk,
Bank Indonesia, Gedung PLN Trunojoyo Kebayoran Baru dan Wisma
Tugu Rasuna Said dan Hotel Nusa Dua, Bali Beach Hotel di Bali.
MISI SOSIAL
Sesuai namanya, koperasi ini memang selalu berusaha melakukan
perbaikan terus-menerus. Terutama pada peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dan pemanfaatan secara optimal sumberdaya alam (SDA)
di Bobos dan sekitarnya. Awalnya, Kopontren ini memang bermaksud
untuk mendukung kegiatan pendidikan Kopontren Al-Ishlah. Yakni,
merupakan sebuah lembaga pendidikan yang terdiri atas Madrasah
Ibtida’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah
(MA). Kontribusi yang diterima pesantren untuk menunjang kelancaran
operasional kegiatan pendidikan, selain berasal dari sumbangan santri
atau siswa, juga sebagian Sisa Hasil Usaha Kopontren Al-Ishlah.
Sejak berdiri, Kopontren ini memang fokus pada bisnis inti penambangan batu alam. Ini berkaitan dengan masyarakat di sekitar Gunung
Kuda Palimanan Cirebon yang sebelumnya telah berpencaharian dari
kegiatan penambangan batu alam.  Melalui koperasi ini dihimpun seluruh
keanggotaan yang melakukan penggalian.
Koperasi kemudian melakukan terobosan-terobosan dan mengurus
berbagai perijinan serta kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Untuk
mendapat hak penambangan Galian C, koperasi mengantongi surat ijin
dari Bupati Cirebon yang dapat diperbaharui sekali lima tahun. Berkaitan
dengan lokasi, koperasi memperoleh injin dari Perum Perhutani (Dinas
Kehutanan).
Untuk memperlancar operasional koperasi sebagai badan usaha,
Kopontren ini pun mengurus segala perijinan yang deperlukan. Selain
legalitas yang diberikan oleh Kepala Wilayah Departemen Koperasi sejak
1990, bernomor 113/KDK/ 1017/41/IV-1990 dan diperbaharui sesuai
tuntutan jaman dengan No 9289/BH/PAD/KWK-10/IV/1997. Berturutturut koperasi memiliki NPWP, SIPD, SIUP, TDP, SITU, BAPP dan
K S O .270
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
SUPORT DAN PRESTASI
Demi mendukung pembiayaan para pengrajin dan unit-unit usaha
lain, koperasi membuka unit Swamitra bekerjasama dengan Bank Bukopin. Sejak 2001 unit usaha Batu Alam mengalami reposisi sesuai perkembangan, dinamika dan orientasi bisnis Kopontren menjadi satu unit
tersendiri dan otonom. Setelah unit-unit lain mengalami perkembangan,
maka unit-unit tersebut juga bersifat otonom. Istilahnya, koperasi hanya
berfungsi sebagai  corporate (induk organisasi).
Melihat kinerja Kopontren Al-Ishlah yang sangat positif terhadap
pergerakan ekonomi, mengundang decak kagum pihak luar. Bukti itu
dapat terlihat dari beberapa piagam penghargaan yang pernah diraihnya.
Pada 1997 misalnya, menerima piagam penghargaan, The International
Cooperative and small Enterprise Exhibition, tahun berikutnya mengantongi predikat kopontren terbaik tingkat Jawa Barat, sejak 1993-1999
selalu menjadi koperasi kelas A (sangat baik). Tahun buku 2001 kembali
penghargaan Kementerian Koperasi dan UKM sebagai koperasi berprestasi tingkat nasional.
Khusus untuk USP Swamitra juga meraih penghargaan sebagai unit
USP terbaik II periode 1999-2000 se-wilayah Cirebon – Brebes tahun
berikutnya masuk dalam sepuluh besar (top ten) Swamitra terbaik tingkat
nasional. Piagam penhargaan pembinaan pengusaha ekonomi kecil dan
koperasi (PPELK) PLN kerja sama dengan Bank Bukopin.
KEANGGOTAAN
Anggota kopontren Al-Ishlah tahun buku 2005 berjumlah 341 orang,
pria 85 dan wanita 256. Karakteristik profesi anggota beragam, terdiri
wiraswasta menduduki tempat tertinggi sejumlah 154 orang, kemudian
guru 65 orang, ibu rumah tangga 49 orang, pedagang 30 orang, dokter
satu orang, karyawan swasta 43 orang dan PNS 8 orang.
Grafik keanggotaan sejak 1996 mengalami fluktuatif dari 95 orang,
1997 berjumlah 107 orang, tahun 1998 berjumlah 117 orang, tahun
Unit Swamitra, memperkuat
permodalan anggota.
Irsyad Muchtar271
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Grafik Perkembangan Anggota, 1996-2005
1999 berjumlah 178 orang, tahun 2000 berjumlah 209 orang dan tahun
2001 berjumlah 424 orang, tahun 2002 sebanyak 439 orang, tahun 2003
sebanyak 369 orang, tahun 2004 sebanyak 346 orang dan pada 2005
sebanyak 341 orang. Peningkatan jumlah anggota yang besar terutama
terjadi sejak tahun 1999, yaitu sejak dimulainya operasi penambangan
batu alam dan beroperasinya USP Swamitra. Untuk mengoptimalkan
p e l a y a n a n   k e p a d a   a n g g o t a ,   k o p o n t r e n   s e d i k i t n y a  memp e k e r j a k a n
sebanyak 33 orang (lihat grafik).
MANAJEMEN
Kopontren Al-Ishlah memiliki enam unit usaha, yaitu USP Swamitra,
USP Syariah (BMT), wartel, toko obat, waserda dan unit batu alam.
Prinsip-prinsip manajemen moderen nampak telah diterapkan dengan
baik. Di antaranya dilaksanakannya visi dan misi koperasi baik sebagai
organisasi maupun sebagai perusahaan. Juga menyusun program kerja
dengan kegi a t an-kegi a t an us aha  yang  l ebih  spe s i f ik.  Mengadakan
pembagian kerja dengan mengembangkan unit usaha dan penugasan
personil dengan kontrak, tugas, tujuan serta kegiatan yang jelas. Pengelolaan usaha secara transparan dan akuntabel, di antaranya bercirikan
dengan pembukuan neraca di masing-masing unit usaha secara tertib.
mengembangkan jaringan kerja sama dan kemitraan dengan pihak-pihak
terkait dengan sebaik-baiknya.
I n i l a h   b e b e r a p a   u n i t   u s a h a  Ko p o n t r e n  Al - I s h l a h   y a n g   s e c a r a
p e l a y a n a n   t e l a h   m e n j a n g k a u   k e bu t u h a n   a n g g o t a .   Wa s e r d a ,   U S P
Swamitra, USP Syariah, toko obat dan unit usaha batu alam. Unit
waserda yang didirikan pada 1990 memiliki tujuan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitar pondok pesantren. Omset
unit ini per tahun buku 2005 sebesar Rp 414 juta, wartel dan toko obat
aset Rp 177 juta dengan omset Rp 219 juta. Unit ini demi efisiensi pada
periode 2007 akan disesuaikan dengan perkembangan jaman. Salah
satunya pengembangan unit usaha warung internet (warnet).
USP Syariah yang didirikan pada tahun 2000 dan sasarannya adalah272
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
No Uraian 2002 2003 2004 2005
1. Aset 1.206.733.984 1.169.077.065 1.180.282.529 1.246.060.704
2. Modal Sendiri 641.818.674 795.196.153 806.190.744 810.150.145
3. Modal Pihak Luar 564.915.310 373.880.912 374.091.785 435.910.559
4. Investasi Unit 908.040.820 925.665.820 955.589.269 845.414.895
5. Aktiva Lancar 219.281.514 145.578.345 126.310.160 141.053.909
6. Aktiva Tetap 78.150.650 96.571.900 96.722.100 257.930.900
7. SHU 42.449.047 50.702.058 59.499.807 62.195.031
Tabel Perkembangan Keuangan, 2002-2005
pelaku usaha untuk pengusaha kecil. Jumlah aset pada tahun buku 2005
sebesar Rp 203 juta, plafon pinjaman antara Rp 500 ribu - Rp 3 juta.
USP Swamitra yang dirikan pada 1998 dengan sasaran pengusaha mikro
dan ke c i l  di  wi l ayah ke r j a  Pa l imanan,  Sumbe r  hingga  Ra j aga luhMajalengka. Aset yang dimiliki sekitar Rp 1 miliar dengan plafon kredit
berkisar Rp 2 -50 juta. Usaha penambangan batu alam yang merupakan
usaha pokok dari koperasi dimulai sejak 1990 dengan dengan nilai
investasi lahan kompensasi sebesar Rp 223.680.000 rupiah.
Dari kegiatan usaha selama ini Kopontren Al-Ishlah telah membukukan aset sebesar Rp 1,2 miliar dan mengantongi SHU bersih sebesar
R p   6 2   j u t a   l e b i h .   K e b e r a d a a n   k o p e r a s i   j u g a   t u r u t   m e n u n j a n g
terlaksananya  kelancaran proses belajar mengajar. Semisal pada tahun
buku 2005, koperasi berkontribusi terhadap yayasan sekitar Rp 450
juta.***273
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA TENGAH
KUD Mintorogo Demak
KEBUTUHAN ANGGOTA
MAKSIMALKAN
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Jahoras274
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
K
Supriadi, SH
Manajer KUD Mintorogo
ota Demak dikenal dengan sebutan kota para wali. Di sana berdiri
Mesjid Agung yang amat tersohor, tempat makam Raden Patah, raja
jawa pertama yang memeluk agama Islam. Kedatangan para peziarah
dari penjuru tanah air, membuat kota Demak dikenal cukup luas.
Kalau kita melanjutkan perjalanan dari Demak ke arah utara menuju
kota Kudus terlihat jelas hamparan luas tanah pertanian di sisi kiri-kanan
jalan. Tepat di kilo meter 18, kecamatan Karang Anyar kita akan menemukan salah satu bangunan luas. Itulah pusat kegiatan usaha KUD
M i n t o r o g o   y a n g   t e g a k   b e r d i r i   s e j a k   1 9 8 0   d e n g a n   b a d a n   h u k u m
No BH9413/VI/1980.
Sesuai dengan potensi wilayah, usaha yang dikembangkan koperasi
ini adalah pemasaran hasil pertanian dan sarana produksi pertanian
(saprotan) seperti pupuk dan obat-obatan. Padi dan beras merupakan
komoditi unggulan koperasi ini.
Kegiatan usaha didukung satu unit penggilingan padi race mill unit
(RMU). Program pemerintah berupa penyaluran KUT pada masa itu,
juga menjadi salah satu kegiatan usaha KUD Mintorogo.
Seiring dengan perjalanan waktu, KUD ini mengalami perkembangan. Dengan predikat KUD Mandiri yang diperolehnya tahun 1990,
KUD mengembangkan sayap dengan membuka usaha-usaha baru yang
terkait dengan kepentingan anggotanya yang semakin berkembang.
Sejalan dengan itu, saat ini (2006) KUD Mintorogo telah memiliki beberapa unit usaha seperti unit usaha waserda, unit simpan pinjam (USP)/
perkreditan, penyaluran pupuk dan sarana produksi pertanian (saprotan),
pengadaan pangan, RMU, pembayaran rekening listrik, perbengkelan dan
wartel.
Semua sarana unit usaha yang dibangun itu sebagai wujud komitmen
pengurus koperasi yang selalu ingin melayani kebutuhan anggota secara
maksimal.
MANAJEMEN MODEREN
Organisasi dan manajemen KUD Mintorogo dikelola dengan cukup
baik. Penggunaan tekhnologi moderen sebagai penunjang aktivitas usaha
berupa sistem informasi komputerisasi (SIK) merupakan bukti kerja keras
pengurus untuk menjadikan KUD ini sebagai badan usaha yang handal.
Dengan penerapan SIK ini, segala data, baik data transaksi usaha
maupun data sumber daya manusia tertata rapi dan dapat disajikan secara
cepat. Penyajian data secara cepat  sangat membantu managemen dalam
mengambil kebijakan-kebijakan guna pengembangan usaha. Sistem ini
menjadi suatu keharusan dalam dunia usaha yang aktivitasnya semakin
tinggi.
Kesungguhan pengurus dalam memajukan koperasi,  diikuti dengan
penyerahan pengelolaan usaha kepada para tenaga-tenaga profesional.
Pengurus tidak lagi terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, melainkan
menempatkan dirinya hanya sebagai “pengawal” para pengelola  menjalankan usaha. Pengelola tersebut dipercayakaan kepada  Supriadi sebagai
manajer utama dibantu manager unit simpan pinjam dan manager unit
Jahoras275
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
perdagangan dengan karyawan sebanyak 64 orang patut diapresiasi.
 Suasana kantor yang harmonis dengan penampilan menarik dan
ramah, para karyawan dalam melayani para anggota dan masyarakat
lainnya selalu mendapat perhatian. Tak heran jika setiap orang yang datang
ke kantor KUD ini akan berdecak kagum. Di sebuah kantor KUD yang
berada di pedesaan, didapati suasana pelayanan seperti perkantoran  gaya
manajemen perkotaan.
Menurut Supriyadi, penampilan menarik dan ramah menjadi kiat
tersendiri dalam mengembangkan usahanya. Dengan pelayanan yang
ramah  akan membawa kesan baik bagi para pengguna jasa usaha KUD.
Kesan tersebut dapat membuat para pengguna jasa  menjadi mitra usaha
yang baik pula. Itu sebabnya, setiap menerima karyawan/karyawati, selain
uji kemampuan akademis, penampilan calon pegawai menjadi salah satu
penentu.
AKTIVITAS USAHA
Kegiatan usaha KUD Mintorogo dibagi dalam dua kelompok usaha,
yaitu unit perdagangan/jasa umum dan unit kredit/USP. Masing-masing
dipimpin seorang manajer. Pengelompokkan ini, untuk memudahkan
sistem administrasi.
Dari beberapa unit usaha yang dikelola KUD, unit usaha pengadaan
pangan paling banyak mengalami kendala. Usaha pengadaan pangan
me rupakan bentuk kemi t r a an dengan Pe rum Bulog,  da l am  r angka
pengadaan beras/gabah. Kebijakan Bulog dalam pengadaan pangan
tersebut dilakukan dengan sistem setor gabah/beras. Hal ini membutuhkan
modal kerja  cukup besar untuk melakukan pembelian gabah dari petani.
 Ketiadaan fasilitas kredit untuk modal kerja dari pemerintah dan
keterbatasan modal kerja yang dimiliki, membuat KUD Mintorogo belum
mampu menampung semua hasil produksi para petani di sekitarnya.
Kondisi ini masih menjadi keprihatinan para pengurus. Untuk itu, mereka
berupaya mencari tambahan permodalan agar program pengadaan pangan
terealisasi dengan maksimal.
Dalam usaha pengadaan sarana produksi pertanian (saprotan), KUD
sebagai penyalur pupuk solid, berusaha meningkatkan pelayanan pada
anggota petani. Namun, pada 2005 penyaluran pupuk cair ini masih relatif
kecil yaitu baru sekitar 170 liter. Ini karena minat masyarakat untuk
menggunakan pupuk cair masih sangat rendah.
Bagi anggota yang membutuhkan kendaraan roda dua, KUD telah
menjalin kerja sama dengan dealer motor. Dengan kerja sama ini, para
anggota menjadi mudah untuk memiliki sepeda motor dengan sistem
angsur melalui USP. Demikian halnya dengan pemenuhan kebutuhan
barang-barang elektronik dan furniture dilakukan dengan pola yang sama.
Usaha jasa pembayaran rekening listrik wujud kemitraan antara PLN
dengan KUD. Dengan melakukan penagihan rekening listrik, KUD
memperoleh fee dari PLN. Untuk melaksanakan usaha ini, KUD membuka
beberapa outlet tempat pembayaran. Sampai tahun 2006, jumlah rekening
yang dikelola KUD sebanyak 68.098 rekening.276
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Unit usaha lain yang dikelola KUD adalah Wartel. Keberadaannya
sangat bermanfaat  bagi  masyarakat sekitar. Dengan adanya unit usaha
ini, kebutuhan masyarakat akan sarana komunikasi dapat terpenuhi.
Dari beberapa unit usaha yang dikelola oleh koperasi, USP merupakan
andalan utama dan mempunyai kontribusi terbesar bagi SHU KUD. Pada
tahun buku 2005 kontribusi SHU dari unit usaha ini mencapai 85%.
Perkembangan unit usaha ini cukup pesat menembus kabupaten lain
sekitarnya. Pada 2005 USP telah memiliki tiga kantor cabang, yaitu Kantor
Cabang Mayang dan Tahunan di Kabupaten Jepara serta kantor cabang
Undaan di Kabupaten Kudus. Kantor cabang ini didukung 28 pos-pos
pelayanan yang ada di desa-desa. Pembukaan pos-pos pelayanan tersebut
dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang akan
menggunakan jasa simpan-pinjam.
Penyaluran pinjaman kepada anggota dan masyarakat rata-rata
me n c a p a i   R p   1 , 2  mi l i a r   p e r   b u l a n .   B e n t u k
p i n j ama n   y a n g   d i b e r i k a n   b e r u p a   p i n j ama n
mingguan, bulanan dan musiman. Beban bunga
pinjaman berkisar 2,5% - 3,5% per bulan, dengan
plafon terendah Rp 200 ribu dan tertinggi Rp 30
j u t a .   A g u n a n   y a n g   d i b e r i k a n   p e m i n j a m
umumnya berupa surat-surat kendaraan bermotor
(BPKB).
Perkembangan unit usaha simpan-pinjam ini
me n g i n d i k a s i k a n   b e s a r n y a   k e b u t u h a n   p a r a
anggota dan masyarakat lainnya akan dana, baik
i t u   u n t u k   m o d a l   u s a h a   m a u p u n   k e p e r l u a n
konsumtif. Dari data laporan keuangan, tercatat
bahwa pada 2004 pinjaman yang disalurkan sebesar Rp 5,302 miliar.
Pada tahun 2005 meningkat tajam menjadi Rp 9,442 miliar.
Besarnya minat anggota dan masyarakat lainnya akan jasa USP
menjadi tantangan tersendiri bagai manajemen KUD Mintorogo akan
ketersediaan dan ketercukupan modal. Ketersediaan dan ketercukupan
ASPEK PENILAIAN DES 2004 DES 2005 %
1. KEUANGAN
Modal Sendiri 775.192.266 935.153.477 20,6
Asset 4.283.995.320 6.555.779.649 53,0
SHU 137.779.725 139.672.404 1,37
Tabungan Anggota/Cal. Anggota 2.590.127.543 4.356.421.310 68,2
2. ADMINISTRASI/MANAGEMEN
Jumlah Anggota 833 1.253 50,4
Jumlah Karyawan 41 64 56,0
Pengelola Usaha Manager Manager -
Unit Usaha 9 10 11,1
3. Legalitas Usaha
(SIUP, TDP, NPWP, BH) Lengkap Lengkap -
Modal Sendiri ASSET SHU
Des. 2004
Des. 2005
137,8 139,6
6.556
4.284
935,1
775,2
Grafik.
Kinerja KUD Mintorogo
Des 2004 - Des 2005
(dalam juta rupiah)
Tabel Keuangan dan Administrasi, 2004-2005277
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
modal penting bagi kelangsungan sebuah usaha, dan juga demi menjaga
kepercayaan masyarakat. Agaknya tantangan ini dapat dijawab oleh
Manajemen KUD.
K e p e r c a y a a n   m a s y a r a k a t   y a n g   t e l a h   t e r b a n g u n   a t a s   k i n e r j a
manajemen dalam mengelola usaha, mendorong minat para anggota dan
masyarakat lainnya menempatkan uangnya dalam bentuk simpanan
( t abungan)  pada  uni t   s impan-pinj am  ini .  Mana j emen menyi apkan
produk-produk simpanan yang dapat dimanfaatkan penyimpan seperti
simpanan berjangka (simka), simpanan sukarela (sikud), simpanan
pendidikan dan simpanan safari. Kepada para penyimpan diberikan bunga
simpanan yang kompetitif dan undian berhadiah setiap tahunnya. Trend
penyimpanan dan jumlah simpanan meningkat setiap tahun. Tercatat
pada 2004 jumlah simpanan sebesar Rp 2,6 miliar. Pada 2005 bertambah
menjadi Rp 4,3 miliar, meningkat 68%. Total aset bertambah menjadi
(per Desember 2005) sebesar Rp 6,556 miliar. Sementara SHU tercatat
sebesar Rp 139,7 juta.
MENJAWAB TANTANGAN
Pengurus  kope r a s i  menyada r i  bahwa   t ant angan ke  depan  t idak
semakin ringan. Arus globalisasi dan persaingan bebas bukan hanya
memasuki pusat-pusat bisnis perkotaan, melainkan telah merambah ke
berbagai pelosok daerah. Dunia usaha semakin sarat dengan persaingan.
Kekuatan modal dan kualitas SDM menjadi faktor penentu berkembangnya sebuah usaha. Lalu bagaimana dengan usaha KUD yang realitanya
minim permodalan dan kualitas SDM?
Akankah unit usaha yang dikelola KUD tenggelam? Pengurus dan
manajemen KUD Mintorogo telah memprediksikan kondisi-kondisi ke
depan. Komitmen menjadikan KUD Mintorogo sebagai badan usaha yang
handal disiapkan  secara matang dan bertahap. Pendidikan dan pelatihan
dalam berbagai keterampilan para karyawan, menjadi program rutin.
Fakta, hampir 50% karyawan KUD Mintorogo berpendidikan sarjana,
merupakan suatu modal untuk menjawab tantangan masa depan.
Peningkatan kualitas SDM juga dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan. Prestasi selalu menjadi perhatian manajemen. Hal ini  memacu
semangat kerja para karyawan untuk meraih prestasi. Bagi karyawan yang
d i n i l a i  memp u n y a i   p r e s t a s i   d i b e r i   p e n g h a r g a a n   b e r u p a   t amb a h a n
penghasilan dan promosi jabatan ke jenjang yang lebih tinggi.
Semua karyawan KUD Mintorogo telah menjadi peserta Jamsostek
untuk mendapatkan tunjangan kesejahteraan, kecelakaan kerja, meninggal
dunia dan tunjangan hari tua. Perhatian pengurus pada peningkatan kualitas
karyawan, diharapkan mendorong terciptanya suasana ketenangan bekerja
yang akhirnya memotivasi karyawan untuk berprestasi. Upaya lain yang
dilakukan adalah penerapan sistem informasi komputerisasi (SIK). Tatkala
persaingan semakin ketat, penguasaan dan penyajian informasi secara
cepat mutlak diperlukan.
Faktor pendukung utama yang kini sedang dilaksanakan adalah278
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
membangun kantor yang lebih representatif sebagai pusat aktivitas
manajemen dan usaha KUD Mintorogo. Pembangunan gedung baru
tersebut direncanakan menelan  biaya sekitar Rp 800 juta.
Menurut Daim Siswanto, Ketua KUD, pembangunan kantor tersebut
dilaksanakan atas biaya yang diperoleh secara bertahap dari penyisihan
pendapatan usaha simpan-pinjam sebesar 10% tiap tahun.
AZAS MANFAAT
Bermanfaatkah koperasi bagi anggota? Pertanyaan ini muncul dan
mengusik kala pengelolaan usaha koperasi telah terjebak pada pola mencari
keuntungan (profit) semata. Bila ini yang terjadi, maka pengurus koperasi
telah mengorbankan kepentingan anggota sebagai pengguna jasa usaha.
Bagi para pengurus, prinsip dan tujuan awal pembentukan koperasi
adalah  membantu meningkatkan kesejahteraan para anggota. Komitmen
tersebut  mutlak dan tidak dapat diubah. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkannya. Semisal dengan keterbukaan manajemen dan
efisiensi untuk menekan pengeluaran yang tidak diperlukan.
Hasil survey terhadap beberapa anggota KUD Mintorogo, umumnya
m e r e k a   m e n g a k u   m e r a s a k a n   m a n f a a t   m e n j a d i   a n g g o t a   k o p e r a s i .
Kebersamaan yang terbangun dalam dunia koperasi tanpa memandang
apa dan siapa, menjadi salah satu faktor yang menarik bagi mereka.
Disamping itu, berkoperasi bagi mereka juga merupakan ajang pendidikan
untuk bersosialisasi pendapat atau pemikiran. Pelatihan-pelatihan dan
rapat-rapat kelompok serta rapat anggota tahunan yang mereka ikuti
merupakan forum menambah wawasan di bidang ekonomi maupun
bidang sosial lainnya.
Hal lain yang mereka rasakan adalah pemanfaatan fasilitas-fasilitas
usaha koperasi dalam menunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari
maupun kebutuhan ekonomi lainnya. Terakhir, mereka umumnya amat
senang bila tiap tahun mendapat pembagian SHU, semoga! ***
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah Lingkungan yang Berubah279
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
SULAWESI UTARA
KUD Tamporok Minahasa Utara
279
SEBAGAI INTI KEKUATAN
PARTISIPASI ANGGOTA
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Zaenal Wafa280
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
ari pagi buta sampai menjelang tengah hari, pasar desa itu masih
ramai dikunjungi orang. Sebagian orang mendatangi pasar dengan
menggunakan kenda r a an  t r adi s iona l  de lman.  Ada   juga  yang
memakai sepeda angin. Namun sudah banyak orang yang datang ke
pasar dengan mengendarai sepeda motor.
Betul, Pasar Tatelu nama pasar desa tersebut. Berdampingan erat
dengan pa s a r,  be rdi r i  bangunan be rbentuk  empa t  pe r s egi  panj ang.
Tersekat dengan tembok sederhana, bangunan digunakan tiga keperluan
yang berbeda-beda.
Di sisi paling kiri, KUD Tamporok memanfaatkan untuk operasional
sehari-hari. Sedangkan bangunan bagian tengah, digunakan oleh unit
waserda untuk melayani kebutuhan anggota maupun warga masyarakat.
Sementara USP memakai sisi kanan bangunan untuk kegiatan utama
bisnisnya.
Yang jelas, keberadaan Pasar Tatelu tak bisa terpisahkan dengan
eksistensi KUD Tamporok. KUD ini berperan besar mewujudkan pasar
desa ini. Didukung Hukum Tua atau kepala desa setempat, termasuk
kerja sama dengan instansi berwenang dari Departemen Dalam Negeri,
Departemen Perdagangan serta Departemen Koperasi, KUD Tamporok
akhirnya mampu merealisasikan berdirinya Pasar Tatelu.
 Pasar Tatelu tetap memiliki pamor sebagai pusat tradisional bertemunya penjual dan pembeli. Sementara keberadaan unit waserda, nyatanya
justru saling melengkapi dengan Pasar Tatelu. Ambil contoh, kalau orang
ingin membeli ayam hidup maka ia pasti bisa mendapatkannya di pasar
tradisional tersebut. Tetapi bila ia mencari bumbu kaldu ayam agar dapat
memasak secara cepat, di waserda tempatnya.
Harus digarisbawahi, koperasi jelas mampu menjalankan peranan
sebagai ‘jembatan’ kepentingan antara yang bersifat tradisional yaitu
D
Kecermatan
meminimalisir
kesalahan sistem
administrasi.
Zaenal Wafa281
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
pasar rakyat dengan kepentingan moderen yang berbentuk waserda.
Kebe r ada an wa s e rda  mi l ik KUD Tamporok  jug a   sudah  t e ruj i .
Padahal di saat krisis moneter (krismon) sebagai ujung krisis ekonomi
1997-1998, waserda ini hampir mati. Apa saja kiat yang dijalani waserda
hingga tetap bertahan bahkan berkembang hingga sekarang?
Ketua KUD Tamporok J Kaunang menjelaskan resep mengapa unit
waserda koperasi tetap hidup sampai saat ini, sangat sederhana. Maksudnya, unit ini tetap menjalankan bisnis sesuai kemampuan yang ada.
Siasatnya, di puncak krisis unit waserda melakukan pembelian barang
dalam jumlah kecil. Memang, konsekuensi berikutnya waserda koperasi
juga hanya mampu menjual barang dalam partai kecil. Ia mensyukuri,
sebab seluruh komponen anggota, pengurus maupun pengawas koperasi
dapat memahami keterbatasan lembaga usaha yang tetap mereka banggakan bersama. Sedikit demi sedikit, kemampuan waserda koperasi
menggulirkan roda bisnis eceran ini semakin pulih. Saat sekarang,
kondisi usaha sektor ritel ini tetap sehat.
DILEMA KUT
Khusus terkait permasalahan Kredit Usaha Tani (KUT), bagi KUD
Tamporok memang terasa sangat dilematis. Maksudnya, di satu sisi
pencairan dana KUT cukup menolong kebutuhan para petani padi. Tapi
di sisi lain, buntut dari persoalan KUT yang berlarut-larut juga sangat
merugikan kepentingan petani.
Syukurlah, para pengurus koperasi pedesaan yang sudah makan
asam garam ini sejak awal amat berhati-hati untuk menerima atau
menolak KUT. Sampai sekarang, para pengurus tak segan-segan selalu
mendampingi para anggota koperasi yang mengalami persoalan KUT.
Ia mengakui, hingga sekarang cukup banyak anggota yang tak mau
membayar ‘tunggakan’ KUT. Namun demikian para penunggak KUT
tersebut mengajukan argumen, kalau mau menyalahkan mereka, lebih
dulu pertanyakan: Apakah kebijakan KUT benar–benar ingin membantu
para petani atau sekadar mempolitisasi kepentingan mereka?
Yang pasti, KUD Tamporok yang beranggotakan 1.444 orang terus
menjalin koordinasi dan komunikasi dengan para pengurus koperasi
s e c a r a  kons i s t en.  Di   lua r  RAT,   s e t i ap bul an pa r a  pengurus   s e l a lu
menggelar rapat internal. Sedangkan secara berkelompok, para anggota
menyelenggarakan rapat sedikitnya dua kali setahun. Ini belum termasuk
pelatihan buat anggota koperasi, baik dilakukan sendiri oleh pihak
koperasi maupun menghadiri pelatihan yang digelar pihak lain atau luar
koperasi.
Manfaatnya, interaksi yang intensif tersebut menghasilkan suasana
yang kondusif dan produktif. Padahal sekadar perbandingan dengan
kurun sebelumnya, antara kalangan anggota dan pengurus seringkali
mengalami pertengkaran. Untunglah, saat ini seluruh unsur pendukung282
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
k o p e r a s i   s u d a h   m e n y a d a r i   b a h w a   s e g a l a   k o n f l i k   m e n y a n g k u t
kepentingan koperasi harus diakhiri.
Mereka juga memahami, kelembagaan koperasi itu lah yang benar.
Melalui pendekatan semacam ini, persoalan dilematis seperti KUT akhirnya bisa dipecahkan secara bijak. Dalam konteks ini, seluruh jajaran
pengurus maupun pengawas koperasi bersepakat untuk membangun
koperasi yang sejati.
PARTISIPASI TINGGI
Terkait tingkat partisipasi anggota terhadap koperasi, Sekretaris
KUD Tamporok Nicolaas A Tidajoh menjelaskan para anggota selalu
akt i f  mengembangkan kope r a s i .   I a  menga t akan pa r t i s ipa s i   ini  bi s a
mencapai 80 persen. Karena itu mudah dimengerti, bila setiap kali
koperasi menggelar RAT sebanyak 99 persen anggota juga senantiasa
berperan serta sesuai kapasitas persoalan dan kepentingan masingmasing. Termasuk dalam konteks setiap pengambilan keputusan oleh
koperasi, 90 persen anggota juga aktif memberikan pendapat yang
diperlukan. Salah satu penyebab utama mengapa tingkat partisipasi
anggota begitu tinggi, ia menjawab tak lain karena koperasi sudah
menerapkan salah satu prinsip koperasi mengenai keanggotaan bersifat
sukarela.
Di sisi lain sejumlah anggota KUD yang didirikan pada 1974 dan
sudah mengalami perobahan status BH tiga kali ini berdasarkan isian
kue s ione r  menj e l a skan,   s e l a lu  ikut  mema jukan  s e t i ap us aha  yang
dijalankan koperasi. Mereka rata-rata berpendapat, berusaha mendukung
usaha koperasi sejak sektor perikanan, perkebunan dan pertanian.
Beberapa anggota koperasi yang lain menambahkan, ia senantiasa
aktif membantu koperasi dengan cara menyimpan dan meminjam dana
da r i  uni t   s impan pinj am mi l ik kope r a s i .  Se l a in  i tu,   i a   juga   s e l a lu
berbelanja beberapa barang kebutuhan sehari-hari di waserda yang milik
koperasi. Ada juga anggota yang aktif mengembangkan koperasi dengan
cara membuka usaha di sub sektor budidaya perikanan air tawar.
Mengapa para anggota KUD memiliki partisipasi tinggi? Sejumlah
anggota mengungkapkan, antara lain berkat mengikuti pelatihan di
bidang pertanian dan perikanan. Anggota lain menjelaskan, merasakan
manfaat besar menjadi anggota koperasi karena diikutkan tata cara
pembibitan ikan air tawar. Ada juga anggota koperasi yang beruntung
karena mengikuti pelatihan mengenai penanaman jagung hibrida.
Sementara itu beberapa anggota koperasi merasa mendapatkan ilmu
di bidang pengelolaan waserda setelah mengikuti pelatihan mengenai
ritel dan simpan pinjam. Sedangkan seorang petani anggota koperasi,
meyakini ilmu yang didapat dari pelatihan tentang seluk-beluk penyuluh
pertanian akan bermanfaat untuk membimbing sesama petani di desanya.283
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
PENGEMBANGAN BISNIS
Menjawab pertanyaan apakah mereka menganggap KUD Tamporok
sebagai koperasi yang berhasil, sejumlah anggota koperasi rata-rata mengatakan ya. Alasannya antara lain karena koperasi dapat mengembangkan sejumlah usaha yang dikelola oleh anggota.
Sedangkan anggota lain mengatakan, sebab koperasi dapat melayani
s e l u r u h   u s a h a   y a n g   d i j a l a n k a n   a n g g o t a .   A d a   j u g a   a n g g o t a   y a n g
menjawab karena koperasi telah mampu memberikan pelayanan yang
cukup. Anggota lain lagi menandaskan, keberhasilan koperasi sebagai
sebuah lembaga usaha terutama telah mampu melayani dengan baik
beberapa usaha yang dijalankan oleh para anggota.
Menurut Wulan Rondonuwu (43) salah seorang anggota KUD Tamporok menga t akan,  pe r -
kembangan us aha  kope -
rasinya sangat baik. Sebab, bantuan permodalan
u s a h a   y a n g   d i s a l u r k a n
melalui unit simpan pinjam ternyata mampu membantu kelangsungan usaha
yang dikerjakan anggota.
Karena itu ia merasa puas
a t a s  pe l ayanan yang di  -
berikan para pengurus koperasi kepada dia selaku
anggota.
L a i n   l a g i   p e n d a p a t
Eldath Supit (46) anggota
K U D   Ta m p o r o k   d a r i
Desa Tatelu, Kecamatan
D i m e m b e   m e n u t u r k a n ,
koperasi hendaknya harus
lebih meningkatkan posisi daya saing. Karena sejauh ini, koperasi belum
membantu maksimal dalam penjualan produk ikan budidaya yang ia
u s a h a k a n .   N a m u n   d e m i k i a n   i a   m e n g a k u i ,   k o p e r a s i   s u d a h   c u k u p
membantu kegiatah usaha yang ia kerjakan sekarang.
 Berdasarkan dokumen keuangan KUD Tamporok 2001-2005, pendapatan lembaga usaha ini membaik. Ambil contoh pada akhir 2004,
pendapatan tercatat Rp 2,022 miliar. Sedangkan pada akhir 2005 pendapatannya bergerak mencapai Rp 2,193 miliar.
Pada kurun yang sama koperasi juga bisa menekan pengeluaran.
Sebab pada 2003 misalnya pengeluaran koperasi senilai Rp 2,046 miliar.
Kemudian pada akhir 2004 pengeluaran koperasi menjadi Rp 1,962
miliar.
Keberadaan unit simpan pinjam
sangat membantu
kelangsungan usaha anggota.
Zaenal Wafa284
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Ya n g   j u g a  me n a r i k ,
perkembangan modal sendiri koperasi selama lima
t a h u n   t e r a k h i r   m e n u n -
jukkan peningkatan yang
signifikan. Lihatlah kalau
pada   akhi r  2003,  moda l
s endi r i  kope r a s i   t e r c a t a t
Rp 2,281 miliar meningkat menjadi Rp 2,325 miliar pada akhir 2004 serta
senilai Rp 2,349 miliar di
posisi akhir 2005.
KUD Tamporok yang
d a l a m   b a h a s a   s e t e m p a t
berarti puncak pohon kelapa atau simbol dari citacita, tak berlebihan layak
menjadi percontohan. Mengapa demikian? Sebab dari indikasi tingkat
partisipasi anggota pada rapat-rapat koperasi saja mencapai lebih dari
90 persen. Lebih dari itu nilai transaksi nominal dari 1.444 anggota
koperasi selalu selalu meningkat sangat signifikan. Buktinya, pada akhir
2003 nilai nominal transaksi anggota tercatat Rp 1,955 miliar. Bandingkan dengan transaksi pada 2004 yang mencapai senilai Rp 1,992 miliar.
Kemudian cermati transaksi anggota koperasi per akhir 2005 yang
mencapai Rp 2,180 miliar. ***
Cengkeh menjadi komoditi
unggulan KUD Tamporok.
Zaenal Wafa285
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
PASAR GLOBAL
JAWA TIMUR
Pusat KUD Jatim Surabaya
SIAP MASUK
Zaenal Wafa286
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
ondisi perkoperasian di Indonesia secara umum belum menggembirakan mungkin benar. Bukan berarti tidak ada yang bagus.
Fakta menyebutkan dari sekitar 130 ribu daftar koperasi yang ada,
hanya 30% yang aktif. Selebihnya berada dalam deretan tidak memiliki
kegiatan usaha, papan nama dan kelas gurem. Salah satu koperasi yang
aktif dan cenderung aktratif adalah Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud),
Jawa Timur
Bahkan, bisa dibilang koperasi sekunder KUD ini menjadi yang
paling unggul dalam melakukan ekspansi usaha.
Sekunder yang didirikan oleh lima KUD yaitu KUD Sekar Lamongan,
KUD Kota Madiun, KUD Desa Makmur Bondowoso, KUD Labruk
Lumajang, dan KUD Balong Panggang Gresik, pada 30 Juli 1975 ini
pantas menjadi pelopor sebagai pemilik Perseroan Terbatas (PT).
Ada kalanya koperasi yang mampu sejajar dengan perusahaan lain,
tidak selamanya koperasi menempati lantai paling dasar atau berada dalam
kelas gurem. Membayangkan koperasi tingkat provinsi mempunyai
perseroan terbatas agaknya mustahil dibayangkan akan terwujud. Banyak
orang menganggap perusahan yang mendirikan koperasi karyawan, bukan
s e b a l i k n y a .   Te r n y a t a   p e r k i r a a n   i t u  me l e s e t   k a r e n a   P u s k u d   J a t im
mempunyai saham di perusahaan bahkan ada yang berada di bawah
kendali koperasi.
Hal itu mulai terwujud ketika tahun 1989, Puskud Jatim mencanangkan Jawa Timur menjadi provinsi koperasi. Hasil rapat pengurus dan
anggota adalah mensinergikan KUD yang menjadi anggota agar kekuatan
bersama menjadi daya tawar lebih tinggi. Cara mencapai tujuan tersebut
adalah koperasi KUD di Jawa Timur mengembangkan strategi integrasi
jaringan dari hulu ke hilir. Kekuatan koperasi berbasis lembaga yang
mengakar di tingkat desa dikaitkan dengan produksi, sedangkan peran
koperasi sekunder melakukan kerjasama strategis dengan mitra. Tindakan
tersebut berhasil menembus kelemahan pedagang dan menghilangkan sisi
lemah koperasi primer. Hasil aliansi strategis dengan pelaku pelaku bisnis
K
Rumah Sakit salah satu
unit bisnis Puskud Jatim.
Dokumentasi287
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
diluar dugaan, Puskud Jatim tidak hanya mendapatkan jaringan bisnis
tapi akhirnya melahirkan anak perusahaan. Anak perusahaan menjadi
tombak koperasi untuk meraup keuntungan lebih.
Perjuangan Puskud Jawa Timur tidak lepas dari keinginan untuk
menunjukkan Jawa Timur sebagai provinsi koperasi. Yakni kumpulan
koperasi yang bersinergi agar mempunyai posisi tawar tinggi. Koperasi
yang mengandalkan jaringan pertanian agar menggurita di pelbagai
kabupaten kota di Jawa Timur.
FOKUS BISNIS
 Puskud Jatim memfokuskan bisnis utama pada sektor pertanian seperti
pupuk, saprotan, gaplek, cengkeh. Fokus bisnis ini sesuai dengan sejarah
pendirian koperasi sekunder yang nota bene adalah beberapa KUD di
Jatim. Puskud Jatim berdiri pada 30 Juli 1975 di Surabaya dengan lima
KUD pendiri yaitu: KUD Sekar, Lamongan, KUD Kota Madiun, KUD
Desa Makmur Bondowoso, KUD Labruk Lumajang, dan KUD Balong
Pangang Gresik.
Keberhasilan Puskud Jatim tidak lepas dari jaringan usaha yang dirintis
mulai berdiri hingga 2006, dengan mengembangkan manajemen modern
yaitu membuat  corporate plan dan melaksanakan dalam pengorganisasian
koperasi. Penguasaan hulu sampai hilir dan pembagian resiko membuat
Puskud Jawa Timur dapat melampui masa sulit sekitar tahun 1985-1986,
yaitu kesulitan likuiditas dengan pinjaman jatuh tempo yang tinggi. Maka
koperasi mengambil kebijakan periode tahun tersebut melakukan konsolidasi
intern dan dilanjutkan dengan mengembangkan beberapa usaha.
REFORMASI KELEMBAGAAN
Usaha otonom yaitu usaha yang secara langsung dikelola oleh Puskud
meliputi bidang usaha pupuk, semen dan angkutan. Usaha cabang, yaitu
usaha Puskud di kabupaten (Kab. Lumajang dan Kab. Ngawi), yang
mengelola pengolahan beras. Unit usaha, yaitu penggabungan usaha yang
semula berdiri sendiri digabungkan dalam usaha yang lebih besar. Usaha
ini meliputi unit senkuko, percetakan, dan USP. Kerja sama Operasi
KUD Tani Mulyo
salah satu MPS
 Puskud Jatim.
Dokumentasi288
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
(KSO), usaha ini Puskud kerja sama dengan Dinas Perkebunan Provinsi
Jatim (Pabrik Kopi) dan PT. Juang Area Sejahtera (perdagangan kacamata).
Kemitraan pada pola ini Puskud bersama KUD Tani Mulyo bermitra
dengan PT HM Sampoerna dalam memproduksi sigaret.
PENGEMBANGAN USAHA
Struktur pengembangan usaha dan perusahaan Puskud Jatim secara
hierarkhis dapat digambarkan sebagai berikut :
K i n e r j a   P u s k u d   J a t i m   m e n u n j u k k a n   p e r u b a h a n   y a n g   c u k u p
signifikan. Koperasi ketika berdiri hanya mempunyai lima anggota
k o p e r a s i   p r ime r,   2 0 0 4   s e b a ny a k   7 0 1  KUD.  Vo l ume   u s a h a   p e r   3 1
Desember 2003 berjumlah Rp 32,080 miliar. SHU per 31 Desember 2003
berjumlah, Rp 710 juta atau Rp 59 juta per bulan. Modal sendiri per 31
Desember 2003 berjumlah Rp 3,335 miliar. Jumlah PT anak perusahaan
s ebanyak de l apan uni t .  Uni t  bi sni s  Puskud  J a t im mul a i  da r i  Bank
Perkreditan Rakyat bernama PT BPR Artha Mulia, pakan ternak bernama
PT Samudera Omega Jaya Makmur Pasuruan, Dadi Mulyo Sejati, Ngawi,
PT Rukun Jaya Makmur, Bojonegoro. Perusahaan ini bergerak dalam
pelintingan sigaret bermitra dengan PT HM Sampoerna. PT Puskud Delta
Utama, bergerak di bidang workshop dan perbengkelan di Malang.
PT Yamido, Pasuruan bergerak dalam perakitan mesin-mesin pertanian
merek Yanmar. PT SPBU Prambon, bergerak dalam penyaluran BBM
(pompa bensin). PT Tri Mitra Medika Sejahtera Surabaya, bergerak di
bidang rumah sakit dan pelayanan kesehatan. Kepemilikan saham Puskud
Jatim pada masing-masing anak perusahaan tersebut diatas 50%.289
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
USAHA OTONOM
Untuk usaha otonom Puskud memiliki penguasaan penuh terhadap
pengelolaan usaha (100%), demikian juga untuk KSO Puskud memiliki
penguasaan penuh (100%), sedangkan pada kemitraan Mitra Produksi
Sigaret (MPS) di 4 lokasi, Puskud memiliki saham 55% dan swasta 45%.
Sedangkan pola perusahaan patungan Puskud memiliki saham yang
berbeda-beda. Perusahaan yang dibangun antara Puskud baik dengan
Perseroan atau kerja sama KUD dengan PT HM Sampoerna memberikan
kontribusi profit mencapai 50,02%, sedangkan usaha otonom memberikan
kontribusi profit sebesar 36,16%.
Te rnya t a  Puskud dengan mendi r ikan pe rus aha an,   l ebih mampu
bekerja secara efisien, bekerja sesuai dengan prinsip perusahaan, memiliki
care competence dalam membangun daya saing.
Dari kemitraan dengan PT HM Sampoerna (MPS KUD Tani Mulyo
d e n g a n   t i g a   P T   l a i n n y a )   p a d a   t a h u n   2 0 0 3  mamp u  me n g h a s i l k a n
pendapatan Rp 2,073 miliar (50,02%) penyaluran pupuk, semen dan
angkutan Puskud sebagai agen pengelola (otonom) mampu memperoleh
pendapatan Rp 1,498 miliar (36,16%) dan usaha cabang di Kabupaten
L uma j a n g   d a n  Ka b u p a t e n  Ng awi  mamp u  memb e r i k a n   k o n t r i b u s i
pendapatan sebesar 5,92%, sedangkan perusahaan yang lain, karena
kepemilikan saham Puskud minoritas, seperti PT BPR Artha Mulia
memberikan kontribusi keuntungan sebesar 3,05% dan PT Yamindo
sebesar 1,75%. Puskud Delta Utama memberikan keuntungan 2,1%.
MENGUTAMAKAN PENYERAPAN TENAGA KERJA
Puskud dengan mendirikan tiga perusahaan dan satu MPS kemitraan
di empat lokasi mampu menyerap tenaga kerja sebesar 7.607 orang Dari
tiga Perusahaan Terbatas dan satu MPS yang bergerak dalam pelintingan
sigaret, PT Rukun Jaya Makmur mampu menyerap 28,04%, PT Warahma
Biki Makmur menyerap 27,59% dan dua Perusahaan Terbatas lainnya
Kegiatan pelintingan rokok
kerjasama dengan
PT HM Sampoerna.
Dokumentasi290
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tabel 1. Struktur Keuangan Usaha
menyerap masing-masing 24,07 % dan 20,30%. Sedangkan penyerapan
tenaga kerja di perusahaan lain juga cukup besar, seperti di PT Artha
Mulia Bumi Mukti sebanyak 9 orang, PT Puskud Delta Utama Malang
sebanyak 51 orang, PT RS Surabaya Medical Service sebanyak 50 orang
dan PT Samudera Omega Jaya Makmur sebanyak 50 orang.
Penyerapan tenaga kerja yang besar dalam perusahaan pelintingan
rokok karena dalam operasi awalnya menggunakan tenaga manusia/
manual. (lihat tabel 2).
MANAJEMEN PROFESIONAL
Berdasarkan hasil diskusi dengan Direktur Utama dan Direksi Puskud
Jatim, pengelolaan perusahaan koperasi harus professional dan efisien.
Oleh karena itu, Puskud Jatim menetapkan tiga strategi yaitu usaha,
manajemen dan fungsional.
 Pelaksanaan strategi di bidang usaha, Puskud Jatim menggunakan
Tabel 2. Penyerapan Tenaga Kerja
Perusahaan MPS
Tenaga Kerja yang Diserap (orang)
Jumlah %
Administrasi Operasional/Pabrik
 (Orang)
1. PT Dadi Mulyo Sejati,
Ngawi
31 1.800 1.831 24,07
2. PT Warahma Biki
Makmur, Tuban
34 2.065 2.099 27,59
3. PT Rukun Jaya
Makmur, Bojonegoro
33 2.100 2.133 28,04
4. MPS KUD Tani Mulyo,
Lamongan
44 1.500 1.544 20,30
Jumlah 142 7.465 7.607 100291
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
tiga strategi, yaitu usaha pusat, usaha melalui cabang dan kerja sama usaha
(KSO). Usaha pusat bersifat otonom dan langsung ditangani Puskud
dalam penyaluran semen, pupuk dan angkutan untuk keperluan anggota.
Untuk kepentingan/keterkaitan usaha dengan anggota dan pelayanan
masyarakat umumnya, pengembangan usaha akan dilakukan melalui
cabang. Pendirian cabang akan dilakukan secara bertahap. Kerja sama
Usaha (KSO) akan dilakukan bersama dengan badan usaha lain dengan
suatu Perjanjian Kerja Sama Usaha. KSU ini akan mempertimbangkan
kemanfaatan buat anggota dan masyarakat pada umumnya disamping tetap
atas dasar azas bisnis saling menguntungkan. Kemitraan dengan PT HM
Sampoerna atau dengan Dinas Perhubungan. Patungan mendirikan PT
untuk usaha-usaha yang tidak terkait dengan usaha anggota, dilakukan
dengan pendirian PT dan atau penyertaan modal pada mitra usaha (PT
sudah terbentuk). Besarnya self financing/penyertaan modal pada PT akan
dikaitkan dengan tingkat resiko usaha yang bakal timbul, satu dan lain
hal berkaitan pula dengan pengalaman usaha jajaran Puskud Jatim
INSTITUSI BISNIS
Mencermati koperasi ini masih eksis dan percaya diri menggerakkan
bisnis ke depan, mungkin boleh dicontoh. Faktanya, hingga saat ini
koperasi mempunyai sekitar 10 unit usaha berbentuk Perseroan Terbatas.
Termasuk mengakuisisi satu lembaga Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
yaitu PT BPR Artha Mulia dan menambah dua SPBU di Sidoarjo dan
Kediri, di bawah bendera PT SPBU Prambon. Koperasi juga memiliki
saham 75 persen di PT Yanmar Indonesia yang memproduksi alat pertanian
di Pasuruan.
Masih di Pasuruan, koperasi juga memiliki saham tak kecil di usaha
pakan ternak melalui PT Samudera Omega Jaya Makmur Pasuruan.
Selanjutnya dengan bendera PT Puskud Delta Utama, perusahaan ini
bergerak di bidang workshop dan perbengkelan di Malang. Kemudian yang
termasuk terakhir adalah PT Tri Mitra Medika Sejahtera Surabaya yang
bergerak di bidang rumah sakit dan pelayanan kesehatan, dengan  brand
name Surabaya Medical Service (SMS). Yang jelas pada ketiga perusahaan
ini, kepemilikan saham Puskud Jatim mencapai di atas 50 persen.
Dokumentasi292
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Bagaimana koperasi sekunder ini mengatur manajemen? Direktur
Utama Puskud Jatim menandaskan, faktor ketertiban manajemen memang
menjadi prioritasnya. Tentu saja aspek seperti cashflow yang sehat, tidak
boleh diabaikan. Sebab, sebagus apapun usaha lembaga atau perusahaan
bila manajemen tak baik pasti morat-marit.
Mempraktikkan disiplin manajemen di koperasi lebih sulit lagi.
Siasatnya, antara lain dengan merampingkan karyawan secara cerdas.
Maksudnya, jangan sampai pengurus koperasi menumpuk di satu fungsi.
Apalagi, karena koperasi memiliki banyak perusahaan maka diusulkan
pengangkatan level manajer atau direktur berasal dari pengurus koperasi
yang memang memiliki kemampuan.
Sementara direktur utama, salah tugas utamanya mengkomunikasikan
kinerja bisnis seluruh ‘anak perusahaan’ serta kepentingan bisnis otonom
atau konvensional seperti distribusi pupuk dan produksi gabah sebagai
lembaga usaha koperasi ke seluruh anggota. Intinya, tidak mudah membuat
‘kapal bisnis’ koperasi sekunder ini tetap melaju seimbang antara kepentingan kemanfaatan buat anggota sekaligus mengeruk laba besar.
KONSISTEN DENGAN VISI DAN MISINYA
Anggaran Dasar Puskud Jatim tegas-tegas memberikan batasan visi
yaitu adalah menjadikan Puskud sebagai badan usaha yang kuat dan
profesional serta handal di Jawa Timur, yang didukung oleh anggota guna
meningkatkan taraf hidupnya melalui kehidupan berkoperasi.
Sedangkan misi Puskud Jawa Timur meliputi pengembangkan akses
pasar terhadap produk-produk anggota, membangun perusahaan-perusahaan yang berorientasi kepada kebutuhan anggota dan masyarakat,
membangun jasa simpan pinjam (lembaga intermediasi keuangan mikro)
dan jasa-jasa lain yang diperlukan anggota dan masyarakat dan mengembangkan pembinaan kelembagaan dan kegiatan pendidikan, pelatihan,
informasi bagi anggota serta pengelola koperasi.
Kebijakan dibidang kelembagaan Puskud Jawa Timur berorientasi
bagi kepentingan terhadap pelayanan anggota baik dalam hal menyangkut
pembinaan/pemberdayaan KUD (anggota) dan institusi intermediasi
keuangan yang dimilikinya, maupun menyangkut usaha yang berkaitan
dengan anggota dan pola kemitraan usaha.
Professionalisme yang telah dirumuskan dalam visi di atas mengandung keharusan untuk mengupayakannya berbagai hal kebijaksanaan
pengurus, baik dibidang organisasi, manajemen, sumber daya manusia
dan sistem prosedur operasional usaha.***293
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
BALI
KUD Penebel Tabanan
PENGURUS  RESPONSIF
293
ANGGOTA AKTIF
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Zaenal Wafa294
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
elain strategis, lokasi keberadaan koperasi ini sangat menyolok. Di
tepi jalan utama kota kecamatan, bangunan bertingkat tiga dan
penanda identitas nama yang besar di tembok luar atas. Dari jarak
ratusan meter, mudah terbaca namanya KUD Penebel. Mari melongok
apa saja unit usaha, kinerja lembaga dan dukungan sumber daya manusia
pengurus dan anggota koperasi ini.
Siang itu, sejumlah orang asyik berbelanja di waserda yang merupakan
salah satu unit bisnis koperasi. Sekadar perbandingan, luas bangunan dan
parkir, kenyamanan membeli maupun jenis barang yang dijual di situ tak
kalah dengan Indomart, Alfamart bahkan swalayan Hero sekali pun.
Apalagi, di warung satu ini juga menjual dua item barang yang pasti tak
ada di ketiga toko modern tersebut. Barang apakah yang dijajakan di
sana, sudah barang tentu kebutuhan sekitar pertanian. Pupuk tanaman
padi produksi PT Pusri dan beras merah produksi anggota KUD Penebel
sendiri.
Di samping waserda yang dilengkapi empat kamera tersembunyi itu,
koperasi yang didirikan 16 Maret 1974 ini memiliki sejumlah unit usaha
bersifat saling menunjang. Masing-masing pengadaan pangan, mesin
penggilingan beras (RMU), sarana produksi padi (saprodi), peternakan
sapi dan simpan pinjam. Bagaimana perkembangan koperasi dari sisi
kelembagaan, dukungan SDM, usaha hingga pendanaan?
Ketua KUD Penebel, Tabanan, Bali I Made Cager menjelaskan,
koperasi didirikan oleh prakarsa 30 orang dan ketika itu masih bernama
Badan Usaha Unit Desa (BUUD). Bermodal awal Rp 530 ribu, mereka
bertekad mewujudkan peningkatan ekonomi rakyat setempat. Seiring
kondisi ekonomi dan perkembangan jaman, serta sesuai saran peserta
RAT pada Maret 1986, nama kelembagaan BUUD berobah menjadi KUD
alias Koperasi Unit Desa Penebel.
Meski modal yang dipunyai masih kecil, namun demi menunjang
us aha ,  kope r a s i  memul a inya  dengan  t iga  uni t  us aha ,  yakni  RMU,
pengadaan saprodi dan pengadaan pangan. Berdasarkan dokumen neraca
kope r a s i   ini  pe r  30  Juni  2006,  ke t iga  uni t  us aha  kope r a s i   t e r s ebut
membukukan kas unit yang lancar dan signifikan. Masing-masing senilai
Rp 19, 193 juta (RMU), Rp 17,532 juta (saprodi) dan Rp 4,853 juta
(pangan).
Hingga  2006,  kope r a s i   sudah menga l ami   l ima  ka l i  pe robahan
anggaran dasar. Koperasi bernomor pokok wajib pajak  1.413.311.0-901
ini memiliki wilayah kerja di 7 kebendesaan, yaitu Desa Penebel, Biaung,
Mengesta, Jatiluwih, Babahan, Senganan dan Desa Tajen. Selama tiga
tahun terakhir, perkembangan jumlah keanggotaan koperasi adalah 2.082
orang (2000-2002), 1.953 orang (2003), 1.955 orang (2004) dan 1.949
(akhir 2005).
Sedangkan jumlah pengawas pada kurun yang sama, masing-masing
berjumlah 5 orang dan 3 orang. Sementara karyawan tetap koperasi,
pada 2003 berjumlah 43 orang dan pada akhir 2005 menjadi 42 orang.
Karyawan tidak tetap berjumlah 2 orang dari 2003 hingga 2005.
S
Waserda KUD Penebel
memiliki empat kamera
tersebunyi.
Zaenal Wafa295
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
PENGURUS AKTIF
Menurut Ni Made Ratmini (36) salah seorang anggota KUD Penebel,
salah satu faktor keberhasilan koperasinya adalah kinerja pengurus yang
aktif dan responsif. Anggota yang tinggal di Dusun Ubung, Penebel ini
juga mengaku memperoleh manfaat dengan menjadi anggota koperasi,
karena koperasi bisa menyediakan segala kebutuhan anggota.
Kinerja koperasi di mata anggota sangat baik. Termasuk perkembangan usaha beberapa unit usaha koperasi. Utamanya karena koperasi
mampu menyediakan berbagai kebutuhan pokok ekonomi rumah tangga.
Semisal mulai beras, gula pasir, minyak goreng, sabun cuci hingga sabun
mandi dan pasta gigi. Semua ini bisa dibeli di waserda koperasi.
Selain itu, anggota merasa puas dengan pembayaran SHU yang
dibagikan rutin setiap tahun. Itu sebabnya banyak anggota yang aktif
menghadiri RAT. “Biasanya saya ikut memberi masukan kalau koperasi
mau bikin program kerja  nggih. Misalnya usul, agar harga jual barangbarang di waserda ndak mahal,” tukas Ratmini dengan logat Bali kental.
Yang jelas, sebagai anggota koperasi Ratmini menulis dalam kuesioner
bahwa ia senantiasa memenuhi kebutuhan rumah tangga di waserda
koperasi. Mengaku berpendapatan Rp 500 ribu – Rp 1 juta, ia menanggung
tiga anggota keluarga. Tiap bulan, ia ia juga mengaku mempunyai
tambahan pendapatan kurang dari Rp 500 ribu.
Bekerja di sektor swasta, perempuan berpendidikan SMA ini menyatakan  kadang-kadang mengikuti pelatihan-pelatihan bagi anggota yang
digelar oleh koperasi. Pelatihan apa saja yang pernah dijalani, ia menjawab
antara lain semacam penyuluhan untuk mendorong peningkatan partisipasi
anggota. Ia  pernah pula mengikuti sejenis seminar, diskusi atau lokakarya
yang berkaitan dengan koperasi.
Kegiatan simpan pinjam
di USP KUD Penebel.
Zaenal Wafa296
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
MASUKAN BUAT PENGURUS
Lain lagi pendapat I Wayan Rides (47), anggota KUD Penebel yang
berprofesi sebagai petani padi. Ia yang berpendidikan SMA dan berpendapatan Rp 1 juta lebih menegaskan, sangat sering melakukan transaksi
dengan koperasinya. Menjawab mengapa menjadi anggota koperasi, Rides
menjelaskan karena koperasi benar-benar menjadi pengikat rasa kepemilikan bersama segenap anggota. “Karena itu saya juga selalu memanfaatkan KUD Penebel sebagai wadah pelayanan ekonomi anggota dan
warga masyarakat di pedesaan sini,” tulis Rides di isian kuesioner.
Wayan Rides mengkritisi, kinerja koperasi di matanya lumayan baik.
Alasannya karena koperasi memiliki beberapa usaha yang memang
berkaitan atau menyentuh langsung dengan usaha yang dikerjakan oleh
para anggota koperasi maupun warga masyarakat.
Sedangkan arah perkembangan usaha koperasi, sepengamatan dia
juga sangat baik. Mengapa demikian? Karena para pengelola koperasi,
sejauh ini mampu mengimbangi beberapa
kebutuhan anggota. Baik untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan sarana penunjang buat kegiatan produksi anggota.
Faktor yang lebih penting, sebagian besar
anggota seringkali menyambut positif rencana-rencana atau program yang diterjemahkan pengurus dari berbagai forum
rapat koperasi.
Ia menambahkan, sebagai anggota
koperasi dirinya aktif mengikuti pelaksanaan setiap RAT. Rides juga menyatakan
s e l a l u  me n d a p a t   SHU  d i   t i a p   t a h u n .
Selain itu, ia aktif memberikan sejumlah
usulan konstruktif buat koperasinya. Terutama, tulisnya dalam jawaban kuesioner,
masukan-masukan kepada pengurus menyangkut kebutuhan-kebutuhan
anggota yang berprofesi membuka usaha tani.
Konsekuensinya, ia membuktikan dengan selalu membeli sarana
maupun bahan-bahan produksi usahanya dari koperasi. Misalnya, dari
penyediaan benih padi, obat-obatan, pupuk dan sarana produksi tani yang
lain. Di sisi lain, ia juga berupaya memberikan informasi dan perbandingan
harga barang yang sama di tempat lain.
Terkait pelatihan bagi anggota yang diadakan oleh koperasi, Rides
menjawab kadangkala mengikutinya. Yang jelas, ia ingat pernah mengikuti
pelatihan manajemen usaha tani di Denpasar, Bali pada tahun 1998 atau
tak lama setelah berlangsung peristiwa reformasi. Bahkan ia juga pernah
dikirim oleh koperasinya, menjalani pelatihan agrobisnis pada tahun 2004
di Depok, Jakarta.
Sebaliknya, ia menulis tidak pernah mengikuti pelatihan-pelatihan
yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah atau Badan Usaha Milik
Negara (BUMN). Menjawab apa saja faktor yang membuat koperasinya
Waserda KUD Penebel selalu
ramai dikunjungi anggota.
Zaenal Wafa297
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
berhasil, ia menyatakan antara lain para pengurus selalu melakukan
koordinasi dengan pihak perangkat desa melalui lembaga adat Bali yaitu
banjar. Selain itu, pengurus koperasi sering mengadakan serangkaian
penyuluhan ke kelompok-kelompok tani.
MANAJER MESTI LINCAH
Ni Nyoman Rentini (46), juga merupakan anggota KUD Penebel.
Bedanya, ia bukan peternak atau mempunyai usaha tani. Tapi, seharihari ia membuka warung kecil penjual barang kebutuhan sehari-hari di
rumahnya.  Lulusan SMA dan menanggung anggota keluarga 3 orang, ia
mengaku berpenghasilan lebih Rp 1 juta sebulan. Di samping itu, ia masih
mempunyai pendapatan tambahan kurang dari Rp 500 ribu tiap bulan.
Yang pasti, ia sangat sering melakukan transaski dengan koperasinya.
“Saya senang, karena semua jenis barang yang di jual lagi di rumah bisa
dicukupi dengan kulakan di koperasi,” tukas Nyoman Rentini spontan.
Sebagai anggota koperasi dan pemilik warung kecil, ia merasakan
kinerja pengurus relatif baik. Maksudnya, selama ini pengurus atau pengelola KUD Penebel sudah memberikan pelayanan yang adil. Konkritnya, beberapa jenis barang yang dibutuhkan selalu tersedia, perputarannya
lancar dan hak-hak dia seperti pembagian SHU juga selalu diterimanya.
Manfaat lain yang Rentini rasakan, di sisi kebutuhan keuangan juga tidak
pernah mengalami masalah yang berarti. Sebab, ia juga selalu menabung
maupun meminjam di unit usaha simpan pinjam koperasinya. Intinya,
keperluan keuangan untuk berbelanja di waserda tinggal memperhitungkan
posisi saldo simpanannya di USP.
Ia juga menulis pada jawaban kuesioner, dirinya kadang-kadang
mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh koperasi kepada
anggota. Terkait dengan kegiatan yang pada hakikatnya mempertajam
keterdidikan anggota ini, Rentini menyatakan dia pun pernah mengikuti
semacam diskusi ataupun lokakarya mengenai penyuluhan perkoperasian
jenis serba usaha.
Bagi dia, keterlibatan menjadi anggota koperasi di desanya memberikan manfaat tidak sedikit. Persisnya ia menyatakan, keberadaan KUD
Penebel di desanya jelas banyak berguna bagi warga masyarakat setempat.
Apalagi menurut hemat dia, koperasinya mengambil bentuk atau berjenis
koperasi serba usaha.
Namun demikian, Ni Nyoman Rentini sempat menyampaikan kritik
dan saran kepada koperasi yang berkali-kali mendapat penghargaan di
tingkat lokal dan nasional ini. Intinya, ia mengharapkan agar manajer
koperasi harus lincah dalam mengendalikan seluruh unit usaha. Seiring
dengan itu, pola manajemen koperasi juga harus dilakukan secara terbuka.
MEMBUKA TEMPAT PELAYANAN
Khusus dalam konteks dukungan sumber daya manusia, Ketua KUD
Penebel I Made Cager menyatakan, sejak tahun 2000 koperasi mengangkat
seorang manajer. Manajer ini bekerja berdasarkan sistem kontrak kerja yang
ditandatangani oleh kedua belah pihak. Maksudnya, sejumlah prinsip-prinsip298
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
manajemen terkait pekerjaan seorang manajer juga diukur secara jelas.
Misalnya, apa saja uraian tugas manajer disampaikan secara terbuka.
Selain itu, beberapa rencana kerja manajer juga harus dilakukan secara
tertulis. Selanjutnya pada periode tertentu, manajer juga mesti menyampaikan pertanggungjawaban atau laporan hasil pelaksanaan kerja kepada
jajaran pengurus.
Dari sisi tingkat pendidikan, tiga orang jajaran pengurus koperasi ini
merupakan lulusan SMA. Sedangkan dua orang pengurus tercatat lulusan
strata satu (S1) perguruan tinggi. Sementara pengawas koperasi yang
berjumlah tiga orang, semuanya lulusan SMA.
Bagaimana tingkat pendidikan anggota? Disebutkan, dari 1.949 orang
anggota koperasi yang aktif, 950 orang di antaranya merupakan lulusan
SD. Sedangkan lulusan SMP tercatat 500 anggota dan 483 anggota
koperasi merupakan lulusan SMA. Sementara anggota koperasi yang
berhasil menyelesaikan program S1 perguruan tinggi tercatat sebanyak
16 orang. Di jajaran karyawan koperasi, sebagian besar atau 42 orang
merupakan lulusan SMA. Lulusan SMP hanya dua orang.
Made Cager menambahkan, koperasi yang dipimpinnya berencana
mengembangkan jumlah anggota. Caranya, membuka tempat-tempat
pelayanan baru koperasi di masing-masing desa sesuai wilayah kerja
koperasi.Hingga saat ini, partisipasi aktif anggota pada setiap pengambilan
keputusan mencapai 50 persen.
KINERJA KEUANGAN
Menurut dokumen sederhana berjudul ‘Profil KUD Penebel, Perkembangan dari Tahun 1984 s/d 2005’, halaman 6 disebutkan mengenai perkembangan permodalan. Ambil contoh posisi 1984, modal sendiri tercatat
Rp 2,152 juta dan modal donasi sejumlah Rp 4,014 juta. Hampir 15 tahun
kemudian atau pada 1997, modal sendiri koperasi sudah mencapai Rp
2,554 miliar. Sedangkan modal donasi hanya tinggal Rp 15,909 juta.
Sampai posisi keuangan akhir 2005, modal sendiri koperasi pencapaiannya senilai Rp 3,274 miliar. Sementara modal bersifat donasi hanya
sebesar Rp 99, 512 juta.
Bagaimana dengan nilai aset, volume usaha dan SHU koperasi ini?
Pada periode 1984 pencapaian aset sebesar Rp 24,8 juta, volume usaha
Rp 3,9 juta dan SHU sebesar Rp 47.218.
Menjelang era reformasi atau di puncak krisis ekonom 1997, aset
koperasi sudah mencapai Rp 3,311 miliar, volume usaha senilai Rp 3,323
miliar dan SHU yang dibagikan sejumlah Rp 91,828 juta. Yang jelas,
hingga posisi akhir 2005 halaman 7 dokumen menyebutkan, aset koperasi
menjadi Rp 7,985 miliar. Lalu volume usaha senilai Rp 14,963 miliar.
Sedangkan SHU koperasi mencapai Rp 254,881 juta.***299
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
SUMATERA UTARA
KUD Kandangan Simalungun
BISNIS BERBASIS
299
KEBUTUHAN ANGGOTA
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Dokumentasi300
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
J
auh dari hingar bingar khas perkotaan. Tepatnya, di Desa Kandangan,
Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera
Utara, bisa kita temui KUD Kandangan. Sepintas lalu tak ada yang
istimewa dengan koperasi yang berdiri sejak 1973 ini, terlebih keberadaannya yang jauh dari gemuruh ekonomi kota besar.
Tidak demikian halnya dengan Desa Kandangan, P Nauli, Purbaganda
dan Purwosari, empat desa yang merupakan wilayah kerja koperasi ini.
Kehadiran KUD sangat vital karena merupakan sentra kebutuhan sarana
pertanian bagi sekitar 80% penduduknya yang mengais kehidupan di
sektor pertanian.
Dalam rentang 33 tahun masa beroperasinya, KUD Kandangan masih
tetap eksis dan produktif melayani anggota. Karena produk layanannya
memang kebutuhan riil ekonomi anggota, yaitu pengadaan saprodi,
saprotan serta pestisida. Selain itu, posisi wilayah yang sangat potensial
b a g i   t a n ama n   p a d i   d a n   p a l awi j a   i n i  me n g h a d a p i  ma s a l a h   s a r a n a
perhubungan dan transportasi yang sulit menjangkau perkotaan. Sehingga
peran koperasi sebagai motor ekonomi pedesaan terasa sangat menonjol.
Berangkat dari kendala perhubungan itulah KUD ini lahir. Ketika itu
para tokoh masayarakat di empat nagori atau desa tersebut prihatin dengan
rendahnya nilai tukar pertanian. Para petani tidak punya banyak pilihan
ketika hasil produksinya dibayar murah oleh para tengkulak. Untuk
menjual langsung ke pusat kota, mereka terbentur oleh kendala transportasi.
Dari hasil rembug keprihatinan itu dan didorong oleh kepala desa
setempat, akhirnya pemuka masyarakat sepakat membentuk koperasi.
Tujuannya, mengatasi dan membantu petani memenuhi kebutuhan sarana
pertanian dan menjual hasil pertaniannya dengan harga yang layak.
Berdasarkan petunjuk teknis dari aparat Dinas Koperasi Daerah
Tingkat II Simalungun, secara musyawarah dibentuklah KUD KandangSelain RMU juga
memiliki areal
lantai jemur.
Dokumentasi301
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
1. Anggota 1.597 1.592 1.627 1.627 1.627
2. Karyawan 20 21 24 27 28
Tabel 1. Perkembangan Anggota (orang)
an tertanggal 20 September 1973 dengan status badan hukum No 3108/
BH/III. Selanjutnya pada tanggal 10 Juni 1996 dilakukan pembaharuan
b a d a n   h u k u m ,   m e l a l u i   N o   3 3 4 / PA D / K W K . 2 / V I / 1 9 9 6 ,   N P W P :
0122296190117000 dan SIUP: 001702.15/SIUP-PM/VI/2006.
MULTI ETNIS
Meskipun lokasinya berada di pedesaan dengan mayoritas suku Batak,
namun koperasi ini memiliki keunikan tersendiri. Karena lembaga ini
diwarnai oleh multi-etnis yang kental. Sehingga dapat dikatakan KUD Kandangan merupakan salah satu koperasi bernuansa bhineka tunggal ika.
Karenanya filosofi kebersamaan berdasarkan keragaman lintas etnis,
agama dan budaya menjadi modal utama koperasi membangun dan mengembangkan organi s a s i  untuk mens e j aht e r akan  anggot a  dan ma -
syarakat.
Perjuangan panjang mengembangkan dan mempertahankan KUD
Kandangan tetap eksis, tidak terlepas dari jasa baik dan kegigihan tokohtokoh koperasi setempat. Antara lain, Rikat Suyanto, Safar Suharto, Abdul
Kadir dan Abdullah.
Pada awal pengembangan usaha, koperasi merespon kebutuhan petani
dengan membentuk unit usaha rice milling unit (RMU). Seiring perkembangan dan kebutuhan petani yang semakin beragam sampai dengan
tahun 2006, jenis usaha koperasi berkembang menjadi 10 jenis usaha.
R i n c i a n n y a ,   R M U   k a p a s i t a s   k e c i l ,   p e n g a d a a n   p a n g a n ,   w a s e r d a ,
penyaluran saprodi/distributor pupuk, USP (termasuk KUT, MAP, BBM),
wartel, penagihan listrik dan RMU kapasitas besar atau program bank
padi.
Anggota KUD Kandangan berkembang dari 1.597 orang pada tahun
2001 menjadi 1.627 orang pada tahun 2005 (tumbuh 1,88%). Segmen
pelayanan KUD tidak hanya terbatas bagi anggota, tetapi diperluas bagi
non anggota. Faktanya, masyarakat yang dilayani berkembang dari 2.100
orang pada tahun 2001 menjadi sebanyak 2.430 orang pada 2005.
Bagaimana koperasi ini memenej usahanya? Cukup dikendalikan oleh
tiga orang pengurus yaitu H. Abdullah sebagai Ketua, dibantu oleh Yusuf
Sugito (sekretaris) dan Surtinah (bendahara). Sementara peran dan fungsi
pemeriksaan dipercayakan pada auditor eksternal. Sedangkan operasional
usaha sepenuhnya dilaksanakan oleh para manajer.
Seiring dengan perkembangan usaha koperasi, jumlah karyawan yang
dipekerjakan bertambah. Tahun 2001 koperasi ini menyerap tenaga kerja
sebanyak 20 orang karyawan dan meningkat menjadi 28 orang karyawan
pada tahun 2005. (Lihat Tabel 1). Fenomena ini menggambarkan suatu302
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
pengejawantahan dari salah satu prinsip koperasi yang memiliki kepedulian
terhadap lingkungan sosial.
Sebagai perwujudan dari salah satu prinsip koperasi, yaitu orientasi
pendidikan,  KUD Kandangan  s e j ak  t ahun 2001 menyi s ihkan dana
pendidikan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan SDM.
Besaran dana pendidikan tersebut memang belum cukup memadai yaitu
berkisar Rp 500 ribu, dan pada 2005 dapat disisihkan sebesar Rp 1,1
juta. Ke depan, penyisihan dana untuk pendidikan anggota itu diupayakan
bertambah karena mengingat aspek kualitas SDM merupakan unsur
strategis menghadapi persaingan ketat di era global.
Keberadaan KUD Kandangan diyakini anggota sangat bermanfaat.
Mengapa? Karena terdapat keterkaitan usaha yang kental, antara jenis
usaha koperasi dengan kebutuhan dan usaha petani atau anggota koperasi,
seperti pupuk dan simpan pinjam.
Begitu pula partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan, terbuka
seluas-luasnya sejak pra-Rapat Anggota Tahunan (RAT) maupun dalam
RAT (paripurna). Yang jelas, tingkat partisipasi anggota ditemukan mendekati 90%. Besaran prosentase tersebut ternyata tidak jauh berbeda
dengan hasil wawancara pada anggota koperasi.
Sementara itu, tidak kalah penting adalah partisipasi ekonomi anggota.
Terutama untuk membentuk kekayaan bersama melalui pemupukan atau
penyertaan modal, peningkatan transaksi dengan pembagian SHU sesuai
dengan besar kecilnya transaksi anggota. Kondisi ini merupakan salah
satu jaminan bagi KUD Kandangan untuk memperkuat dan mengembangkan organisasi dan kegiatan usahanya.
JALIN KEMITRAAN
Kegigihan pengurus mengembangkan dan mempertahankan eksistensi agar tetap survive, pada gilirannya membuahkan hasil. Koperasi ini
mendapat kepercayaan menjalin kemitraan dengan sejumlah lembaga lain
yang berkepentingan.
Sebagai contoh, pembaharuan kerja sama dengan PLN Cabang Pematang Siantar tertanggal 2 Januari 2006, No. 003/060/PDG/2006. Hal
ini terkait dengan KUD sebagai pencatat dan penagih rekening listrik.
Kemudian juga perjanjian kerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya
tentang KUD sebagai distributor pupuk Kabupaten Simalungun, tertanggal 1 Mei 2006 dengan No U-042/SPJB/31210000.PS/2006.
Wujud kepercayaan lain, nampak dalam bentuk diperolehnya kredit
dengan pola bergulir dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
Antara lain, kredit itik tahun 2003 dengan nilai guliran Rp 100 juta,
Kredit MAP tahun 2003 (Rp 200 Juta), dan kredit Bank Padi tahun
2004 (Rp 1,267 miliar) serta kredit BBM sebesar Rp 100 juta pada
tahun 2001.
Pada dasarnya kepercayaan dan perkuatan yang telah diberikan kepada koperasi adalah sumber modal yang murah, dan menjadi peluang pengembangan usaha KUD. Hal ini sekaligus merupakan tantangan berat
dan harus dapat dipertanggungjawabkan.
KUD Kandangan menyediakan
berbagai kebutuhan
dan usaha anggota.
Dokumentasi303
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tabel 3.  Rasio Keuangan KUD Kandangan
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
432 349 545 1.027 520
202,7 197,9 157,1 114,6 114,6
3,69 4,37 3,21 1,11 0,97
1. Likuiditas (%)
Current Ration=
Harta Lancar
Kewajiban Lancar
2. Solvabilitas (%)
Total Asset
to Total Debt
  =
Asset Total
Modal Luar
3. Rentabilitas (%)
S H U
Total Asset
Return On
Asset (ROA)
 =
Tabel 2.  Kinerja Usaha KUD Kandangan (Rp. 000)
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
SHU 15.880 21.286 22.080 22.725 20.339
Modal Luar 211.844 245.853 437.105 1.774.387 1.828.673
Modal Sendiri 217.628 240.638 249.730 259.005 267.692
Asset Total 429.473 486.492 686.835 2.038.388 2.095.866
Kewajiban Lancar 80.508 117.665 112.919 91.531 180.817
Harta Lancar 347.723 411.129 615.508 939.905 941.107
Volume Usaha 2.778.279 2.976.336 2.700.728 3.008.849 4.834.478
Upaya pengembangan dan perluasan kemitraan yang dilakukan oleh
koperasi, sebetulnya merupakan perwujudan dari salah satu prinsip
koperasi tentang kerja sama antar lembaga.
 Kinerja KUD Kandangan ditinjau dari aspek spirit perkoperasian
memang layak dipertimbangkan sebagai koperasi yang gigih bertahan di
tengah kancah kompetisi yang semakin ketat. Namun dari aspek manajerial,
KUD Kandangan tetap memerlukan pembenahan manajemen agar seluruh
kegiatannya tertopang oleh semangat wirausaha koperasi yang sudah
terbentuk. (Lihat Tabel 2)
Selanjutnya dari sisi likuiditas, kinerja KUD Kandangan tahun 2001
s/d 2005 (terutama peningkatan harta lancar pada tahun 2004) sangat tinggi.
Namun dalam pengertian lain terjadi stok persediaan barang yang cukup
besar dan pengembalian piutang yang kurang lancar. Tentunya hal ini
selayaknya menjadi perhatian pengurus KUD ke depan untuk lebih
dicermati.
Sedangkan rasio solvabilitas dengan besaran yang semakin menurun,
berarti peningkatan dan perkembangan modal luar jauh lebih cepat
da r ipada  peningka t an moda l   s endi r i .  Sehingga  upaya  peningka t an
efektivitas penggunaan modal luar dan pemupukan modal sendiri juga
menjadi PR khusus bagi pengurus ke depan.
Sementara rasio rentabilitas juga menunjukkan angka yang menurun.
Walaupun pada dasarnya koperasi tidak mengejar laba semata tetapi
pelayanan maksimal yang dapat dirasakan para anggotanya. Namun ke
depan kinerja rentabilitas tetap perlu ditingkatkan. Caranya, antara lain304
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi usaha dan organisasi serta
peningkatan  market share.  Te rma suk peningka t an pe l ayanan RMU
kepada anggota dan masyarakat guna menghadapi persaingan dengan
RMU keliling.
KIAT DAN MODAL KEJUJURAN
Dalam operasionalisasi kegiatan usahanya, pengurus menerapkan
beberapa kiat spesifik, yakni kejujuran, tidak mencoba mengusik modal
KUD untuk kepentingan pengurus dan menanamkan rasa memiliki KUD
yang tinggi (sense of belonging). Selain itu, pengurus berusaha selalu
be ror i ent a s i  kepada  kebutuhan dan ke inginan  anggot a   a t au pe t ani
(consumer oriented) serta menegakkan disiplin pegawai.
I t u l a h   k i a t - k i a t   k u n c i   d a l am me n g e l o l a   k o p e r a s i   y a n g   s e l a l u
ditanamkan oleh pengurus ke benak jajaran manajer, karyawan dan
anggota. Sehingga ke depan KUD Kandangan dapat mengatasi seluruh
tantangan untuk menggapai kemajuan dan perkembangan yang lebih
nyata.
Metode lebih rinci yang diterapkan di tingkat operasional antara lain,
sistem perangkat lunak (software) akuntansi koperasi dengan model
ma n a g eme n t   s e r v i c e   a r a n g eme n t  d a n  me n g g u n a k a n   a n a l i s a   r a s i o
k e u a n g a n   s t a n d a r   ( l i k u i d i t a s ,   s o l v a b i l i t a s   d a n   r e n t a b i l i t a s )   u n t u k
mengevaluasi kinerja keuangan KUD.
Sesuai tuntutan, koperasi juga menggunakan prinsip 5 C untuk
mengurangi resiko pemberian kredit. Bentuknya, pengurus memberi
imbalan jasa bagi mereka yang tepat waktu pengembalian kreditnya.
Namun untuk pemberian kredit di atas Rp 3 juta diharuskan menggunakan
agunan.
Pengurus menerapkan bimbingan langsung, pelatihan dan studi
banding untuk meningka tkan ke t e r ampi l an dan penge t ahuan SDM
(manajer, karyawan dan anggota). Tak kalah penting, koperasi melakukan
penelitian terhadap efektivitas RMU agar menghasilkan kualitas yang lebih
baik. Terkait hal ini, mensosialisasikan program-program koperasi kepada
kelompok-kelompok tani, anggota-anggota dan masyarakat yang datang
ke KUD juga amat penting.
Ki a t - k i a t   d a n  me t o d e   p e l a y a n a n   i n i   d i u p a y a k a n   u n t u k   s e l a l u
diperbaharui dan disesuaikan dengan perubahan kondisi dan kebutuhan
anggota. Pada gilirannya kiat-kiat tersebut ditujukan semata-mata untuk
kemajuan koperasi, kepentingan dan kesejahteraan anggota KUD.***305
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA TIMUR
Koperasi Petani Tebu Rakyat
“Sumber Manis” Mojokerto
DI TENGAH KEPRIHATINAN
BERJUANG
305
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Dokumentasi306
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
L
ogikanya Indonesia sebagai negara agraris dengan lahan pertanian
s anga t   lua s ,   s emua  komodi t i  pe r t ani an dapa t  dibudidayakan.
Termasuk tebu sebagai bahan baku gula. Sayangnya, komoditi
t e r s ebut  makin  t idak popul e r  untuk diga l akkan.  Akiba tnya ,  untuk
memenuhi  kebutuhan bahan baku,  pabr ik gul a  ma s ih kekur angan.
Dampaknya, gula yang dihasilkan pabrik tersebut tidak sebanding dengan
permintaan pasar, sehingga secara nasional untuk memenuhi konsumsi
gula konsekuensinya harus impor.
Sisi lain, petani tebu tidak menerima perlakuan yang adil dari
produsen gula. Mereka tidak mempunyai kekuatan posisi tawar dengan
harga yang memuaskan. Kasarnya, kurang mendapatkan perhatian. Untuk
menanam kembali lahannya sulit memperoleh bibit unggul, pupuk maupun
obat-obatan. Maka mempengaruhi minat menanam tebu sangat rendah.
Lebih-lebih ketika kredit Tebu Rakyat Indonesia (TRI) dicabut, kondisi
petani untuk meningkatkan produktivitasnya semakin sulit.
Beruntung dalam menghadapi kondisi yang penuh keprihatinan ini
masih ada kemauan petani yang setia untuk menanam komoditi berbatang
manis itu. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap
semangat untuk mengatasi rintangan-rintangan yang ada.
Me r eka   akhi rnya   s epaka t  membentuk kope r a s i .  Keyakinannya ,
dengan berkoperasi menjadi solusi terbaik untuk bisa bangkit kembali.
Maksudnya, dapat menjembatani kepentingan petani tebu, dari penyediaan
lahan, bibit, penyediaan modal, pengolahan lahan, panen, pengangkutan
dan proses pengolahan ditingkat pabrik, termasuk memperjuangkan hakhaknya sebagai petani.
Sejak koperasi memperoleh legalitas Badan Hukum No 013/BH/
KDK.13.32/VI/I999 pada 24 April 1999, jkondisinya kian eksis. Dalam
perkembangannya, koperasi ini pun melakukan diversifikasi usaha.
Terutama jenis usaha yang memiliki prospek bagus. Bidang usaha yang
telah dikembangkan  oleh koperasi diantaranya yaitu pelayanan jasa
(bongkar raton), produksi tebu, perdagangan yang meliputi penjualan
BBM, pupuk dan gula.
MANAJEMEN
Koperasi Sumber Manis yang berlokasi di Jalan Gunung Anyar,
Gedangan, Magersari, Mojokerto, Jatim ini pun berkembang.  Dalam
melaksanakan usahanya, koperasi dikelola oleh tim kerja yang terdiri dari
tiga orang pengurus, satu orang pengawas dan satu orang juru buku.
Pertemuan dan koordinasi koperasi ini secara kontinyu. Selama tahun
buku 2005 pengurus telah melakukan pertemuan sebanyak 14 kali,  dengan
pengawas sebanyak 2 kali. Pertemuan dengan pihak lain sebanyak 12
kali. Bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban koperasi masih bersifat
kuantitatif. Uraian yang bersifat hasil analisis kegiatan baik terkait dengan
kegagalan atau keberhasilan program tidak diangkat ke permukaan,
sehingga upaya penyusunan perencanaan yang lebih baik sulit untuk
diwujudkan.307
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tabel 1.
Perkembangan Anggota
KEANGGOTAAN
Jumlah anggota yang terdaftar dan perkembangannya sampai dengan
tahun 2005 lihat tabel 1.
Ta b e l   t e r s e bu t   m e n u n -
j u k a n   a d a n y a   p e n i n g k a t a n
jumlah anggota. Sebagai upay a   p e n i n g k a t a n   S D M   p a r a
anggot a  maupun pengurus ,
maka  koperasi melakukan kegiatan pembinaan dalam berbagai pelatihan.
Baik yang dilakukan sendiri maupun bekerja sama dengan pihak lain. Di
antaranya tentang pengunaan Teknologi GPS dan pengukuran sawah,
teknis budi daya tebu dan penentuan randemen, akutansi manajemen,
kewirausahaan, kelayakan usaha kecil, pengenalan komputer,  training
fasilitator pemberdayaan dan mengikuti semi-lokakarya UKM.
MOTIVASI ANGGOTA
Dalam upaya mengembangan usaha koperasi, pengurus telah merumuskan beberapa kiat, diantaranya dengan permodalan yang berasal  dari
pihak ketiga, bermitra dengan Bank dan bantuan dana bergilir.
Pengurus  ke r ap memotivasi pada anggota agar merasa memiliki terhadap koperasi sehingga kesejahteraan
dapat dinikmati. Bentuk lainnya mampu memberikan uang
THR, dana rekreasi dan sumbangan kematian.
Untuk mengetahui sejauh
ma n a   k i n e r j a   k o p e r a s i   d a n
pr e s t a s i  yang di c apa i ,   l iha t
tabel 2 dan tabel 3.
Ta b e l   2   d a n   3   m e n u n -
jukkan adanya peningkatan modal kerja yang berasal dari bantuan dana
Tabel 2. Indikator
Kinerja Koperasi
Petani Tebu Rakyat
Tabel 3. Komposisi
Permodalan Koperasi
Petani Tebu Rakyat
Indikator 2003 2004 2005
1. Pendapatan Jasa kotor 91.062.949 54.766.373 69.526.808
2. Biaya Operasional 61.434.101 50.434.532 40.089.631
3. Hasil Usaha Sebelum Pos Lain 29.628.848 4.331.841 29.437.177
4. Pos Lain-lain
a. Pendapatan lain (bunga bank) 1.165.329 1.192.065
b. Beban lain diluar usaha (4.773.539)
Jumlah pos lain (3.608.210) 1.192.065
5. Saldo Sisa Usaha Tahun Berjalan 29.628.848 723.631 30.629.242
6. Modal Pinjaman 11.440.213 78.717.522 79.841.699
7. Modal Sendiri 177.027.173 254.838.645 384.393.710.
No. Uraian 2002 2003 2004 2005
1. Anggota Penuh 38 42 45 51
2. Calon Anggota 2 3 6 -
URAIAN 2003 2004 2005
1. MODAL SENDIRI  
 a. Simpanan Pokok 4.100.000 4.500.000 5.100.000
 b. Simpanan Wajib 3.830.000 4.870.000 6.130.000
 c. Dana Cadangan         4.093.475        15.945.014        16.234.468
 d. SHU Belum Dibagi       29.628.848             723.631        30.629.242
 e. Modal Donasi (Ratoon)     135.374.850      228.800.000      326.300.000
 Jumlah     177.027.173      254.838.645      384.393.710
2. MODAL PINJAMAN  
 a. Simpanan Sukarela            300.000             300.000             300.000
 b. Hutang Dana Bergulir         5.000.000          4.500.000        10.000.000
 c. Hutang Bank Jatim                        -        50.000.000        45.000.000
 d. Dana - dana         6.140.213        23.917.522        24.351.699
 Jumlah       11.440.213        78.717.522        79.651.699
3. TOTAL MODAL USAHA 188.467.386        333.556.167 464.045.409308
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tabel 4. Perkembangan Aset Koperasi
URAIAN 2003 2004 2005
1. Volume Usaha UMTA/OPTA  465.659.850       25.860.000  304.005.000
2. Volume Usaha USP    54.660.000       72.675.000  138.300.000
3. Volume Usaha BBM      243.590.000  146.165.000
4. Volume Usaha Ratoon  135.374.850     195.000.000  100.000.000
5. Volume Usaha Muamalat                     -     47.000.000
6. Penjualan Gula                     -     31.898.300
7. Penjualan Pupuk                     -     30.760.000
8. SHU    29.628.848            723.631    30.629.242
Jumlah  685.323.548     537.848.631  828.757.542
RASIO 2003 2004 2005
Liquidity - Current Ratio= Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar 2,22 2,80 2,50
 - Current Kiability to Net  worth=Kewajiban Lancar : Modal sendiri 0,76 0,94 1,22
Leverage Total Debt to Equity = Jumlah Kewajiban : Modal sendiri 0,77 0,96 1,23
 
Activity - Total Aset Turnover = Pendapatan Netto : Jumlah Aktiva 0,26 0,23 0,17
 - Net Operting Profit Margin = SHU seb.Pajak : Pendapatan Penjualan 0,22 0,21 0,28
bergulir dan pinjaman bank. Sedang modal sendiri yang berasal dari
simpanan anggota tidak banyak mengalami peningkatan. Perolehan SHU
pada tahun buku 2005 meningkat dibanding  tahun buku sebelumnya.
Mengukur koperasi itu berasal memang tidak mutlak dengan besarnya
SHU tetapi bila koperasi tersebut telah memberikan fasilitasi pada anggota
untuk melakukan suatu usaha produktif juga sangat baik. Apalagi jumlah
anggota Koperasi Sumber Manis per 31 Desember 2005 sebanyak 51
orang. Inilah catatan perkembangan aset dari 2003 hingga 2005. Pada
tahun buku 2005 jumlah aset sebesar Rp 685,3 juta. Tahun buku 2004
sebesar 538 juta dan pada tahun 2005 sebesar 829 juta.
PENGEMBANGAN USAHA
Koperasi ini mampu bertahan selama tujuh tahun berkat adanya kebersamaan, partisipasi, keuletan dan kesamaan kepentingan. KPTR ini
mengandalkan kemandirian dan partisipasi, dan sama sekali tidak memperoleh program kredit dari pemerintah sehingga tidak memikul beban
pinjaman.
Disamping itu, koperasi ini mengembangkan usaha jasa (bongkar
muat, tebu, produksi, saprodi dan USP, yang erat kaitannya dengan usaha
anggota. Sesuai dengan kiat susksesnya, diharapkan kiprah koperasi ini
dapat memenuhi kepentingan petani tebu dan kesejahteraannya, serta
mendukung pembangunan ekonomi di wilayah kerjanya.***
Tabel 5.
Komposisi Rasio
Kinerja Koperasi
Petani Tebu Rakyat309
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA TENGAH
KUD Pringgodani Demak
KELOLA DENGAN PRINSIP
KEMANDIRIAN
Jahoras310
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
U
sia Koperasi Unit Desa (KUD) Pringgodani ini lumayan dewasa.
Berdiri tahun 1974 di Desa Gajah kecamatan Gajah Kabupaten
Demak. Berdirinya KUD Pringgodani diawali dengan bergabungnya
beberapa koperasi desa seperti Koperasi Desa Jatisono, Gajah, Surodadi
dan Mekang serta Banjarsari dengan pengesahan Badan Hukum Nomor:
8504/BH/1974, pada 1 Pebruari 1974.
Dalam perjalanan waktu, koperasi ini beberapa kali melakukan perubahan Anggaran Dasar sebagai tuntutan penyesuaian terhadap perkembangan keadaan. Terakhir perubahan dilakukan pada 22 April 2003 dengan
pengesahan Badan Hukum dari Kanwil Depkop Jawa Tegah dengan
Nomor 850 D/PAD/BH/2003. Mulanya koperasi ini hanya memiliki satu
unit usaha yaitu pangan dengan anggota sebanyak 17 orang.
KUD Pringgodani berada di wilayah dengan penduduk sebagian besar
bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Atas kesungguhan
para pengurus dan pembinaan dari pejabat kantor Koperasi Jateng, KUD
Pringgodani berkembang, baik dari jumlah keanggotaan maupun unitunit usaha yang dikelola. Pada 2005 koperasi ini memiliki anggota 319
orang dan calon anggota 3275 yang tersebar di 16 desa di kecamatan
Gajah, yang merupakan wilayah kerjanya. Unit usaha yang dikelola
meliputi, rice mill unit (RMU) dua unit, perdagangan dan pengadaan
(beras/ padi, kacang hijau, pupuk dan saprotan), jasa pelayanan pembayaran rekening listrik, perbaikan gangguan jaringan listrik, wartel serta
perkreditan dan USP.
Pengelolaan unit usaha ini dibawah kendali seorang manajer bernama
Etty Rochmawatini dibantu para karyawan yang saat ini berjumlah 28
orang. Perkembangan KUD Pringgodani yang cukup pesat mendapat perhatian dari pemerintah. Beberapa penghargaan telah diberikan, antara lain
penetapan KUD Pringgodani sebagai KUD Model (1979), KUD Andalan
(1984) KUD Klasifikasi A (1986), KUD Terbaik Kabupaten Demak
(1987-1988) dan penetapan sebagai KUD Mandiri (1989).
MANAJEMEN
Sebagai badan usaha berbentuk koperasi, struktur kelembagaan dan
manajemen pengelolaan usaha KUD Pringgodani tunduk dan diatur sesuai
dengan peraturan perundangan perkoperasian Nomor 25 tahun 1992 serta
peraturan pelaksanaan lainnya.
Berkaitan dengan hal itu, Pengurus KUD Pringgodani berusaha secara
konsisten mematuhi semua ketentuan-ketentuan yang telah digariskan
dalam perundangan tersebut. Indikatornya, dapat dilihat misalnya dalam
penyelenggaraan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang secara rutin dilakukan setiap tahun. RAT ini merupakan lembaga tertinggi dalam koperasi
sebagai wadah partisipasi para anggota untuk menyampaikan pendapat
atau masukan kepada pengurus.
Dalam forum RAT inilah keputusan-keputusan penting diambil,311
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
seperti pemilihan kepengurusan dan pertanggungjawaban pengurus, penetapan rencana kerja serta kebijakan umum lainnya. Peran serta para anggota
dalam setiap rapat anggota tahunan KUD Pringgodani cukup besar.
Sebagaimana dituturkan A. Jazeri, SE, Ketua KUD Pringgodani, bahwa,
setiap RAT, mayoritas para anggota hadir dan berperan aktif dalam
memberikan pendapat serta masukan-masukan kepada pengurus dalam
pengelolaan koperasi.
Pada RAT tahun buku 2004, terpilih lima orang pengurus yang di
ketuai oleh H A Jazeri, SE, sementara untuk pengawas diketuai oleh
Suwandi dan dibantu dua orang anggota. Untuk menjalankan roda usaha,
pengurus mengangkat pengelola usaha yaitu Etty Rachmawatini sebagai
Manajer. Hubungan kerja antara pengurus dan manager ini bersifat
kontraktual. Manager mendapat wewenang dan kuasa dari  pengurus untuk
menjalankan atau mengelola unit-unit usaha yang ada di KUD.
Dengan pengangkatan menajer tersebut, pengurus bertindak sebagai
pengawas pengelola usaha dalam menjalankan wewenang dan kuasa yang
diberikan.
Pengelola usaha tidak bertanggung jawab kepada rapat anggota
tahunan, melainkan kepada pengurus. Semua kegiatan pengelolaan usaha
yang dilakukan oleh pengelola usaha tetap menjadi tanggung jawab pengurus dihadapan rapat anggota tahunan KUD Pringgodani.
PRINSIP KEMANDIRIAN
Pengelolaan usaha KUD ini oleh pengurus didasarkan pada prinsip
kemandirian. Peluang-peluang usaha dirintis dengan membuka jaringanjaringan bisnis dengan pihak-pihak lain dengan hitungan-hitungan atau
Kantor Pelayanan
KUD Pringgodani.
Jahoras312
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
analisa kelayakan usaha secara cermat. Prinsip demikian ini menuntut
para pengelola (manajemen) harus secara jeli dan cepat melihat dan  memanfaatkan kesempatan–kesempatan untuk membuka usaha yang dinilai
layak, demi kepentingan perkembangan usaha KUD Pringgodani.
Menurut   J a z e r i ,  untuk dapa t  be rkembang kope r a s i  ha rus  dapa t
mandiri, tidak lagi mengharap fasilitas-fasilitas dari pemerintah. Agaknya,
prinsip inilah yang menempatkan KUD Pringgodani tetap eksis dalam
pengelolaan usahanya walau terjadi perubahan iklim kebijakan pemerintah
dalam hal fasilitas-fasilitas terhadap dunia usaha perkoperasian yang semakin berkurang. Prinsip kemandirian koperasi inilah yang juga diharapkan
pemerintah dengan dicanangkannya KUD-KUD Mandiri di Indonesia
sejak tahun 1987 lalu.
USAHA DAN KEMITRAAN
Berbagai usaha yang dikelola KUD Pringgodani terkait dengan pihak
eksternal sebagai mitra usaha. Dalam hal pengadaan pangan misalnya,
KUD Pringgodani mengikat kerjasama dengan Perum Bulog Sub Divisi
Regional I Semarang. KUD ditunjuk menjadi rekanan pengadaan gabah
dan beras. Pada 2004 mencapai target kontrak sebesar 675 ton gabah dan
687 ton beras. Pada 2005 kontrak yang sama mencapai 700 ton gabah
dan 8.000 ton beras. Pada tahun 2006 ini kontrak pengadaan gabah dan
beras ini masih ada dan sedang berlangsung.
Kontrak pengadaan gabah dan beras ini tercapai berkat dukungan
dua unit RMU yang dimiliki KUD Pringgodani. RMU ini dilengkapi
dengan fasilitas pendukung lainnya, seperti gudang, lantai jemur, angkutan
truk. Demikian halnya unit usaha jasa pembayaran rekening listrik dan
pemeliharaan jaringan, KUD Pringgodani mengikat kerja sama dengan
PLN wilayah Demak. Kerja sama ini meliputi penerimaan tagihan rekening
listrik dari pelanggan dan pemeliharaan jaringan listrik atau pelayanan
gangguan. Untuk melaksanakan penagihan rekening listrik ini, KUD
memb u k a   b e b e r a p a   o u t l e t  s e b a g a i   t emp a t   p emb a y a r a n   b a g i   p a r a
pelanggan. Tercatat pada 2004 pelanggan yang dilayani sebanyak 7.268
orang. Pada 2005 jumlah pelanggan bertambah menjadi 7.632 orang. Dari
kerjasama penagihan listrik ini, KUD mendapat fee sebesar Rp 400 dari
setiap rekening.
Sementara untuk melaksanakan kerjasama pemeliharaan jaringan dan
gangguan, KUD Pringgodani memiliki lima orang tenaga terampil dan
berkualifikasi yang telah diakui PLN Wilayah Demak. Besarnya nilai
kontrak dan sistem kerja ditentukan oleh PLN. Pembayarannya diatur
sesuai dengan tahapan pekerjaan yang dituangkan dalam berita acara yang
disetujui kedua belah pihak.
Akan halnya dengan pengadaan sarana produksi pertanian seperti
pupuk misalnya atas bantuan dan usulan Puskud Jateng serta rekomendasi
dari kantor Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Jateng, permohonan313
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
KUD Pringgodani untuk menjadi distributor pupuk urea di Demak
dikabulkan oleh pihak manajemen Pupuk Kaltim terhitung mulai 1 April
2006. Untuk melaksanakan penunjukan sebagai distributor pupuk urea
ini, KUD Pringgodani harus menyiapkan rencana kerja berupa perkiraan
kebutuhan pupuk di wilayah Demak.
Unit usaha lainnya, yang merupakan salah satu andalan KUD Pringgodani adalah unit usaha perkreditan. Unit usaha ini mencakup kredit
pertanian dan simpan pinjam. Dengan fasilitas kredit dari BRI, KUD
Pringgodani dapat menyalurkan kredit pertanian kepada para anggotanya
sebesar Rp 400 juta. Proses pengembaliannya sampai saat ini dinilai cukup
lancar.
Demikian juga unit simpan pinjam telah melayani para anggota dan
masyarakat luas di dua tempat yaitu USP Gajah dan USP Demak. Pada
2004 pinjaman yang disalurkan kedua USP ini mencapai Rp 1 miliar.
Pada 2005 meningkat menjadi Rp 1,1 miliar dengan jumlah nasabah 540
orang.
Dalam rencana kerja pengurus tahun buku 2006, unit usaha simpan
pinjam ini akan ditingkatkan menjadi Koperasi Simpan Pinjam (KSP).
NO ASPEK PENILAIAN DES 2004 DES 2005 %
1. KEUANGAN
Modal Sendiri 2.410.623.000 2.461.369.990 2,1
Asset 5.140.920.209 5.274.079.606 2,6
SHU 50.695.464 56.696.376 11,8
Tabungan Anggota/Cal. Anggota 158.166.316 298.808.729 88,9
2. ADMINISTRASI/MANAGEMEN
Jumlah Anggota 319 319 0,0
Jumlah Karyawan 26 28 7,7
Pengelola Usaha Manager Manager
Unit Usaha 8 8 0,0
3. Legalitas Usaha
(SIUP, TDP, NPWP, BH) Lengkap Lengkap
Modal Sendiri ASSET SHU
Des. 2004
Des. 2005
50,7 56,7
5.274
5.141
2.410 2.461
Kinerja KUD Pringodani Des 2004 - Des 2005
(dalam juta rupiah)314
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Ke s u n g g u h a n   p e n g u r u s   d a n   p e n g e l o l a   u s a h a   (ma n a j eme n )   d a l am
mengelola usaha, dengan sistem administrasi yang tertib menghantar KUD
Pringgodani berkembang dengan pesat. Aset koperasi tiap tahun bertambah. Pada 2005, memiliki aset sebesar Rp 5,274 miliar. Modal sendiri
tercatat sebesar Rp 2,461 miliar. SHU yang diperoleh pada tahun buku
2005 sebesar Rp 56,7 juta.
Untuk menjaga objektivitas laporan keuangan, KUD Pringgodani
telah menggunakan Jasa Audit Akuntan Publik yang mengaudit semua
laporan keuangan manajemen.
MENYONGSONG PASAR BEBAS
Ke depan ada banyak tantangan dalam dunia usaha. Pasar bebas yang
bergulir saat ini dengan kehadiran pemodal besar telah merambah usaha
sampai ke pelosok. Hadirnya tempat perbelanjaan mini market di kotakota kecamatan bahkan di pedesaan dapat menjadi ancaman tersendiri
bagi keberadaan waserda atau pertokoan yang dikelola koperasi.
Tantangan ini harus dijawab dunia koperasi dengan peningkatan kemampuan para pengelola usaha koperasi. Hal ini dapat ditempuh dengan
berbagai program pelatihan–pelatihan bagi semua pihak yang terlibat dalam
gerakan dunia usaha koperasi. Disamping itu kemauan politik Pemerintah
memajukan koperasi melalui kebijakan-kebijakan, tetap selalu diharapkan.
Dengan demikian koperasi dapat tetap menjadi salah satu pilar ekonomi
bangsa, dan KUD Pringgodani tetap menjadi bagiannya.***315
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA TENGAH
JEMPUT  BOLA
KUD Mino Saroyo Cilacap
SUKSES DENGAN SISTEM
315
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
S l ame t  AW316
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
S
atu lagi bukti koperasi yang berakar pada anggota tetap bertahan
dari berbagai guncangan. Pengelolaan profesional pengurus dan
manajer menjadikan koperasi mampu mengembangkan usahanya.
Debit kesejahteraan pun mengalir kepada anggota.
Mendengar nama Cilacap, angan kita biasanya tertuju pada Pulau
Nusakambangan yang terkenal sejak jaman penjajah Belanda menjadi
bui para penjahat kelas kakap. Belum hilang ingatan kita saat tsunami
melanda pantai selatan Jawa, pulau yang memiliki panjang 36 kilo meter
dan lebar 6 kilo meter telah menjadi penyelamat pantai Cilacap. Gulungan
ombak berketinggian sekitar 10 meter telah terpecahkan di pulau berbukit
itu. Terlindunglah aset-aset besar milik negara, seperti pelabuhan Tanjung
Intan, kilang minyak terbesar milik Pertamina, PLTU dan ratusan nyawa
dari amukan gelombang pasang. Termasuk miliaran rupiah aset milik KUD
Mino Saroyo.
KUD yang beranggotakan nelayan di pantai Cilacap ini boleh dibilang
bernasib mujur dibanding KUD sejenis di Pangandaran dan Parigi, Jawa
Barat yang hancur tersapu gelombang. Nampaknya, KUD Mina di pantai
selatan Jateng ini walau dari segi usia sudah kepala enam, masih dijinkan
berdiri kokoh oleh sang Pencipta.
Sejarah koperasi tersebut dirintis sejak pendudukan Jepang pada 1942
bernama Gyo-gyo Kumiai, atau lebih tua dari usia bangsa ini. Selanjutnya
pada 1958 menjadi primer Koperasi Perikanan Laut (KPL) menyesuaikan
dengan Undang-undang Koperasi. bersamaan dengan keluarnya Inpres
Nomor 2/1978 KPL beramalgamasi dengan Badan Usaha Unit Desa
(BUUD) menjadi KUD dengan badan hukum No 2479/12-67, 6174/a/
BH/VI. Badan hukum pun beberapa kali berubah menyesuaikan dengan
perkembangan zaman. Dan, terakhir pada 30 September 1996 dengan
Nomor 6174/d/BH/PAD/KWK.11/IX/9.
Kantor pusat pengendalian
usaha KUD Mino Saroyo.
S l ame t  AW317
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tentu, bukan soal banyaknya umur atau kenyang makan asam garam
yang membuat koperasi beranggotakan 8.382 orang ini eksis. Alih generasi
(regenerasi) pengelolaan yang terus berjalan yang membuatnya tetap
bertahan. Sedang pengayaan pengalaman hanya menjadi salah satu
pemicu, sehingga KUD di bibir pantai Teluk Penyu ini pun maju.
Ketika memasuki usia 64 tahun pada tahun buku 2006 pengabdian
untuk membantu anggota khususnya dan masyarakat kota Cilacap umumnya untuk mengatasi kesulitan hidup terus dilakukan. Berkat kegigihan
dan mengelola dan penataan manajemen yang dilakukan para pengurus
dan pengawas telah membawa hasil, sehingga koperasi perikanan terbesar
di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) ini masih tetap eksis hingga
kini.
Kuncinya menurut Hari Jatmiko, Bendahara, pengurus mempunyai
beberapa kiat dan strategi. Salah satunya, harus mampu membuat anggota
percaya pada koperasinya. Pandai meyakinkan anggota terhadap pentingnya berkoperasi merupakan keahlian pengurus untuk membesarkan koperasi. Pengelolaan usaha yang terus mengalami perkembangan menjadi
bukti komitmen menyejahterakan anggota.
Ha s i lnya   imbuh Ha r i ,  kepe r c aya an  anggot a   t e rus   tumbuh dan
koperasi pun utuh. Bahkan ditegaskannya, KUD Mino Saroyo yang
turut diawakinya menjadi salah satu koperasi yang tidak ikut runtuh
tergerus badai krismon akhir 1997 lalu. Berkat telah menerapkan kaidahkaidah yang benar, sehingga koperasi perikanan di pesisir pantai selatan
Jawa ini pun selamat. Tak peduli era pemanjaan dari pemerintah telah
berakhir.
Intinya, pengurus selalu berupaya memberikan pelayanan pada
anggota dengan memuaskan. Untuk melayani kebutuhan anggota seharihari mudah dan nyaman misalnya, pengurus membaginya dalam tujuh
ke lompok,  yakni  ke lompok Sentolokawa t ,  Sidakaya ,  Pandana r ang,
Tegal katilayu, Lengkong, Donan dan PPSC. Anggota bisa memilih
t emp a t  me l e l a n g   h a s i l   t a n g k a p a n   d i   s emb i l a n   Temp a t   P e l e l a n g a n
Ikan (TPI).
Dokumentasi318
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Uraian 2003 2004 2005
1. Volume usaha 64,123 miliar 81,532 miliar 98,013 miliar
2. Modal 3,404  miliar  3,502 miliar 3,645 miliar
3. SHU 57,7 juta 80,5 juta 124 juta
4. Aset 7,927 miliar 7,656 miliar 9,142 miliar
Kinerja KUD Mino
Saroyo, 2003-2005
2003 2004 2005
Volume Usaha (miliar)
64,123
81,532
98,013
2003 2004 2005
Modal (miliar)
3,404
3,502
3,645
AKTIVITAS
Unit-unit usaha lain yang dikembangkan untuk melayani anggota yang
tersebar di 10 kelurahan di wilayah Kota Cilacap itu di antaranya, unit
usaha produksi yaitu memproduksi ikan basah dan es batu. Unit pemasaran
meliputi waserda, SPBU, air bersih, voucher ponsel, apotik, unit simpan
pinjam, unit penangkapan ikan dan unit usaha jasa di antaranya fish basket,
wartel, fotocopy freezing center, listrik dan jasa ambulan. Agar anggota
mudah menjual hasil tangkapan, KUD membangun sembilan PTI
Sarana penunjang lain yang dimiliki KUD Mino Saroyo adalah kapal
menangkap ikan bagi anggota seperti armada kapal berbadan besar sebanyak
1.347 unit. Masing-masing berjenis kapal Ex Trwal/Jalur III sebanyak 210
unit dan Kapal Inboard/Jalur II sebanyak 236 unit,  compreng mesin 440
unit, jukung mesin 408 unit dan jukung dayung 53 unit. Untuk alat
mengalami penurunan jumlah sejak periode 2003. Total armada yang
dimiliki pada tahun buku 2003 sebanyak 1.928 unit dan padan tahun buku
2004 sebanyak 1.883 unit. Penurunan jumlah ini menurut pengurus karena
adanya kerusakan dan dijual pemiliknya untuk menutupi kebutuhan, karena
sejak BBM naik nelayan sering merugi, sementara mau membeli lagi
harganya cukup tinggi.
Wa l au begi tu,  kine r j a  KUD  t e t ap menunjukkan kena ikan yang
signifikan. Volume usaha sejak tahun buku 2003 selalu meningkat, dari
Rp 64,123 miliar naik menjadi Rp 81,532 miliar pada 2004 dan pada
2005 berjumlah Rp 98,013 miliar. Unit-unit usaha yang mengalami
kenaikan yaitu SPBU, penangkapan ikan (long line), USP, voucher ponsel
dan apotik.
Sejak tahun buku 2003 permodalan yang dimiliki KUD Mino Saroyo
juga merambat naik. Modal sendiri misalnya dari Rp 3,404 miliar pada
tahun buku 2003 naik menjadi Rp 3,502 per 31 Desember 2004 dan
bertambah menjadi Rp 3,645 miliar pada periode 2005. Yang tidak
mengalami kenaikan hanya cadangan. Sedang simpanan wajib, simpanan
pokok dan donasi menunjukkan peningkatan. Demikian juga SHU tiga
tahun belakangan naik signifikan, dari Rp 57,7 juta menjadi Rp 80,5 juta
tahun buku 2004 dan meningkat lagi per 31 Desember 2005 menjadi Rp
124 juta.
Kenaikan juga terjadi pada jumlah aset walau pada tahun buku 2004
sempat turun, dari Rp 7,927 miliar pada tahun buku 2003 turun menjadi
Rp 7,656 miliar pada 2004 tetapi pada periode 2005 naik menjadi Rp
9,142 miliar.319
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
2003 2004 2005
SHU (juta)
57,7
80,5
124
2003 2004 2005
Aset (miliar)
7,927
7,656
9,142
KESEJAHTERAAN  ANGGOTA
Koperasi yang berjalan dalam rel yang benar, walau merupakan badan
usaha namun tidak meninggalkan watak sosial. Oleh karena itu, KUD
Saroyo Mino juga melaksanakan misi tersebut. Langkah-langkah yang
telah ditempuh diantaranya mengajak anggota untuk gemar menabung
dengan cara melakukan pemotongan penghasilan sesuai kesepakatan saat
melakukan penjualan ikan melalui lelang di TPI. Selain itu mengkoordinir
dana-dana nelayan seperti, dana paceklik yaitu dana yang dibagikan berbentuk beras kepada anggota saat musim paceklik berlangsung. Anggota
juga diasuransikan dan mendapat dana sosial. Diantaranya sumbangan
kematian, pengobatan, bantuan kecelakaan di laut, bencana alam dan
perbaikan sarana lingkungan.
Untuk lebih meningkatkan pelayanan permodalan terhadap anggota,
KUD juga menjalin kerja sama dengan Bank Bukopin dengan membentuk
Swamitra. Walau dibentuk belum lama telah menunjukan pertumbuhan
lumayan bagus. Sehingga keberadaan lembaga keuangan mikro tersebut
sudah dirasakan manfaatnya. Sebab, Swamitra ini telah memiliki pangsa
pasar yang jelas, yakni para anggota KUD Mino Saroyo yang berprofesi
sebagai bakul ikan basah.
Swamitra yang didirikan 1 Mei 2005 dengan menginvestasikan modal
sekitar Rp 100 jutaan, kini asetnya sudah lebih dari Rp 1 miliar. Per 31
Oktober 2006 telah membukukan sekitar Rp 35 juta SHU. Jumlah
pinjaman yang telah digulirkan kepada 396 nasabah per 31 Oktober 2006
mencapai Rp 600 juta lebih. Plafon yang diberikan Rp 1 juta – Rp 50 juta
tetapi maksimal kredit yang diberikan baru Rp 30 juta. Semua peminjam
adalah para pengusaha mikro dilingkungan nelayan, dengan jangka waktu
maksimal dua tahun.
Bukti Swamitra ini berjalan baik selain menyalurkan pinjaman juga
menghimpun dana dari anggota KUD. Jumlah simpanan reguler sebesar
Rp 460 juta dan simpanan berjangka Rp 160 juta. Bunga pinjaman sebesar
2 persen per tahun, bunga simpanan 10% dan bunga deposito 12% per
tahun. Bukti Swamitra ini eksis, tingkat kemacetan rata-rata hanya 1,5%
per bulan.
Upaya memasyarakatkan Swamitra terhadap anggota KUD dan
masyarakat lain, pengelola telah melakukan serangkaian promosi. Seperti
menyebarkan brosur, mendatangi calon nasabah  door to door atau saat
berlangsung  event penting di Cilacap.
Menurut Nurudin, manajer, keberadaan Swamitra masih harus di
perkenalkan pada masyakat dengan getol. Apalagi di kota Cilacap yang
tidak begitu luas dan sudah dikepung LKM, baik lokal seperti KSP, BKK,
Pegadaian plus bank ucek-ucek atau yang global yakni DSP. Sehingga harus
tidak bosan memperkenalkan Swamitra kepada masyarakat, termasuk ke
luar wilayah nelayan.
Sistem jemput bola dan pelayanan yang mudah dan cepat merupakan
k u n c i  memb e s a r k a n   u n i t   u s a h a   o t o n om KUD  i n i .  Up a y a   t e r s e b u t320
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
dilakukan dengan mendekatkan pelayanan pada anggota. Nelayan anggota
KUD Mino Saroyo yang berpencar di sembilan tempat, kas pelayanan
juga didekatkan pada mereka. Tahap awal telah membuka kas Swamitra
pembantu di TPI Lengkong dan TPI Pelabuhan Perikanan Samudra
Cilacap (PPSC).
PENGHARGAAN
Bukti KUD Mino ini berprestasi sejak 1987 telah menjadi koperasi
terbaik tingkat kabupaten hingga Nasional pada 1999 dan prestasi itu
kembali diraih pada 2006. Inilah penghargaan yang pernah diraih atas
kinerja selama ini. Sebagai koperasi terbaik tingkat kabupaten Cilacap
1987, tahun berikutnya menggondol juara satu lomba koperasi terbaik
se-Cilacap. Tahun 1989 menjadi koperasi terbaik dalam lomba gerakan
koperasi tingkat kabupaten Cilacap. Juara III tingkat provinsi Jateng
dan pada 1990 sebagai koperasi mandiri. Pada 1991 kembali menjadi
koperasi terbaik se-Cilacap, masih dalam tahun yang sama sebagai
anggot a  bank Bukopin.  Pada  1993  s ebaga i  ke lompok  t ani  ne l ayan
terbaik nasional.
Pada 1995 sebagai juara II KUD terbaik tingkat Kabupaten Cilacap,
tahun buku berikutnya menjadi juara II KUD terbaik tingkat provinsi
Jateng. Tahun buku 1997 kembali menyandang gelar juara satu koperasi
terbaik nasional dan pada 1999 sebagai koperasi berprestasi tingkat
nasional.***321
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA BARAT
Koperasi Peternak Sapi
Bandung Utara (KPSBU)
MENERJEMAHKAN  VISI
REBUT PELUANG
Dokumentasi322
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
urni Koperasinya, Murni Susunya. Itulah moto dan tekad seluruh
awak Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) membangun industri persusuan di Jawa Barat. Moto tersebut tampaknya
tidak sekadar basa basi, karena KPSBU belakangan terbukti mampu
menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu koperasi dengan kinerja sangat
menonjol di bumi Parahiyangan.
Berlokasi di daerah tujuan wisata Bumi Parahyangan, persisnya Jl. Kayu
Ambon, Komplek Pasar Baru Lembang, Bandung berdiri kokoh bangunan
besar yang menjadi markas besar KPSBU.
Dari bangunan luas inilah KPSBU menjalankan kegiatannya. Mulai
dari aktivitas administrasi, pertemuan, pelatihan, proses pendinginan, penyimpanan hingga pengiriman susu segar hasil produksi anggota ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Bangunan itu juga menjadi saksi bisu awal
pendirian koperasi pada Agustus 1971. Tekadnya, membangun kesejahteraan para anggotanya.
Tentu saja tidak mudah menggapai sasaran tersebut. Itu sebabnya
guna menjaga konsistensi tujuan akhir yang hendak dicapai. Pengurus
koperasi meletakkan landasan ideal yang dituangkan dalam bentuk visi
dan misi organisasi.
Visi tersebut menegaskan, bahwa KPSBU ingin menjadi model koperasi yang ideal, handal dan berprestasi. Sedangkan sasaran misi mengacu
pada lima pilar yaitu, Pertama, pelatihan dan pembinaan anggota dan
karyawan secara berkesinambungan. Kedua, memperkuat profesionalisme
manajemen. Ketiga, peningkatan partisipasi ekonomi anggota. Keempat,
memperkuat permodalan. Kelima, penyediaan hijauan pakan ternak dan
konsentrat berkualitas.
Berdasar visi dan misi yang menjadi komitmen seluruh jajaran koperasi tersebut, secara bertahap mereka meraih sukses seperti sekarang ini.
Tentu saja, hal itu merupakan hasil perjalanan yang sangat panjang.
Termasuk berbagai dinamika terkait mengemban amanat anggota koperasi
yang terdiri dari para peternak sapi perah di daerah Lembang.
Pengakuan keberhasilan koperasi ini tercermin juga dari berbagai
penghargaan yang diberikan instansi terkait. Baik di tingkat kabupaten,
provinsi maupun nasional.
KINERJA
Konsekuen dengan moto tersebut, koperasi yang memiliki BH No
4891/BH/PAD/KWK.10/X ini, faktanya menunjukkan kinerja luar biasa
sebagai organisasi koperasi. RAT sebagai salah satu indikator kinerja organisasi koperasi, dilaksanakan tepat waktu sesuai ketentuan undang-undang.
Juga terdukung laporan tertulis yang lengkap. Misalnya, setiap laporan
pertanggungjawaban tahun buku bersangkutan dimuat pula risalah hasil
keputusan RAT tahun sebelumnya.
Secara rinci dilaporkan pula jumlah anggota atau calon anggota yang
berpartisipasi dan jumlah yang memberikan masukan dalam forum tertinggi
organisasi koperasi. Demikian pula partisipasi anggota pada rapat anggota
juga sangat tinggi sehingga proses demokratisasi berjalan dengan baik.
M323
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Ambil contoh pada RAT Tahun Buku 2000, dari 3.259 anggota dan calon
anggota yang diundang, seluruhnya hadir menggunakan haknya. Mengenai perkembangan jumlah anggota dan calon anggota, mulai 2001
hingga 2005 dapat dilihat pada tabel Kinerja KPSBU berikut ini.
Sejak tahun 2004 disepakati, peserta RAT adalah anggota yang secara
aktif menyetorkan susu minimal 12 liter per hari, selama 8 (delapan) bulan
per tahun. Atau minimal menyetor susu sejumlah 2.880 liter per tahun.
Selain bisa menghadiri RAT, para anggota yang memenuhi kriteria ini
berhak pula menerima kartu kesehatan.
Saat ini koperasi memiliki karyawan tetap
sebanyak 194 orang dan karyawan tidak tetap 82
orang. Tugas utama mereka adalah melayani
seluruh anggota koperasi dan aktivitas produksinya.
Para karyawan tersebut juga mendapat promosi dan
pelatihan yang kontinyu agar setiap saat dapat
menempati berbagai posisi yang ada dalam jajaran
manajemen. Sebagai ujung tombak usaha koperasi,
pemberdayaan karyawan dianggap sangat krusial.
Saat ini, pengurus menetapkan sebanyak 28 orang
duduk dalam manajemen. Rinciannya, 2 orang
manajer, 7 orang kepala unit, 6 orang kepala subunit dan 13 orang kepala seksi. Mereka inilah yang
me n j a l a n k a n   t u g a s   s e h a r i - h a r i  memb e r i k a n
pelayanan dan kegiatan usaha koperasi.
AKTIVITAS UTAMA
Konsisten dengan bisnis inti yang digelutinya,
KPSBU terus bergerak maju menjadi koperasi
single purpose yang andal. Sejumlah kegiatan usaha yang dilakukan antara lain, Pertama, bidang
produksi, pemasaran, dan kualitas susu. Kedua,
bidang pakan ternak. Ketiga, perkreditan. Keempat, pertokoan. Kelima, pembibitan sapi.
Di samping kegiatan usaha koperasi, KPSBU
juga melakukan kegiatan pelayanan teknis peternakan. Pelayanan ini sangat penting karena berkaitan dengan kepentingan ekonomi anggota, terutama dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha.
Dalam konteks usaha peternakan sapi perah, aspek kesehatan sangat
penting karena berpengaruh pada produktivitas. Selain aspek kesehatan
sapi, pelayanan teknis peternakan memegang peran yang besar juga, terutama pada pelayanan Inseminasi Buatan. Melalui pelayanan ini, peternak
dapat mengawinkan sapi mereka dengan menggunakan sperma beku sapi
jantan unggul, sehingga diperoleh anak turunan yang berkualitas. Tanpa
pelayanan yang baik untuk pengawinan sapi, maka peternak tidak dapat
memperoleh hasil susu segar. Karena pada hakekatnya, susu segar dihasilkan setelah sapi melahirkan pedet (anak sapi).
Kegiatan rutin anggota
menyetor susu ke koperasi.
Dokumentasi324
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Pakan ternak merupakan kegiatan usaha yang juga sangat penting
dalam rangka pelayanan kepada anggota. Kualitas dan jumlah yang
memadai dari pakan ternak yang dihasilkan ini akan berpengaruh pada
kualitas susu segar anggota. KPSBU memiliki sendiri pabrik pakan ternak
untuk melayani kebutuhan anggota.
Pada 2005 diproduksi pakan konsentrat sebanyak 27
ribu ton (lihat tabel) senilai sekitar Rp 19 miliar. Guna
memenuhi kebutuhan konsentrat, para peternak antara lain
m e n g g u n a k a n   b a h a n   b a k u   b e r u p a   w h e a t   p o l l a rd .
Pengadaannya merupakan realisasi bentuk kemitraan
dengan PT ISM Bogasari Flour Mills.
Di   ant a r a  puluhan kope r a s i  yang me l ayani  pa r a
anggota yang terdiri dari para peternak sapi perah di Jawa
Barat, KPSBU saat ini menyandang predikat sebagai
penghasil susu segar kualitas terbaik. Catatan kualitas pada
tahun 2005, rata-rata kandungan Total Solid (Padatan) 12,36 % dan Total
Plate Count (TPC) atau kandungan bakteri per mililiter 1,54 juta. Khusus
untuk kandung an bakt e r i   ini ,   sudah mendeka t i   Standard Nas ional
Indonesia untuk susu segar yakni 1 juta /ml. Pencapaian tingkat kualitas
ini merupakan prestasi yang luar biasa. Mengapa? Karena banyak koperasi
susu lain, kualitas susu para anggotanya rata-rata TPC masih di atas lima
juta/ml.
Masih dalam konteks kualitas susu, kandungan lemak susu produksi
anggota KPSBU secara bertahap menunjukkan kenaikan. Kualitas susu
para peternak sangat jauh di atas persyaratan minimum yang ditetapkan
oleh IPS sehingga tidak terdapat hambatan atas pemasaran.
Dari segi teknis dan manajemen, prestasi ini patut diacungi jempol.
Sebab, pencapaian ini membutuhkan perjuangan yang keras dan panjang
untuk meyakinkan anggota yang jumlahnya ribuan hingga menyadari
pentingnya peningkatan kualitas susu segar yang dihasilkan.
Di bidang produksi dan pemasaran susu, pada tahun 2005 KPSBU
menampung susu segar produksi anggotanya sebanyak 37,2 juta liter (ratarata sekitar 101 ribu liter per hari) senilai sekitar Rp 81,8 Miliar. Dari susu
segar yang ditampung tersebut, sekitar 93,4 % dipasarkan ke IPS. Sisanya
dipasarkan langsung ke konsumen ataupun melalui agen.
Untuk menunjang kegiatan pemasaran susu ini, KPSBU melengkapi
Item 2001 2002 2003 2004 2005
1. Jumlah anggota & Calon anggota  (org) 4.595 4.955 5.305 5.797 6.092
2. Produksi susu segar (juta liter) 31,091 30,480 32,056 31,390 37,218
3. Produksi pakan  (ton ) 20.225 21.867 23.649 24.569 27.119
4. Omzet unit toko (miliar rupiah ) 3,8 5, 288 5,7 5,680 5,943
5. Omzet kredit SP (miliar rupiah ) 4,6 5,363 6,275 6,111 7,388
6. Kekayaan Bersih (miliar rupiah ) 8,97 11,136 12,222 12,504 13,387
7. Sisa Hasil Usaha (juta rupiah ) 4 2 1 , 8 0 9  4 4 2 , 8 8 9 465,6 513 , 4 3 3 1.216,945
Perkembangan SHU,
2001-2005 (juta)
2001 2002 2003 2004 2005
421,809 442,889
465,6
513,433
1.216,945
Kinerja PBSU,
2001-2005
Sumber data :
Laporan RAT 2001-2005325
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
diri dengan sarana pendingin (cooling unit) dan tangki penyimpanan susu
(chilling equipment) dengan kapasitas yang cukup untuk menampung
seluruh produksi rata-rata tersebut. Selain itu, ditunjang pula dengan armada
truk dengan tangki sejumlah 12 unit dan truk untuk pengangkutan susu
dari tempat pelayanan koperasi (TPK) sejumlah 19 unit.
Unit usaha perkreditan merupakan salah satu pilar kegiatan KPSBU.
Unit ini memberikan pelayanan kepada anggota yang membutuhkan dana
untuk kepentingan mereka. Tercatat realisasi pemberian pinjaman dalam
beberapa tahun ini rata-rata sekitar Rp 7 miliar. Sejak tahun 2006, anggota
yang meminjam tidak dikenakan bunga sebagai kompensasi adanya kenaikan harga BBM yang langsung maupun tidak langsung memukul usaha
peternakan anggota koperasi.
Bentuk pelayanan lainnya kepada anggota adalah unit pertokoan yang
menyediakan berbagai barang kebutuhan pokok. Unit ini terbukti mampu
mencetak omset rata-rata sekitar Rp 6 miliar per tahun. Melalui unit
pertokoan ini pula dipasarkan produk yoghurt hasil produksi sendiri sebagai
langkah diversifikasi vertikal atas produk susu segar.
Dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal kepada anggota
dan memudahkan pengorganisasian anggota yang tersebar di wilayah
Bandung Utara, KPSBU Lembang membangun 22 buah TPK. Fungsi
TPK sangat penting, terutama dalam kaitannya dengan penyelenggaraan
RAT ataupun aktivitas penyuluhan.
Dari sisi kemampuan finansial, KPSBU merupakan badan usaha yang
cukup tangguh. Fakta berdasar laporan keuangan pada tahun buku 2005
menunjukkan, koperasi memiliki likuiditas (kemampuan untuk membayar
hutang jangka pendek) yang sangat tinggi, yakni 168 %. Sedangkan solvabilitas (kemampuan membayar hutang baik jangka pendek maupun panjang yang tinggi, yakni 229 %. Sementara rentabilitas alias kemampuan
untuk menciptakan keuntungan sebesar 1,13 %.
KUNCI SUKSES
Dari perkembangan dan kemajuan yang dicapai KPSBU dalam
menjalankan kegiatan melayani anggota, terdapat banyak hal yang dapat
Unit produksi
pengolahan susu.
Dokumentasi326
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
jadi acuan bagi koperasi lainnya. Pada aspek organisasi misalnya, azas
dan prinsip koperasi telah diterapkan secara maksimal. Proses pengambilan keputusan melalui forum RAT selalu berjalan dengan baik. Pelaksanaan dan hasil RAT teradministrasi dengan baik dan jelas. Sehingga
seluruh anggota dapat memantau semua aktivitas koperasi.
Prinsip transparansi yang menjadi salah satu pegangan pengurus dan
manajemen KPSBU, diwujudkan dalam pengelolaan dan tidak hanya
sekedar slogan.
Masih dalam konteks kelembagaan, proses  pendidikan dan penyuluhan kepada anggota menjadi salah satu perhatian dan terprogram dengan
baik. Secara rutin dan berkesinambungan, KPSBU melakukan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan tentang perkoperasian baik bagi karyawan
maupun anggota.
Tingkat partisipasi anggota pada setiap pelaksanaan RAT, menjadi indikator tingkat kesadaran anggota dalam berkoperasi. Demikian pula ketaatan
anggota atas berbagai keputusan yang disepakati bersama melalui RAT.
Salah satu contoh ketaatan anggota ditunjukkan dengan mengikuti
ketentuan bahwa mulai tahun 2005 ditetapkan hanya anggota yang menyetor susu segar minimal 12 liter per hari selama 8 bulan setiap tahun
yang berhak mengikuti RAT dan menerima pelayanan kesehatan.
Berdasar ketentuan tersebut, tahun 2005 tercatat 1.275 orang anggota
yang berhak mengikuti RAT. Kebijakan yang menjadi kesepakatan bersama itu, merupakan langkah yang patut dipuji. Mengapa? Karena akan
menjadi alat pemacu bagi anggota lain untuk meningkatkan kedisiplinan
dan usahanya, sehingga memperoleh hak-hak pelayanan lebih besar.
Kunci sukses KPSBU yang pertama,  komitmen besar untuk menegakkan sendi-sendi dan mekanisme kerja sebagai organisasi koperasi dan
melaksanakannya secara konsekuen. Kedua,  aspek manajemen yang
efisien. Kepengurusan yang ramping dan bersifat berkelanjutan sangat
tampak di KPSBU. Saat ini, pengurus KPSBU hanya terdiri dari 2 orang
yakni : Drs. Dedi Setiadi SP menjabat sebagai Ketua dan Drh Ramdan
Sabohi sebagai Sekretaris.
Meskipun kepengurusan sangat ramping, tetapi diikuti dengan mekanisme pengawasan yang baik. Terdapat tiga orang Pengawas yakni : Toto
Abidin, Jajang Sumarno, dan Asep Hamdani. Operasionalisasi semua
rencana kerja yang menjadi keputusan RAT dilaksanakan oleh karyawan
yang ada dengan tetap memegang prinsip efisiensi.
Menangani kegiatan pelayanan dan usaha yang mencapai omzet lebih
dari Rp 120 miliar per tahun, memang sangat berisiko. Sebab, susu segar
merupakan produk pertanian yang sangat perishable (mudah rusak).
Seperti sudah disinggung, KPSBU sekarang diperkuat 194 karyawan
dengan berbagai tingkatan pendidikan. Tercatat 10 orang karyawan berlatar belakang pendidikan S-1, dan tujuh orang berlatar belakang D3.
Sisanya dari berbagai latar belakang pendidikan dan terbesar dari setara
S LTA  .
Komitmen mengembangkan sumber daya manusia, baik untuk karyawan ataupun anggota menduduki peran besar sebagai penunjang sukses327
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
yang dicapai oleh KPSBU. Dari anggaran yang disusun, tersedia dana
khusus untuk peningkatan SDM. Baik dalam upaya peningkatan tingkat
profesionalisme karyawan serta meningkatkan kemampuan teknis para
anggot a  da l am be t e rnak  s api  pe r ah  s e r t a  peningka t an penge t ahuan
berkoperasi.
Peningkatan SDM ini meliputi aspek perkoperasian, yang menitikberatkan pada pendidikan anggota dan penyuluhan untuk peningkatan profesialisme karyawan. Pada 2005 penyuluhan tentang teknis peternakan
dan pendidikan perkoperasian melibatkan sekitar 3.000 orang anggota.
Pelayanan yang optimal pada anggota baik dalam kaitannya dengan
kegiatan usaha yang bergerak di bidang peternakan sapi perah serta kebutuhan hidup merupakan faktor sukses. Juga menjadi kunci loyalitas anggota
pada organisasi koperasinya. Dilihat dari kegiatan yang menunjang
kepentingan usaha anggota antara lain pemasaran susu, penyediaan pakan
ternak, pelayanan kesehatan sapi dan Inseminasi Buatan (IB) selama 24
jam, penyediaan bibit sapi, semuanya merupakan kunci yang menjamin
usaha anggota dapat berjalan dengan baik.
Keberadaan Unit Simpan Pinjam dan pertokoan, juga memberikan
kemudahan bagi anggota memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ataupun
untuk menunjang kebutuhan modal. Data tentang partisipasi anggota pada
RAT dan meningkatnya penyetoran susu anggota ke koperasi dapat
dijadikan indikator bahwa koperasi memberikan manfaat kepada para
anggota koperasi.
Selain pelayanan, SHU yang cukup besar merupakan sisi lain di mana
anggota memperoleh kemanfaatan menjadi anggota KPSBU. Kemanfaatan keberadaan koperasi, juga dirasakan oleh masyarakat di wilayah
kerja koperasi. Yaitu melalui  multiplying effect  yang ditimbulkan dari
kegiatan ekonomi oleh KPSBU dan seluruh anggotanya.
Kemampuan pengurus membangun jaringan dengan berbagai institusi,
juga menambah kontribusi atas sukses KPSBU. Kerja sama dengan lembaga luar negeri dan perguruan tinggi banyak dilakukan. Demikian pula
dengan instansi pembina baik dari pusat maupun dari daerah.
Armada pendukung
kegiatan usaha KPSBU.
Dokumentasi328
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
MENATAP KE DEPAN
Perjalanan KPSBU mewujudkan amanat anggota, masih panjang dan
menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Menatap ke depan, pengurus
dan jajaran di KPSBU termasuk seluruh anggota bertekad terus meningkatkan hasil yang telah dicapai. Upaya meningkatkan kualitas susu tetap
merupakan prioritas dengan menerapkan adanya SOP (Standard Operational Procedure). Mulai dari tingkat anggota sampai pemasaran ke IPS.
Termasuk pembayaran harga susu secara perorangan, diharapkan menjadi
pemacu peningkatan produksi serta kualitas susu segar.
Langkah lain dalam konteks peningkatan produksi dan kualitas susu,
yaitu rencana kerja sama dengan Perhutani. Bentuknya, memanfaatkan lahan
hutan untuk pengadaan makanan hijauan bagi sapi. Juga pengadaan sarana
pendingin susu di TPK untuk mengurangi berbagai risiko kerusakan susu.
Masih banyak peluang yang terbuka yang dapat dilakukan oleh KPSBU
untuk menyejahterakan anggota dan mewujudkan visi. Antara lain meningkatkan kemampuan pemasaran susu segar ataupun susu olahan ke konsumen
langsung. Melalui upaya ini, koperasi bisa banyak memperoleh nilai tambah
daripada mengandalkan pemasaran sepenuhnya ke IPS. Apalagi bagi IPS,
komoditi susu segar sebatas dihargai sebagai bahan baku.
Sungguh, motto Murni Koperasinya Murni Susunya, merupakan
instrumen yang tetap relevan bagi KPSBU. Tak lain, demi menggapai
cita-cita yang mereka rumuskan bersama melalui mekanisme wadah
koperasi. ***329
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
SULAWESI UTARA
KUD Maayaan
Minahasa Selatan
329
BISNIS EKSPOR
INOVATIF MEREBUT
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Zaenal Wafa330
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
S
ebetulnya untuk mencapai lokasi unit bisnis dan
kantor koperasi ini, tidak sulit. Yang jelas dari Kota
Manado, lebih kurang memakan waktu  tempuh  4
j am  d e n g a n   k e n d a r a a n   p r i b a d i .   S e l ama   p e r j a l a n a n
melintasi jalur trans Sulawesi, menyusuri pesisir serta
pedalaman, cukup mengasyikkan. Maksudnya, tak lain
sedekat dan sejauh mata memandang, hutan kelapa kopra
senantiasa mengelebat di kanan-kiri jalanan.
Terpaan kerasnya angin makin terasa, bila kita akan
memasuki Desa Tombatu Tiga, Kecamatan Tombatu
tempat keberadaan KUD Maayaan. Kecamatan ini tingkat huniannya terpadat dibanding 14 kecamatan lainnya
di Minahasa Selatan. Yang pasti daerah ini dikenal sebagai
penghasil kopra terbesar di Sulawesi Utara. Buktinya,
acapkali mobil harus berhenti jika pekebun kopra sedang
memetik dan puluhan buahnya berjatuhan menghalangi
jalanan.
Sebagaimana sebagian KUD di sejumlah daerah,
kope r a s i   ini  di  ma s a   l a lu  t e rma suk  s a l ah  s a tu yang
‘dimanja’ dengan berbagai macam fasilitas pemerintah.
Dari kemudahan mendapatkan alokasi pupuk, alat mesin
pertanian, sarana produksi tani hingga sejumlah skim kredit khusus untuk para anggota koperasi.
Era pemanjaan itu berakhir sudah. Tidak ada lagi
b e r b a g a i   p e r l i n d u n g a n   d a r i   p eme r i n t a h   b u a t  KUD.
Sebagian KUD mati, tinggal papan nama hingga hidup
segan mati tak mau.
Sekadar perbandingan, sejumlah KUD di Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, bermetamorfosis dengan cara lebih mengandalkan unit simpan
pinjam (USP). Atau memisahkan USP-nya menjadi Koperasi Simpan
Pinjam (KSP) serta bersifat otonom. Ada juga hal ini dilakukan dengan
bekerjasama dengan pihak ketiga.
Kembali ke KUD Maayaan, koperasi ini juga mengalami kondisi
yang sama. Maksudnya, ia harus merumuskan ulang perannya di tengah
anggota dan warga masyarakat sekitar. Apalagi kondisi  secara obyektif,
beberapa unit usaha koperasi beranggotakan 357 orang ini tidak terlalu
menggembirakan. Unit usaha waserda volume usahanya hanya Rp 2, 4
juta pada 2003 dan menjadi Rp 1,2 juta pada 2004.
Lalu unit jasa pertukangan, kinerjanya juga seperti berjalan di tempat.
Karena pada akhir 2004 volumenya tercatat Rp 3,6 juta. Sedangkan pada
akhir 2005 volume usahanya menurun menjadi Rp 2,4 juta.
Tak jauh berbeda volume usaha rice milling unit (RMU). Di tahun
2004 mencatat volume senilai Rp 3,6 juta. Tetapi sampai akhir 2005,
pencapaian volumenya juga menurun menjadi sekitar Rp 2,9 juta.
Namun demikian, segenap pengurus KUD Maayaan tidak mau
hanya bertopang dagu atau merenung saja. Tak lain karena sejak pertengahan 2005, para pengurus bahu membahu dengan para anggota
Tempat pelayanan
simpan pinjam KUD Maayaan.
Zaenal Wafa331
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tempat pengolahan
kayu  kelapa tua
untuk ekspor.
mencoba menggarap peluang baru. Konkritnya, memulai menggergaji
kayu-kayu pohon kelapa tua yang sudah tidak produktif menjadi lembaran-lembaran kayu.
EKSPOR KAYU
Desingan bunyi ketiga mesin penggergaji kayu itu sangat memekakkan
kuping. Apalagi, kayu kelapa dikenal jenis tanaman keras yang paling keras.
Sekadar perbandingan, kayu jati dan meranti pun masih kalah keras. Wajar
saja, kalau bunyi mesin kayu (sawmill) itu juga sangat kuat.
Selain itu, dibandingkan pengerjaan secara manual atau tenaga kerja
manusia, pemotongan menjadi lembaran-lembaran kayu dengan mesin
juga lebih cepat dan efisien. Hingga akhir Oktober 2006, menurut Ketua
KUD Maayaan H Kindangen, pihaknya telah menginvestasikan mesinmesin pembelah kayu itu sekitar Rp 75 juta.
Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan pertengahan
Oktober 2006 disebutkan, volume usaha penggergajian kayu kelapa ini
sudah mencapai angka sekitar Rp 203 juta lebih. Bila dibandingkan
dengan pencapaian unit-unit usaha yang lain di KUD Maayaan, unit ini
jelas memiliki prospek yang mungkin tidak bisa dibilang kecil.
Sementara itu koperasi menargetkan, hingga akhir 2007 ekspor
lempengan kayu kelapa setebal sekitar 2 cm ini bisa mencapai sekitar Rp
500 juta. Yang pasti sampai akhir 2006, ekspor ke Malaysia bisa dilakukan
berkat kerja sama dengan mitra usaha dengan pihak Kim Teck Lee Timber
Trading SDN Berhad di Negara Bagian Selangor.
Bagaimana perkembangan unis bisnis penggergajian kayu oleh KUD
Maayaan ini selanjutnya? Orang bakal terus memantau dan menunggu
kinerja strategis mereka. Tidak berlebihan bila disebutkan, unit ini bisa
menjadi tumpuan koperasi tetap berperan dan bertahan ke depan.
Zaenal Wafa332
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
MENJAGA MODAL SENDIRI
Melihat keragaan unjuk kerja bidang keuangan koperasi ini, bisa
dikatakan cukup baik. Kontribusi besar unit penggergajian kayu, sangat
terlihat pada sisi pendapatan koperasi. Buktinya, terhitung akhir 2004
pendapatan koperasi masih tercatat Rp 11,074 juta. Sementara sampai
akhir 2004 pendapatan koperasi melonjak menjadi Rp 208, 591 juta.
Yang pasti hingga akhir 2005, nilai aset koperasi ini mencapai Rp
1,407 miliar. SHU atau sisa hasil usaha koperasi yang dibagikan pada
2005 terhitung sebesar Rp 6,794 juta. Lalu likuiditas koperasi ini juga
relatif kuat, yaitu mencapai 108,39 persen. Hal ini disebabkan modal
sendiri koperasi yang sejumlah Rp 1,059 miliar masih jauh besar dibanding
modal luar koperasi yang sekitar Rp 268 juta pada posisi akhir 2005.
Boleh jadi melihat kinerja koperasi yang relatif sehat dan berani
mengambil peluang sekecil apa pun inilah, pihak Kementerian Negara
Ko p e r a s i   d a n  UKM  p a d a   t a h u n   2 0 0 4  memb a n t u  KUD Ma a y a a n .
Bentuknya, bantuan kredit dana bergulir sektor agrobisnis sebesar Rp 1
miliar. Namun demikian, pengelolaan dana tersebut menurut salah seorang
pengurus koperasi, baru terealisasi pada tahun 2006. Oleh pihak KUD
Maayaan, bantuan kredit dana bergulir tersebut pelaksanaannya dilakukan
dengan cara membentuk Koperasi Simpan Pinjam Maayaan.
Dari sisi potensi sumber daya manusia, keanggotaan koperasi ini
ternyata didominasi oleh anggota berpendidikan SMA yang mencapai
217 orang dari 357 total anggota koperasi hingga akhir 2005.  Selebihnya,
yaitu 30 orang anggota merupakan lulusan S1 dan 4 orang lulusan D3.
Pengurus koperasi menjelaskan, penambahan jumlah anggota koperasi selalu berdasarkan kegiatan usaha yang akan dikembangkan
koperasi. Dalam kaitan ini perlu ditambahkan, sebagian besar wilayah
KUD Maayaan merupakan areal perkebunan kelapa yang luas. Dan
sebagain besar areal perkebunan ini dimiliki oleh anggota masyarakat
setempat.
Itu sebabnya pengurus melalui forum rapat pengurus sebulan sekali,
antara lain memutuskan koperasi akan mengembangkan produksi dan
pema s a r an  a r ang ke l apa .  Te rma suk produks i  dan pema s a r an  s abut
kelapa.***333
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
SULAWESI UTARA
KSP Bersehati Minahasa
333
SUDAH MANDIRI
SEJAK KECIL
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Gontam S334
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
S
ungguh tidak mudah, menghilangkan penilaian negatif yang terlanjur
dialamatkan kepada sebuah lembaga. Anda tidak percaya? Mari kita
lihat secara obyektif eksistensi koperasi pedesaan satu ini. Sebab,
suka atau tidak hingga hari ini keberadaan sebuah KUD masih menjadi
sasaran kecaman berkonotasi negatif.
Namun demikian, pengecualian terhadap perkembangan KUD yang
mengindikasikan perkembangan ke arah positif juga tetap ada. Ambil
contoh sejumlah KUD di Provinsi Bali, mereka masih tetap eksis karena
bekerjasama secara serius dengan lembaga adat desa seperti  banjar
maupun institusi adat terkait pengairan sawah atau subak.
Sedangkan beberapa KUD di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
juga masih tetap beroperasi relatif sehat. Caranya, sebagian dari mereka
mendirikan USP, memilih bekerjasama dengan Bank Bukopin serta membuat independen lembaga keuangan mikro baru bernama swamitra yang
secara manajemen keuangan terpisah dari KUD yang melahirkannya.
Khusus perjalanan keberadaan KUD di daerah Sulawesi Utara, ternyata ditemukan fakta yang sedikit berbeda. Contoh kasus yang signifikan adalah eksistensi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Bersehati di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa. Mengapa demikian? Karena cikal bakal koperasi ini, semula merupakan unit
Tempat Pelayanan Simpan Pinjam (TPSP) dari KUD Kawangkoan yang
didirikan pada 1 Agustus 1996.
Yang cukup menarik, keberadaan TPSP tersebut sejak awal pengoperasiannya baik aspek manajemen maupun keuangan sudah bersifat
otonom alias terpisah dengan KUD Kawangkoan sebagai induk. Penyebab
utamanya, karena operasional TPSP pengawasannya berada langsung di
bawah kendali pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI). Hal ini sesuai dengan
perjanjian kesepahaman antara Bank Rakyat Indonesia dengan Departemen Koperasi saat itu.
Te r ny a t a   d a l am  p e r k emb a n g a n   u s a h a ny a   l ima   t a h u n   p e r t ama ,
pertumbuhan unit pelayanan simpan pinjam ini menunjukkan kinerja yang
baik dan sehat. Mencermati perkembangan positif ini, sejumlah anggota
dan pengurus koperasi mengajukan usulan segar. Persisnya pada Januari
2001, sebanyak 397 anggota TPSP serta sejumlah pengurus koperasi memutuskan unit ini memisahkan diri dari manajemen KUD Kawangkoan.
Nah, lembaga yang ‘bercerai secara baik-baik’ ini menamakan diri dengan
Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Bersehati. Pihak perangkat kelurahan,
kecamatan dan dinas koperasi kala itu menjadi saksi dari pemisahan
kelembagaan tersebut.
Bersamaan dengan itu, forum rapat anggota juga sekaligus memilih
kepengurusan dan badan pengurus KSP Bersehati. Termasuk mengajukan
perubahan status kelembagaan badan hukum koperasi menjadi bernomor
2395/BH-Kop/ 2001 tertanggal 9 Maret 2001.
Secara sederhana KSP ini menggariskan visi ingin menjadi pilihan
utama untuk memenuhi kebutuhan segi permodalan yang dibutuhkan masyarakat. Bagaimana caranya? Koperasi juga dipandu dengan misi kelembagaan, terutama untuk memberikan pelayanan kepada anggota koperasi
dan nasabah koperasi dengan mudah, cepat dan tepat.
Selain itu, para anggota dan pengurus sama-sama bertekad meningkat-335
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
kan kesejahteraan anggota koperasi dan warga masyarakat pada umumnya. Tak ketinggalan koperasi bermaksud mewujudkan proses demokratisasi ekonomi melalui wadah lembaga bernama koperasi. Pada gilirannya
hal ini diharapkan dapat menyumbang membangun tatanan perekonomian
nasional baru, terkait mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur.
POTRET KEUANGAN
Berdasarkan dokumen RAT maupun neraca tiga sampai empat tahun
terakhir, KSP Bersehati memiliki kinerja keuangan sebagai berikut.
Ambil contoh mengenai aspek pinjaman yang diberikan koperasi,
dari tahun 2002 hingga 2005 menunjukkan tingkat stabilitas yang cukup
terjaga. Maksudnya, nilainya tidak terlalu fluktuatif.
Hingga akhir Desember 2003, nilai pinjaman yang diberikan koperasi
mencapai Rp 1,065 miliar. Sedangkan pada akhir
Desember 2004 nilainya mengalami peningkatan
menjadi sebesar Rp 1,383 miliar. Sementara sampai
posisi pembukuan per akhir Desember 2005, besarnya kredit yang dikucurkan koperasi ini mencapai
senilai Rp 1,157 miliar. Boleh dikatakan berdasarkan
neraca koperasi yang ditandatangani oleh ketua Max
B Mioyo, bendahara Helmy Lomboan serta bendahara Sintia Supit, pencairan pinjaman koperasi ini
masih mempertimbangkan prinsip kehati-hatian yang
terus menjadi pegangan.
Di sisi lain, pendapatan koperasi dari tahun ke
tahun faktanya menunjukkan pertumbuhan yang juga
bersifat wajar atau alamiah. Ambil contoh pada posisi
akhir 2004, pendapatan koperasi mencapai sekitar Rp
172 juta. Kemudian sampai akhir tahun buku 2005,
koperasi meraih pendapatan senilai Rp 250 juta.
Seperti halnya tingkat pinjaman maupun pendapatan, kinerja modal sendiri koperasi juga memperlihatkan fluktuasi yang masih di batas kewajaran.
Buktinya, pada akhir 2003 pendapatan lembaga usaha ini tercatat Rp 438
juta. Sedangkan pada tahun berikutnya atau 2004, modal sendiri koperasi
turun menjadi Rp 405 juta. Namun pada tahun 2005 modal sendiri koperasi
kembali mencapai peningkatan atau menjadi senilai Rp 440 juta.
Begitu juga terkait aset koperasi, mengalami pasang surut yang tidak
mencolok. Buktinya, pada akhir 2003 aset koperasi mencapai Rp 1,215
miliar. Kemudian hingga akhir 2004 aset koperasi ini tercatat Rp 1,520
miliar. Sementara sampai akhir tahun 2005 asetnya menjadi agak menurun
atau sekitar Rp 1,321 miliar.
ANGGOTA RAJIN MENGANGSUR
Bagaimana pun salah satu tolok ukur sebuah koperasi yang sahih,
antara lain pastilah tanggapan para anggota terhadap koperasinya. Berikut
ini sejumlah respon anggota KSP Bersehati terkait keberadaan lembaga
usaha ini baginya.
Dua orang anggota koperasi, masing-masing bernama Herce Mangare,
Forum rapat anggota  sekaligus
memilih kepengurusan dan
badan pengurus KSP Bersehati.
Gontam S336
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
32 tahun, seorang karyawan swasta dan Chynthia Lomboan, 29 tahun yang
juga seorang pegawai swasta. Kedua responden senada mengungkapkan,
menjadi anggota koperasi sangat menguntungkan. Chynthia menambahkan,
di matanya kinerja koperasinya sudah baik. Meski begitu, sebagai anggota
ia juga selalu bersikap proaktif dalam rapat koperasi terutama di forum rapat
anggota tahunan.
Ditanya mengenai topik apa saja biasanya ia memberikan pendapat,
ia mengatakan terutama menyangkut aspek kepengurusan dan nasib
karyawan koperasi. Selain itu, perempuan kelahiran Bumi Tinutuan ini
menandaskan mengenai segi-segi laporan keuangan dirinya juga selalu
memberikan pembahasan ekstra hati-hati.
Bukan hanya di forum rapat anggota tahunan saja dia bersikap proaktif.
Sebab di luar acara itu alias dalam keseharian, wanita berpenghasilan lebih
dari Rp 1 juta menyatakan selalu menyisihkan dana untuk menabung di
koperasinya. Mengapa demikian? Sebab, itulah salah satu bentuk partisipasi
aktifnya selaku anggota untuk mengembangkan usaha koperasi. Sedangkan
perwujudan dia memajukan koperasi dan dirinya sendiri, ia juga pernah
mengikuti sebuah pendidikan untuk anggota di bidang manajemen usaha.
Responden penelitian yang juga anggota KSP Bersehati bernama
Helmy J Lomboan, 35 tahun menyatakan, bentuk upaya dia mengembangkan koperasinya bukan hanya dengan menabung. Tetapi yang lebih
penting, kalau dia meminjam kepada koperasi juga selalu berusaha rajin
mengembalikan alias mengangsur pinjamannya.
Senada dengan Chyntia, Helmy juga mengaku pernah mengikuti
beberapa pelatihan atau pendidikan buat anggota. Bedanya, bidang ilmu
yang diikutinya adalah menyangkut akuntansi dan perpajakan. Bahkan
pelatihan yang diselenggarakan oleh kalangan badan usaha milik negara
(BUMN) maupun swasta di bidang pengembangan usaha mikro, kecil
dan menengah (UMKM) pernah diikutinya.
Helmy menambahkan, salah satu manfaat konkrit menjadi anggota
koperasi adalah mendapat pinjaman dari koperasi secara cepat. Selain
itu, masih mendapat SHU di setiap rapat anggota tahunan. Meski begitu,
ia juga memiliki kritik terhadap koperasinya. Ia menegaskan, sebuah koperasi bisa sukses jika para pengurusnya memiliki kinerja yang baik. Seiring dengan itu, para pengurus harus memiliki sistem pelaporan keuangan
yang dilakukan secara transparan.
Yang jelas, berdasarkan leaflet  yang diterbitkan koperasi beranggota
359 orang ini sampai November 2006 sudah meraih sejumlah penghargaan.  Pertama, periode 1998-2000 saat masih berstatus TPSP, unit
koperasi ini terbaik di tingkat nasional menurut penilaian pihak Bank
Rakyat Indonesia. Kedua, berturut-turut dari 2001-2004 KSP Bersehati
terpilih menjadi KSP Terbaik dan Berprestasi se Kabupaten Minahasa,
Sulawesi Utara.
Ketiga, pada 2006 koperasi simpan pinjam ini juga menerima penghargaan sebagai KSP Terbaik dan Berprestasi si Provinsi Sulawesi Utara.
Keempat, sejak 2002 hingga 2005 KSP Bersehati beberapa kali menjadi
tempat magang atau pelatihan para pengurus koperasi se Provinsi Sulawesi
Utara dan Gorontalo.***337
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
NUSA TENGGARA TIMUR
KUD Mina Karota Kupang
337
TUMBUH DI TENGAH
TENGKULAK DAN RENTENIR
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Subroto338
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
T
idak mudah untuk mewujudkan ide dan menyatukan kepentingan
bersama. Semakin banyak ide yang muncul semakin besar pula
kepentingan yang muncul. Itulah perdebatan konstruktif yang
berkembang saat berdirinya KUD Mina Karota Kupang, Nusa Tenggara
Timur.
Para pemrakarsa koperasi nelayan ini, memang memulai dengan sulit
bercampur bingung. Sulit, karena usaha mereka selalu harus berhubungan
dengan para tengkulak dan rentenir. Bingung, karena tidak tahu mau
kemana mengadukan nasib buruk itu.
Intinya, para nelayan memang seperti sudah di bawah kekuasaan para
tengkulak atau saudagar besar yang memberi bantuan kepada mereka.
Akibatnya, para nelayan juga sangat susah melepaskan diri dari jeratan
jaring-jaring para rentenir.
Ketika sabar mencapai batas, pada akhirnya para nelayan memberanikan diri menyampaikan persoalan yang mereka hadapi kepada Dinas
Perikanan. Gayung bersambut, pengaduan itu mendapat respon dari para
pejabat dari dinas terkait.
Alhasil kalangan nelayan dan dinas berkompeten setempat memutuskan untuk membentuk sebuah perkumpulan sebagai wadah para
nelayan. Pilihannya adalah koperasi.
Yang jelas di periode awal pembentukan koperasi, sebagian besar
pengurus inti koperasi tidak berasal dari nelayan. Karena itu mudah
dipahami, saat dipimpin oleh birokrat yaitu para pejabat Dinas Perikanan
dan pedagang besar untuk beberapa periode kepengurusan, koperasi selalu
mengalami kegagalan dan tidak berkembang.
Nasib nelayan waktu itu tak ubah, lepas dari mulut buaya masuk
Pengurus berpose
di halaman kantor
KUD Mina Karota.
Subroto339
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
mulut singa. Banyak di antara mereka yang mulai putus asa, bahkan banyak pul a  yang meninggga lkan kope r a s i  ka r ena  buruknya  kine r j a
manajemen para pengurus. Pada kurun awal ini jenis koperasi adalah
Koperasi Serba Usaha (KSU) Karota.
Mengkaji dan belajar dari pengalaman pengelolaan tersebut, para nelayan akhirnya menyadari koperasi yang berkepentingan dengan nelayan
harus dinahkodai oleh mereka sendiri.
Ibarat sekali dayung dua pulau terlewati, para nelayan mengganti jenis
koperasi dan sekaligus mencari status badan hukum. Akhirnya disepakati
membentuk koperasi baru bernama Koperasi Mina Karota pada tanggal
28 Mei 1989 dengan badan hukum koperasi bernomor 580/BH/XIV/ 1989
tanggal 28 Desember 1989. Jumlah anggota yang mau bergabung 24
orang, semuanya murni bermata pencaharian sebagai nelayan.
Para anggota koperasi ini, kebanyakan memiliki pekerjaan sebagai
buruh yang membantu usaha pedagang besar. Sehingga hasil yang mereka
dapat sangat kecil, disebabkan sewa peralatannya sangat tinggi. Pelan
tapi pasti, pengurus koperasi perikanan ini bergotong royong saling membantu sesama anggota. Di samping tetap bekerjasama dengan dinas
berkompeten, seperti dinas perikanan dan kantor koperasi.
TINGKATKAN PERALATAN
Yang pasti, peralatan kapal dan alat tangkap yang digunakan pada
saat itu masih sangat sederhana. Maksudnya, peralatan yang dipakai
nelayan daya tangkapnya masih terbatas. Antara lain menggunakan purse
sain mini (lampara) kapasitas tiga ton sebanyak delapan unit. Alat lain
ada jala lompo kapasitas satu ton sejumlah tiga unit. Ada juga long line
(pancing dasar) dengan kapasitas satu ton sebanyak empat unit. Kemudian
ada papalele (pemasaran) ukuran setengah ton sejumlah empat unit.
Walaupun peralatan milik nelayan tersebut tergolong sederhana, para
nelayan tidak menjadi surut semangat ke laut untuk menangkap ikan.
Tujuannya, supaya mereka dapat menabung atau mencicil hutang pada
musim turun ke laut dan sebagian mereka tabung untuk masa paceklik
atau tidak melaut.
Karena terbatasnya peralatan yang dimiliki, mereka selalu berusaha
mendesak para pejabat yang berwenang untuk memberikan perhatian dan
juga bantuan agar dapat bangkit dari kesulitan. Mereka sangat membutuhkan peralatan menangkap ikan, termasuk alat pendingin dan bahan
bakar.
Syukurlah hingga posisi September 2006, kapasitas peralatan tangkap
ikan milik anggota telah mengalami peningkatan baik jumlah maupun daya
tampung. Rinciannya sebagai berikut,  purse sain kapasitas 10-12 ton
sejumlah 69 unit. Sedangkan jenis jala lompo kapasitas 3–4 ton sebanyak 8
unit, jenis long line daya tampung 6–7 ton berjumlah 26 unit. Sementara
kategori papalele (pemasaran) kapasitas 3–4 ton sebanyak 13 unit.340
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
MELAYANI PENUH
Komunikasi antar anggota dilakukan dalam pertemuan yang secara
berkesinambungan dan bergantian pada saat mereka turun ke darat atau
saat menjual hasil tangkapannya. Dinas berkompeten pun melakukan
pembinaan anggota secara efektif pada momen yang tepat. Misalnya
pembinaan sesuai waktu yang telah ditentukan secara periodik.
Selain itu, bagi anggota yang masih memiliki kewajiban terhadap
koperasi bisa mengangsur sesuai kemampuan masing-masing. Pada saat
ini mereka bersilahturahmi dengan pengelola usaha koperasi. Semua ini
dilandasi semangat pengurus maupun petugas dinas berkompeten sesuai
dengan kebutuhan usaha anggota.
Terkait komunikasi maupun pembinaan yang baik, membuahkan hasil
dengan perkembangan anggota yang juga membaik. Pada tahun 2002
anggota sebanyak 257 orang dan pada tahun 2005 sebanyak 289 orang
dengan kenaikan sebesar 32 orang, sebagaimana dapat dicermati pada
tabel berikut.
Perkembangan usaha koperasi terus bertambah. Hal ini terutama berkat
kerja keras dan juga transparansi administrasi manajemen serta komitmen
yang kuat dengan keseriusan pengurus melakukan kerja sama atau bentuk
k emi t r a a n .  Mi s a l n y a   p a d a   t a h u n   2 0 0 2   u s a h a  wa r t e l   d a p a t   d i b u k a
bekerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia. Kemudian tahun
2004, bekerjasama dengan PT Bank Bukopin, dan yang terakhir dengan
Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Surat Perjanjian Penunjukan
Pengelolaan dan Penggunaan Solar Packed Dealer (SPD) Nelayan pada
tahun 2006.
Rinciannya, perkembangan unit usaha KUD Mina Karota, sampai
saat ini sebagai berikut. Pertama, pengelolaan alat penangkapan ikan.
Kedua,  menambah USP Swami t r a  yang beke r j a s ama  dengan Bank
Siap dan sigap dengan sepenuh
hati  melayani anggota
Subroto341
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tabel 1. Perkembangan KUD Mina Karota, 2002-2005
Uraian 2002 2003 2004 2005
Anggota 257 277 287 289
Simpanan 47.952.400 49.106.238 57.143.171 70.974.897
Modal sendiri 48.563.690 129.030.506 140.403.907 144.690.339
Modal luar 692.879.519 609.759.885 510.370.078 520.770.178
Transaksi Anggota/volume usaha 2.021.609.650 2.140.332.075 2.570.800.500 2.850.500.000
Pendapatan 133.140.771 107.357.174 116.641.125 86.496.036
Pengeluaran 124.137.327 94.957.174 104.391.125 71.855.600
SHU 9.003.444 12.400.000 12.250.000 14.640.438
Asset 784.017.800 777.651.082 687.547.000 716.050.766
Bukopin. Ketiga, mendirikan waserda untuk memenuhi kebutuhan pokok
anggota. Keempat, membuka kios BBM (SPDN) khusus memenuhi
kebutuhan anggota. Dan kelima, melakukan kerja sama dengan Perumtel
di unit usaha jasa wartel dan dengan PT PLN dalam pelayanan listrik
negara.
Di sisi lain, perkembangan jenis-jenis ikan yang dapat ditangkap oleh
anggota KUD Mina Karota memakai peralatan dan sarana yang makin
berkembang, semakin banyak jenis komoditas ikan yang tertangkap.
Sebagian di antaranya adalah jenis ikan yang dapat diekspor.
Berikut komoditas ikan jenis ekspor yang dilakukan oleh KUD Mina
Karota: lobster hidup/mati, kerapu hidup/mati, kakap merah dan putih,
ikan laying, sirip hiu, cakalang serta tuna dan kepiting.
PENDEKATAN BISNIS
Khusus di lembaga usaha koperasi, berkembangnya usaha tak lain
berkat keuletan dan kerja keras pengurus dan pengelola koperasi. Bersamaan dengan ini, perlu didukung dengan transparansi administrasi koperasi
dengan anggota. Intinya, faktor-faktor yang menjadi kiat koperasi dalam
berkegiatan usaha adalah sebagai berikut.
Pertama, manajemen yang terbuka dan transparan. Semua yang berhubungan dengan kegiatan usaha koperasi dilakukan dengan tertib dan
terbuka bagi anggota atau warga masyarakat yang ingin mengetahui.
Kedua, upaya perekrutan figur tokoh masyarakat dalam kepengurusan
yang dipercayai anggotanya. Di dalam kepengurusan terbuka kesempatan
menjadi pengurus dan mempunyai hubungan yang luas.
Ketiga, melakukan penerimaan anggota secara selektif. Setiap calon
anggota diseleksi secara seksama sebelum diterima menjadi anggota dan
juga harus ada hubungannya dengan unit usaha koperasi.
Keempat, semua unit usaha yang mendukung kegiatan anggota.
Kelima, sense of business di antara pengelola, sehingga dapat mengutamakan ketepatan dan kecepatan yang mudah.342
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Keenam dukungan penuh dari masyarakat lingkungan dan pemerintah.
Artinya, pemerintah setempat mendukung sepenuhnya apa yang diperlukan
koperasi sesuai dengan kemampuan dan potensi SDM di koperasi.
Ke depan, banyak tantangan dalam dunia usaha akibat globalisasi
dan pasar bebas yang berkembang dewasa ini. Jangan lupa, produk dari
luar negeri telah merambah usaha sampai ke pelosok dan teknik penangkapan ikan serta pelaku nelayan dari luar negeri yang datang ke Indonesia
juga berketerampilan lebih tinggi. Tantangan ini harus dijawab dunia usaha
koperasi dengan peningkatan kemampuan para pengelola usaha koperasi
melalui pendidikan yang menambah keterampilan, teknik dan pemasaran
hasil tangkapan para nelayan.
Tak kalah penting, kemauan politik pihak pemerintah memajukan
koperasi melalui kebijakan-kebijakan yahg konkrit harus selalu ditagih
kalangan nelayan. Dengan demikian koperasi termasuk koperasi sektor
perikanan dapat tetap menjadi salah satu pilar ekonomi bangsa melalui
perjuangan nelayan.***343
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
DI YOGYAKARTA
Koperasi Susu Warga Mulya
Sleman
BERSAMA MEREBUT
PROSPEK
Irsyad Muchtar344
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
operasi satu ini, tampaknya menjadi andalan peternak sapi perah
untuk memasarkan hasil produksi peternak di sekitar Kabupaten
Sleman, Yogyakarta. Selain tergolong mampu membantu anggota
secara baik, interaksi antara anggota dan koperasi setiap hari berjalan
dengan teratur. Khususnya terkait aktivitas anggota menyetor susu sapi
ke koperasi. Sebaliknya, lembaga koperasi juga dapat menyediakan pakan
ternak sapi bagi kebutuhan anggotanya. Yang jelas, selama ini pasar susu
pasteurisasi dalam kantung siap saji masih sangat terbatas. Akibatnya,
pasar susu segar hasil produksi anggota koperasi ini masih sangat
bergantung kepada IPS, yaitu PT Sari Husada, di Yogyakarta.
MENDEKATI DOMISILI ANGGOTA
Koperasi Susu “Warga Mulya” punya sejarah cukup panjang. Yang
termasuk paling khas mengiringi perkembangan koperasi ini adalah:
seringnya tempat domisili koperasi berpindah dan nomor badan hukum
yang juga berubah.
Secara kronologis, koperasi ini berdiri pada 26 September 1978. Saat
itu didukung oleh 126 anggota sebagai peternak sapi perah. Setahun
kemudian, status badan hukum koperasi diperoleh pada tanggal 30 Januari
1979 dengan nomor: 1.128/BH/XI/1979 dengan wilayah kerja meliputi
se-Provinsi DI Yogyakarta, kala itu masih berkantor di Komplek Dinas
Peternakan Kotamadya Yogyakarta.
Sejalan perkembangan jumlah anggota koperasi, sekaligus kegiatan
usaha atau kebutuhan anggota bagi kegiatan produksi susu sapi, pada
tahun 1989 koperasi susu ini memindahkan kegiatannya ke alamat baru
K
Pasteurisasi sebagai terobosan
usaha yang menjanjikan.
Irsyad Muchtar345
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Uraian 1996-1999 2000-2002 2003 2004 2005
1. Anggota 681 671 670 677 471
2. Calon Anggota 41 30 27 19 17
Tabel 1. Perkembangan Anggota
di Dusun Kembang, Maguwoharjo, Depok Kabupaten Sleman.
Kemudian pada tahun 1991 badan hukum koperasi diubah dengan
No: 1.128a/BH/XI/1991. Begitu pula sebagai dampak dari terus berkembangnya koperasi dan untuk mendekatkan dengan lokasi/domisili anggota
agar pelayanan lebih optimal, maka pada 1 April 1999 koperasi susu
“Warga Mulya” menempati gedung baru di Dusun Bunder, Purwobinangun,  Pakem,  Kabupa t en Sl eman.  Pada   s a a t   i tu nomor  badan
hukumnya juga berubah lagi menjadi No:27/BH/KWK.12/V/1998.
Praktis selama 10 tahun, koperasi ini telah pindah alamat tiga kali
dan tiga kali berubah badan hukum. Sementara itu sampai tahun 1998,
anggota koperasi bertambah menjadi 681 orang dan 41 orang calon
anggota. Mengenai perkembangan anggota koperasi, secara rinci dari tahun
ke tahun dapat dilihat pada tabel I.
Menurut dokumen yang ada di koperasi, pendiri atau sebagai promotor yang menandatangani anggaran dasar pada tahun 1978 koperasi
susu ini ada lima orang, masing-masing drh H Soekarno, Abdul Ghani,
RS H Hardjoni, Dwidjo Pradipto dan Margono HW. Mendampingi para
pendiri ini, terdapat pengurus yang saat itu sebanyak sembilan orang.
S u s u n a n   l e n g k a p n y a   s e b a g a i   b e r i k u t :   d r h  H.   S o e k a r n o   ( k e t u a   I ) ,
Ir Sumardjo (ketua II), S. Harjono (ketua III), Rustamiyarso (sekretaris I), Ign. Harto, B.Sc (sekretaris II), Dalidjan SD (sekretaris III),
Margono HW (bendahara I), Saliman (bendahara II), dan Pardjiman
(bendahara III).
Koperasi Susu Warga Mulya sangat menyadari strategisnya posisi
sumber daya manusia (SDM). Itu sebabnya, mengingat pentingnya
kua l i t a s   f aktor  SDM  ini ,  ba ik penge lol a   (pengurus  dan ka ryawan)
ma u p u n   a n g g o t a   s e r i n g k a l i  me n y e l e n g g a r a k a n   b e r b a g a i   k e g i a t a n
pelatihan bagi anggota dan pengelola. Tak terkecuali, aktivitas penyuluhan bagi anggota dan calon anggota juga sering dilakukan. Bukan
hanya terbatas di lingkungan koperasi. Bahkan kegiatan di luar koperasi
termasuk di luar kabupaten dan provinsi juga biasa digelar. Untuk kegiatan ini koperasi sering bekerjasama dengan dinas peternakan, perindustrian dan koperasi.
Kegiatan yang bersifat dinamis hasil interaksi antara pengurus, pengelola dan karyawan koperasi ternyata sangat bermanfaat. Mengapa
demikian? Sebab, aktivitas tersebut juga mempengaruhi pemahaman dan
kesadaran para anggota dalam berkoperasi. Tegasnya, para anggota koperasi semakin mengerti bahwa selain sebagai pemilik koperasi (owners),
mereka juga sebagai pengguna koperasi (users).346
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
PROSPEK PASTEURISASI
Kekuatan utama usaha koperasi ini, adalah menampung, mengolah,
serta memasarkan susu sapi produksi anggotanya. Termasuk di dalamnya menyediakan kebutuhan anggota bagi menunjang produksi
susu. Kondisi tersebut dapat tergambar dari kinerja usaha koperasi
dari waktu ke waktu, yang menunjukkan perkembangan cukup signifikan. Kondisi tersebut dapat dilihat pada perkembangan volume usaha
unit susu, pakan dan pasteurisasi yang dari waktu ke waktu yang terus
meningkat (lihat tabel 2).
Mengapa unit usaha pasteurisasi sangat prospektif? Karena sejalan
dengan  s emakin meningka tnya  ke s ada r an ma sya r aka t   t e rut ama  di
perkotaan. Mereka mengetahui benar, meminum susu sapi segar adalah
upaya sangat baik bagi peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat.
Namun demikian, walaupun sudah memproduksi cukup banyak atau
sekitar ribuan kantung susu pasteurisasi per hari, ternyata masih ada
kendala. Yaitu, pihak koperasi
belum memiliki izin resmi dari
Dinas Kesehatan. Alasan Dinas Kesehatan setempat, proses
pengolahan susu tersebut dianggap masih kurang memiliki
peralatan standar seperti yang
telah ditetapkan oleh instansi
terkait atau Departemen Kesehatan.
Mengacu pada keragaan
tabel 2,  pe r lu dikemukakan
sejak 2003 koperasi mendirikan unit usaha simpan pinjam
( U S P ) .   K i n e r j a n y a   c u k u p
baik. Artinya, walaupun volume  us ahanya  ma s ih  s e r a -
tusan juta per tahun, tetapi sisa
h a s i l   u s a h a n y a   t e r g o l o n g
paling besar. Maksudnya, USP
dapat berperan sebagai unit usaha pendukung yang paling prospektif.
Sebagai gambaran, SHU koperasi pada tahun 2003-2005 sebagian besar
diantaranya (lebih dari 50 persen) disumbang oleh USP. Sedangkan usaha
yang belum memberikan kontribusi terhadap SHU adalah pengadaan
pedet.
Selain itu, ada kenyataan bahwa akhir-akhir ini jumlah anggota yang
aktif berkurang. Hal ini disebabkan kepemilikan jumlah sapi yang kurang
efisien untuk setiap anggota. Penyebab lainnya, rata-rata umur sapi yang
semakin tua sehingga produktivitasnya menurun.
Namun demikian secara keseluruhan, volume usaha unit susu pada
Produk olahan susu sapi
yang siap dipasarkan.
Irsyad Muchtar347
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Tabel 2. Perkembangan Usaha (dalam juta)
Uraian 1996-1999 2000-2002 2003 2004 2005
1. Jumlah Usaha 5 Unit 6 Unit 6 Unit 7 Unit 7 Unit
2. Modal Sendiri 389 463 467 586 649
3. Modal Luar 750 1.450 2.450 3.310 4.710
4. Volume Usaha
a.  Susu 1.100 2.200 4.010 5.060 5.300
b. Pakan 1.050 1.120 2.100 2.730 3.010
c. Kredit Sapi 87 92 75 79 61
d. Pedet 195 210 188 263 187
e. Pasteurisasi - - 113 116 185
f. Waserda 89 105 121 109 133
g. USP - - 103 127 139
5. SHU 50 58 85 112 124
Tabel 3.
Aktiva dan Passiva Tahun 2004 dan 2005
Uraian 2004 2005
Aktiva
1. Aktiva lancar 4.170,09 3.989,69
2. Investasi Jk Panjang 28,24 28,30
3. Aktiva Tetap 1.021,91 1.281,72
4. Aktiva lain-lain 39,07 89,23
5. Aktiva Titipan 1.515,79 1.545,13
6. Kewajiban Titipan 3.399,88 3.533,81
Passiva
1. Kewajiban Lancar 1.352,17 1.132,96
2. Kewajiban Jangka Panjang 1.461,19 1.751,66
3. Kekayaan Bersih 586,52 649,19
Total Aktiva-Passiva 3.399,88 3.533,81
masing-masing kelompok masih terus meningkat. Hal ini tak lain karena
harga susu yang meningkat cukup baik di pasaran. Di sisi lain, adanya
sebagian anggota yang memiliki sapi tergolong cukup banyak. Sekadar
gambaran, tingkat kepemilikan sapi terendah di koperasi ini adalah 2
ekor per anggota. Sedangkan kepemilikan tertinggi adalah 23 ekor per
anggota.
Sementara itu terkait gambaran kinerja keuangan Koperasi Susu Warga
Mulya, secara sekilas dapat dicermati pada tabel 3. Dapat tergambarkan,
dalam dua tahun terakhir kondisi keuangan
koperasi memperlihatkan kecenderungan yang
lebih baik. Maksudnya, dari perbandingan total
j u m l a h   t o t a l   a k t i v a - p a s s i v a   p a d a   2 0 0 5
m e n i n g k a t   d i b a n d i n g   t a h u n   s e b e l u m n y a .
S e d a n g k a n   k e k a y a a n   b e r s i h   y a n g  mamp u
mendukung seluruh kegiatan koperasi juga
meningkat.
TRANSPARANSI
Jika mencermati lebih jeli, koperasi yang
beroperasi di sekitar kaki Gunung Merapi ini
sebenarnya mempunyai sejumlah keunggulan.
Pe r t ama,   a n g g o t a   s a n g a t   t e rg a n t u n g   p a d a
koperasi. Terutama sisi pemasaran susu produk
sapi ke IPS. Kedua, interaksi antara anggota dengan pengelola dan
pengurus terjadi cukup intensif. Baik ketika menyetor susu setiap hari
maupun adanya pertemuan penyuluhan dan diskusi sekurang-kurangnya
4 kali dalam satu bulan.
Ketiga, adanya sikap keterbukaan pengurus dan pengelola koperasi.
Keempat di sisi pengkaderan, pengurus yang akan menggantikan pengurus
lama telah mengalami proses pengkaderan dengan waktu yang cukup348
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Meninjau ketersediaan
pakan ternak.
Irsyad Muchtar
panjang. Kelima, koperasi menyediakan berbagai keperluan anggota. Baik
terkait dengan produksi susu maupun kebutuhan lain, termasuk melayani
jasa keuangan anggota melalui unit USP.
Meskipun begitu, koperasi juga memiliki kelemahan yang perlu
disiasati bersama. Misalnya pasar output produk susu bersifat monopsoni.
Konkritnya, apabila ada masalah di PT Sari Husada selaku pembeli,
maka koperasi mengalami kesulitan memasarkan susu produksi anggota
yang sifatnya harian. Fakta lain menunjukkan, anggota peternak belum
menjadikan profesi peternak sebagai mata pencaharian utama alias masih
melakukannya secara sambilan. Mudah diduga hasilnya menjadi tidak
maksimal.
Solusinya, berbagai langkah pendekatan atau lobi bisnis perlu ditempuh atau bekerjasama dengan kalangan IPS. Sedangkan ke kalangan
anggota juga perlu diupayakan pelatihan atau pendidikan untuk menyadarkan sikap profesional dan martabat sebagai peternak. ***349
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
JAWA TIMUR
Koppontren Utsmani Putukrejo
Gondanglegi, Malang
MERESPON
PERUBAHAN LINGKUNGAN
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Dokumentasi350
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
BERJUANG UNTUK PETANI TEBU
alau seandainya Belanda masih bercokol maka perkebunan tebu
nasibnya tidak seperti sekarang ini. Tidak hanya pemilik modal saja
yang menikmati manisnya tebu tapi juga petani tebu pribumi juga
sekarang merasakan manisnya tebu. Petani tebu di Putukrejo Gondanglegi
ketagihan menanam tebu karena telah merasakan manisnya tebu setelah
bergabung dalam Koppontren Usmani.
Koppontren Utsmani berada di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten
Malang bagian dari 33 kecamatan di wilayah Kabupaten Malang dengan
jumlah penduduk 70,637 jiwa yang terdiri dari 34,215 laki-laki, 36,422
perempuan. Potensi tanaman tebu di Kabupaten Malang tersebar di
beberapa kecamatan seluas sekitar 25.000 hektare. Produksinya di
Gondanglegi mencapai 255.603 ton/tahun, Jabung 97.229 ton per tahun,
Bululawang mencapai 128.990 ton/tahun, Ngajum 63.830 ton/tahun, serta
di Kecamatan Bantur 72.645 ton setiap tahun. Mayoritas petani tebu
dengan tanah yang tidak terlalu banyak, menyebabkan petani tidak dapat
memproduksi tebu dengan maksimal dan akhirnya terlibat dalam lingkar
kemiskinan.
Sejarah mencatat perkebunan tebu merupakan usaha kolonial untuk
memenuhi pasar dunia. Sejak zaman pendudukan Jepang pasar dalam
negeri makin berkembang sedangkan pasar luar negeri semakin kecil.
Dalam hal komoditi tebu di Jawa, tanaman tebu rakyat mulai berperanan
besar menyumbang pada produksi gula merah (gula mangkok) baik untuk
kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Pada tahun 1975 pemerintah
yang mulai pusing mengelola industri gula di Jawa membuat putusan
mengagetkan dengan Inpres No. 9/1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi
(TRI) yang melarang pabrik-pabrik gula (pemerintah maupun swasta)
menyewa lahan milik petani. Semua tanah sawah dan tanah kering harus
ditanami tebu rakyat karena tanaman rakyat dianggap lebih unggul khususnya secara ekonomis dibanding tanaman perkebunan besar/pabrik, dan
yang paling penting pemerintah ingin menghilangkan konflik-konflik yang
selalu terjadi antara pabrik-pabrik gula dan rakyat pemilik tanah. Kebijaksanaan TRI ini gagal total karena mengabaikan kenyataan pemilikan
tanah rakyat yang sudah sangat sempit, yang mempunyai pilihan (alternatif)
untuk ditanami padi. Tebu sebagai bahan baku untuk gula harganya ditetapkan pemerintah, sedangkan untuk padi tidak, maka di mana pun petani
memilih menanam padi. Akibatnya tujuan untuk menaikkan produksi dan
produktivitas tebu tidak tercapai (produksi gula merosot), dan Inpres TRI
ini dicabut pada tahun 1998 setelah sangat terlambat, dan membuat kerusakan besar pada industri gula di Jawa.
Dalam kondisi semacam itu mulai muncul keinginan agar petani tebu
dapat berproduksi dengan standar baik dengan perlakuan memadai. Bahan
pupuk dan pestisida sangat diperlukan petani tebu agar panen tebu sesuai
keinginan pabrik gula dan harganya memadai. Pesantren yang selama ini
selalu berhubungan dengan masyarakat sekeliling terutama petani tebu
berinisiatif mendirikan koperasi agar menjadi jembatan yang baik untuk
K351
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
petani dan pabrik tebu PG Krebet. Konflik kepentingan petani tebu dan
pabrik tebu dapat dikurangi dengan pemecahan pabrik tebu mencarikan
kredit ke bank untuk jaminan produksi bagi petani tebu. Dengan status
Badan Hukum No.09/BH/KDK.13.13/X/1998 maka koperasi Usmani
dapat menjembatani kepentingan petani tebu.
Petani tebu yang selama ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan
kredit akhirnya mendapat kredit melalui koperasi. Koperasi bernegosiasi
dengan pabrik gula untuk mengkoordinasi petani tebu untuk mendapatkan
fasilitas kredit, pupuk dan pestisida. Petani tebu mendapatkan kemudahan
yang sebelumnya sulit diperoleh karena jumlah tanah yang dimiliki juga
semakin sempit. Peran kiai memudahkan dalam proses perjanjian dengan
pihak pabrik gula. Kepercayaan lembaga pesantren mengakibatkan petani
tebu mengorganisasikan dalam kopontren agar mudah dalam mencapai
kepentingan bersama yaitu kredit lunak untuk produksi tebu. Kepercayaan
petani tebu dan pihak pabrik gula memudahkan kerjasama saling menguntungkan dalam bidang ekonomi dengan menggunakan ketokohan kiai sebagai pemuka agama. Akhirnya Koppontren Utsmani yang beralamat di
Kantor Jalan Sunan Ampel 02 B Putukrejo Gondanglegi Malang menjadi tempat para petani
tebu bergerak menanam
tebu dengan lebih baik.
KEPENTINGAN ANGGOTA
Kekuatan Koppontren Utsmani adalah memfokuskan usaha pada
kepentingan anggota yang kebanyakan petani tebu. Jenis usaha kopontren
sesuai dengan lapangan pekerjaan anggota yaitu petani tebu. Koperasi
juga  mengandalkan hubungan
baik antara petani, kiai dan pabrik
gula dengan melakukan administrasi yang tertib. Koppontren
tidak tergesa-gesa untuk memperluas jenis usaha dan memfokuskan pada pendapatan yang
tetap. Koppontren mendapat fee
dari tiap kilogram tebu dan pupuk
sehingga operasional koperasi
dapat berjalan baik dengan SHU
yang relatif besar bagi anggota
koperasi. Jenis usaha yang belum
beranjak  dari tebu sebagai komoditi memang tidak besar tapi
merupakan awal koperasi untuk
memperluas usaha dengan bukti
semakin banyaknya anggota koperasi mulai dari 70 orang pada tahun
2001 menjadi 120 orang pada tahun 2005.
Tabel 1. Struktur Permodalan Kopontren Utsmani
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
Modal Luar 527,000,000 563,444,000 679,900,000 790,910,000 810,690,000
Modal Sendiri 28,600,000 32,405,000 35,890,000 37,890,000 49,000,000
Grafik 1. Perbandingan Modal
900.000.000
800.000.000
700.000.000
600.000.000
500.000.000
400.000.000
300.000.000
200.000.000
100.000.000
0
2001 2002 2003 2004 2005
Modal Luar Modal Sendiri352
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
PENGELOLAAN DANA
Koppontren Utsmani adalah komposisi modal yang terlalu banyak
modal luar dibanding modal dalam. Modal luar kopontren Usmani tahun
2005 adalah sebanyak Rp 810,7 juta sedangkan modal dalam adalah Rp
49 juta. Koppontren mendapat kepercayaan untuk mengelola dana luar
yang berupa kredit untuk pendukung penanaman tebu para anggota seperti
terlihat pada Tabel 1.
Simpanan pokok anggota meningkat seiring dengan pertambahan
a n g g o t a   k o p e r a s i   s e p e r t i   t e r l i h a t   d i   Gr a f i k   1   d a n   2.   P e n i n g k a t a n
k e a n g g o t a a n   s e i r i n g   d e n g a n   k e p e r c a y a a n   a n g g o t a   k o p e r a s i   u n t u k
bergabung di koperasi.
 Terlihat pada Tabel 2 tingkat keuntungan koppontren Ustmani menurun. Kemampuan koperasi membayar hutang dan membayar kewajiban
jangka pendek menurun tapi tidak terlalu besar.
Kebangkitan koperasi pesantren sebagai wadah petani tebu untuk
memperbaiki kehidupan dengan mendapat fasilitas kredit sesuai dengan
prinsip kebersamaan. Petani tebu merasa nyaman menyatukan aspirasi
ekonomi melalui koperasi untuk mendapat dana bagi kelangsungan tebu
yang menjadi andalan kehidupan. ***
Grafik 2. Perkembangan Simpanan Pokok
2001 2002 2003 2004 2005
12.000.000
10.000.000
8.000.000
6.000.000
4.000.000
2.000.000
0
Tabel 2. Analisis Rasio Koppontren Utsmani
Uraian 2001 2002 2003 2004 2005
RENTABILITAS 5,07 4,92 0,04 0,39 0,04
LIKUIDITAS 276 222 254 235 235
SOLVABILITAS 251 224 133 129 129353
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
SUMATERA BARAT
KUD VII Koto Talago I,
Lima Puluh Kota
JALAN PANJANG
MEMBELA  ANGGOTA
Dokumentasi354
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
udaya arisan telah lama dikenal di nusantara ini. Bahkan dari kegiatan
masyarakat tersebut banyak yang meningkat menjadi kelompok
usaha yang permanen. Semisal dengan membentuk sebuah koperasi.
Tidak sedikit koperasi berkembang berawal dari sebuah kegiatan bernama
arisan. Demikian cikal bakal KUD Koto Talago yang berdomisili di desa
Tanjung Jati kecamatan Guguk, Kabupaten Lima Puluh Kota (sekitar 17
km sebelah utara Kota Payahkumbuh).
Awalnya kegiatan arisan seminggu sekali beranggotakan 18 orang
yang berprofesi sebagai pedagang kecil dan petani, bersepakat menjadikan kelompok arisannya berubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam
(KSP). Tepatnya keinginan itu terwujud pada 15 September 1953 dengan
nama KSP Sejahtera. Modal dihimpun untuk kegiatan koperasi disepakati
simpanan pokok sebesar Rp 25 dan simpanan wajib Rp 250 per minggu.
Yang melatar belakangi kelahiran KSP Sejahtera ini lantaran di desa
Tanjung Jati dan sekitarnya, bila orang ingin membutuhkan permodalan
untuk meningkatkan usahanya sangat sulit. Akhirnya para pedagang kecil
hanya dapat menggantungkan pada rentenir yang mematok bunga tinggi.
Biasanya praktek yang digunakan si rente ini bila calon nasabahnya
memiliki jaminan yang menghasilkan, misalnya pohon kelapa, kolam
sawah dan lainnya yang biasanya disebut Pagang Gadai.
Tidak sedikit para petani dan pedagang kecil yang terjerat oleh
para rentenir. Dengan menyerahkan agunan berupa tanaman/pohon tua
yang menghasilkan kepadanya tanpa mendapatkan bagian sedikitpun.
Berangkat dari tekad untuk melepaskan diri terhadap praktik sistem ijon
dan rentenir yang sangat menjerat, mereka kemudian bersatu padu
membangun koperasi simpan pinjam.
Situasi pergolakan PRRI tahun 1958 yang sampai di desa Tanjung
Jati menyebabkan koperasi ini tidak dapat melakukan kegiatannya sampai
pada pertengahan 1960. Baru, setelah kondisinya aman pada 16 September 1960 koperasi mengadakan rapat anggota. Tujuannya, ingin mengaktifkan kembali kegiatan sekaligus menunjuk pengurus lama tetap sebagai
pengurus.
Pada 1962 koperasi ini memperoleh Badan Hukum Nomor 7116 dan
berubah nama menjadi Koperasi Sejahtera Tanjung Jati. Pada 1969 demi
alasan penyesuaian dengan kondisi saat itu dan kepentingan anggota nama
koperasi berubah lagi menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Sejahtera
Tanjung Jati. Selang kurang lebih 18 tahun namanya kembali menyublim
dan berganti menjadi KUD VII Koto Talago II Tanjung Jati.
PERJUANGAN 45 TAHUN
Adanya komitmen tinggi dan visi yang sama antara pengurus, pengawas dan anggota bahwa pembentukan koperasi merupakan satu-satunya
jalan keluar untuk mengatasi permasalahan yang ada cukup nyata. Terbukti
koperasi telah berhasil mengentaskan anggotanya terbebas dari jeratan
rentenir dan ijon. Perjalanan panjang koperasi yang lebih dari setengah
abad ini pantas mendapatkan apresiasi.
B355
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
Warung sembako milik
KUD VII Koto Talago.
Koperasi yang telah melampaui tiga zaman ini tetap eksis menjalankan
usahanya. Ada enam unit usaha yang menjadi pilar ekonomi anggota dan
masyarakat sekitarnya. Yakni, USP, unit jasa wartel dan kolektor listrik,
waserda, RMU, jasa penggilingan jagung dan Unit Trading (Pengadaan
Jagung, Pangan)
Atas kerja keras semua komponen koperasi, terutama komitmen
pengurus yang kuat membawa misi kesejahteraan, akhirnya pada 1989
KUD VII Koto Talago Tanjung Jati dinobatkan sebagai KUD Mandiri
oleh Menteri Koperasi. Prestasi itu dapat dipertahankan sehingga pada
1991 kembali memperoleh penghargaan KUD Mandiri Terbaik Tingkat
Nasional.
Kegiatan USP selalu yang favorit sejak tahun 1953. Pengurus telah
berusaha meningkatkan kemampuan dalam melayani anggota. Atas
komitmen yang tinggi tersebut, permodalan koperasi makin mudah
diakses oleh anggota yang sebagian besar berprofesi petani dan pedagang.
Pada 2003 Kementerian Koperasi dan UKM memberikan bantuan
dana bergulir program khusus untuk KUD yang bergerak di sektor agribisnis
sebesar Rp 1 miliar. Perkembangan modal pada tahun buku 2005 mengalami
peningkatan dibanding tahun sebelumnya (lihat tabel I).
Tabel 1. Perkembangan Simpanan Anggota
No. URAIAN 2005 2004
1. Simpanan Wajib 198.157.822 169.876.3114
2 Simpanan Sukarela 848.504.524 727.437.100
Jumlah Modal Sendiri 1.046.662.346 897.313.414
3 Pemberian pinjaman 2.705.735.000 2.528.850.00
4 Jasa pinjaman 94.440.940 51.690.778
5 Jasa Bank 2.190.523 163.600
Dokumentasi356
Koperasi di Tengah
Lingkungan yang Berubah
No Uraian 2003 2004 2005
1. Simpanan Pokok 1.264.000 13.015.100 13.607.900
2. Simpanan Wajib 142.290.917 169.876.314 198.157.822
3. Simpanan Konsumsi 64.727.716 79.924.394 95.241.756
4. SImpanan Wajib Usaha 5.413.433 6.076.229 30.216.480
5. Cadangan 226.079.143 226.079.143 264.438.973
6. Donasi 22.695.000 22.145.000 22.145.000
7. SHU Tahun Berjalan 6.630.571 16.618.108 22.836.233
Jumlah 468.100.780 533.734.288 646.644.164
Pengelolaan manajemen KUD VII Koto Talago II diserahkan tim
pengurus dengan masa jabatan tiga tahun terdiri dari lima orang, (Ketua,
Waki l  Ke tua ,  Sekr e t a r i s ,  Waki l  Sekr e t a r i s  dan Bendaha r a ) .  Untuk
memperlancar jalannya operasional usaha, koperasi mempekerjakan 16
orang karyawan. Kegiatan usaha ini selalu dipantau secara periodik oleh
badan pengawas yang beranggotakan tiga orang.
 Selain mempunyai komitmen tinggi, pengurus juga selalu berusaha
melaksanakan amanah dengan mengeluarkan segala kemampuannya. Ada
beberapa strategi di antaranya dengan memegang teguh asas selektivitas.
Dengan prinsip ini SDM yang dimiliki koperasi lumayan baik.
Jumlah keanggotaan KUD VII Koto Talago dari tahun ke tahun
menunjukkan peningkatan, walaupun prinsip selektivitas dalam penerimaan
anggota baru makin diperketat. Perkembangan keanggotaan yang tidak
membatasi hanya satu desa tetapi berasal dari desa lain membawa dampak
positif. Jumlah anggota pada tahun 2003 adalah 1.264 orang. Terjadi
peningkatan 5,6% pada tahun 2004 menjadi 1.335 orang dan di tahun 2005
berjumlah 1.390 orang dengan bertambahnya anggota 4%.
Untuk merangsang kreativitas anggota, pengurus kerap memberikan
insentif dalam bentuk kesejahteraan. Di antaranya pemberlakuan bunga
tidak terlalu tinggi atau standar dengan bank konvesional. Saat momenmomen penting seperti hari Idul Fitri, koperasi juga memberikan THR,
dana sosial berupa santunan duka cita dan bea siswa.
KINERJA
Guna mengetahui sejauh mana kinerja koperasi dan prestasi yang
telah dicapai oleh KUD, dapat dilihat pada tabel 2.
Mengacu pada keragaan tabel di atas, menunjukkan adanya perkembangan pada tiga tahun terakhir. Jumlah simpanan wajib dan simpanan
wajib usaha menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Hal
tersebut sebagai indikator tingkat partisipasi aktif anggota yang cukup baik.
Demikian pula pada penyisihan SHU, yang pada tahun buku 2005
mengalami peningkatan hampir empat kali lipat dibanding tahun buku
sebelumnya.***
Unit RMU masih menjadi
andalan KUD VII Koto Talago.
Tabel 2.
Kekayaan
Bersih
Dokumentasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar